ITU JURNALISME ALKOHOL, KATA HARMOKO Sebuah artikel IHT dituding menghina Kepala Negara RI

ITU JURNALISME ALKOHOL, KATA HARMOKO Sebuah artikel IHT dituding menghina Kepala Negara RI

 

 

Jakarta, Editor

MENPEN Harmoko amat gusar, Jumat pekan silam. Selepas membuka pameran “World Press Photo” di Erasmus Muis, Jakarta, Harmoko menuding harian International Herald Tribune telah menghina Kepala Negara RI dalam salah sebuah tulisannya. “Berita itu menghina Kepala Negara. Dan dengan begitu , otomatis, menghina bangsa Indonesia.”

Artikel yang dimaksud dimuat Internasional Herald Tribune (IHT), edisi 12 November 1990 pada halaman depan empat hari sebelum Harmoko bereaksi. Berjudul “Suharto’s Indonesia: A Family Toll Mahal”, artikel yang ditulis wartawan Steven Erlanger dari New York Times Service itu-selain muncul di IHT juga dimuat oleh harian­harian berpengaruh, The New York Times, AS dan De Volkskrant, Belanda-dipublikasikan nyaris berbarengan dengan awal lawatan Presiden Soeharto tengah ke Jepang, Cina dan Vietnam. Apa isi artikel Steven itu?

Tulisan itu, antara lain, bercerita mengenai jalan tol di Jakarta. “Itu jalan tol milik Tutut,” tulis Steven mengutip seorang pengusaha warteg, yang mangkal di sekitar jalan tol Cawang-Tanjung Priok. Ia juga mengutip ucapan seorang pejabat, “Jika India punya Taj Mahal , kita punya Tol Mahal.” Tol Mahal inilah yang lalu dijadikan judul berita.

Dan ada dua hal penting yang menjadi kesimpulan artikel IHT itu. Pertama, bahwa Presiden Soeharto akan mencalonkan diri atau tidak pada pemilihan Presiden mendatang, lebih ditentukan oleh pertimbangan siapa yang akan memberi jaminan perlindungan atas kelangsungan bisnis anak-anaknya, ketimbang pertimbangan kenegaraan. Yang kedua, menyebut bahwa Presiden telah mengkhianati etos revolusi karena tidak bisa lagi membedakan kepentingan anggota keluarganya sendiri dengan kepentingan negara. Ia menutup artikelnya dengan satu dugaan, bahwa Preside n Soeharto tak ada pilihan lain kecuali tetap di puncak kekuasaan.

Memang, ada cacat dalam artikel di IHT itu. Misalnya, terasa Steven tidak mencoba memberi tempat kepada sumber-sumber resmi yang ia kritik. Jadi, artikel itu tidak balance dan amat opinionated. Karena itulah, menurut penilaian Menteri Penerangan, tulisan tadi, “Persis sama dengan semangat tulisan David Jenkins di Sydney Morning Herald dulu.”

Seperti tulisan di IHT artikel David Jenkins di Sydney, Morning Herald (SMH), Australia 10 April 1986 itujuga dinilai menghina pribadi Kepala Negara dan keluarganya. Dan empat tahun silam, hubungan RI-Ausiral ia sempat terganggu gara-gara tulisan yang menyebutkan seolah-olah ada usaha dari beberap a orang dekat Pak Harto untuk menanamkan modalnya di sejumlah perusahaan yang membuahkan untung besar itu.

“Isinya jela s merugikan dan mencemarkan nama baik Kepala Negara ,” komentar Menko Sudomo terhadap tulisan IHT itu. Dan begitu tahu ada artikel itu, Sudomo langsung melakukan koordinasi dengan Dirjen PPG (Pembinaan Pers dan Grafika), Departemen Penerangan. Sebab kalau bereaksi berlebihan, katanya, “Kelihatan jadi penting, dan tulisan itu makin dicari-cari orang.”

Steven Erlanger ketika dihubungi EDITOR di Bangkok lewat telepon, menyatakan heran dan menyesal atas reaksi Menpen.

“Apalagi yang saya mau bilang, semua itu merupakan hasil wawancara dengan banyak sumber di Jakarta,” katanya. Menurut Steven, artikel tadi merupakan hasil peliputannya selama tiga minggu berkunjung ke Indonesia (akhir September hingga pertengahan Oktober lalu) dengan mewawancarai beberapa pejabat tinggi, kalangan bisnismen, dan tentu saja orang-orang biasa. Ia menyatakan, dari berbagai sumber itu, semua menyatakan hal yang sama seperti yang ia tulis.

Steven, boleh saja merasa benar. Tapi, Menteri harmoko menilai tulisan Steven sebagai “jurnalisme alkohol”. Sebab, kata Harmoko, “Mungkin berita itu ia dapat di bar sambil minum-minum, tanpa chek and rechek.”

Steven Erlanger, 38, sudah 14 tahun bergelut di dunia jumalistik. Begitu lulus dari Harvard College (studi Ilmu Politik dan Pemerintahan), 1974, ia langsung bekerja di Niewman Foundat ion Journalism di Harvard sambil kuliah di universitas yang sama. Pada tahun 1976 dia bergabung dengan harian Boston Globe sambil mengajar Ilmu Pemerintahan di Kennedy School of Government, Harvard. Sibuk sebagai redaktur Nasional dan Internasional Boston Globe, ia berhenti mengajar. Dan kini ia koresponden senior untuk wilayah Asia Tenggara The New York Times yang bermarkas di Bangkok, Muangthai.

Menurut Menpen, jika ada berita di koran asing menjelekkan dan menghina kepala negara atau keluarganya, distributomya harus cepat melapor ke Deppen. “Distributor bertugas mem-black-out berita yang mendikskreditkan Kepala Negara dan bangsa,” tegas Menpen. Karena itu·Harmoko menjamin distributor IHT akan ditindak sesuai dengan hukum.

 

 

Sumber : EDITOR (24/11/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 410-412.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.