ITB AJUKAN EMPAT NAMA UNTUK REKTOR BARU

ITB AJUKAN EMPAT NAMA UNTUK REKTOR BARU[1]

 

Bandung, Antara

Institut Teknologi Bandung (ITB) telah mengajukan empat nama untuk jabatan rektor kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk menggantikan Prof. Wiranto Arismunandar yang sejak awal Januari 1997 habis masa jabatannya.

 “Nama-nama itu sudah kami sampaikan kepada Mendikbud tanggal 7 Januari 1997, dan kini kami menantikan keputusan Presiden,” kata juru bicara Senat Guru Besar ITB Dr. Bana G. Kartasasmita di Bandung, Kamis.

Keempat nama tersebut adalah Prof. Dr. Ir. M. Sahari Besari, Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto, Dr. Ir. Bambang Bintoro Soedjito, dan Prof. Dr. Ir. Lilik Hendradjaya M.Sc Senat Guru Besar ITB, katanya, telah memproses nama-nama yang masuk dalam suatu rapat pada 18 September 19960.

Kala itu, menurut dia, terdapat pula nama-nama Prof. Dr. Ir. Budhy Tjahyati Soegiyoko (Deputi Ketua Bappenas bidang Kerja Sama Ekonomi Luar Negeri), Dr Ir. Indra Djati Sidi (Pembantu Rektor ITB 1993-1997) dan Dr. Gde Wiriadnyana Merati (Ketua Lembaga Penelitian ITB).

Bana Kartasasmita mengemukakan, bagi ITB siapa pun yang kelak ditetapkan Presiden Soeharto menjadi rektor, hendaklah yang mempunyai visi ke depan karena ITB dan bangsa Indonesia kini sedang memasuki era globalisasi.

“Organisasi ITB memerlukan pimpinan yang tepat supaya lincah dan tanggap dalam menghadapi perubahan-perubahan yang berlangsung cepat,” katanya.

ITB, lanjut Bana, tengah ikut memajukan Iptek dunia lewat jaringan kerja sama Internasional, di samping terus mengembangkan diri sebagai lembaga pendidikan sains dan teknologi bagi kepentingan nasional serta guna mengangkat kemampuan masyarakat luas.

Bana mengemukakan, calon-calon yang masuk dan keempat nama yang kemudian diajukan Senat Guru Besar ITB adalah orang-orang dalam ITB, dalam arti gelar kesarjanaan stratum satunya diperoleh dari ITB, sedangkan gelar doktornya kecuali Dr. Kuntoro, diraih di luar negeri.

Doktor Kuntoro Mangkusubroto adalah “varietas lokal”, katanya, karena meraih gelar doktor ilmu keputusan (manajemen) di ITB.

Kuntoro yang kini Dirjen Pertambangan Umum, juga dosen senior di jurusan Teknik Industri ITB. Karirnya sebagai dosen dimulai sejak 1972, kemudian ITB pada tahun 1983 memperbantukannya ke Sekertariat Negara.

Di birokrasi, Kuntoro menanjaki karirnya bergulir dari Setneg menjadi Dirut PT. Tambang Batubara Bukit Asam (1988-1989), kemudian menjadi Dirut PT. Tambang Timah (1989-1994).

Ia lalu menjadi Dirjen Pertambangan Umum sejak 1994 sampai sekarang. Kuntoro juga anggota MPR tahun 1993-1998, anggota Dewan Riset Nasional sejak tahun 1994 dan anggota Dewan Pembina Persatuan Insinyur Indonesia masa bakti 1994-1999.

 

Pakar Struktur

Prof. Dr. Ir. M. Sahari Besari adalah Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITB dan pernah menjadi Dekan FTSP ITB.

Dari 1971 hingga 1996, sedikitnya Sahari telah menulis dan mempublikasikan 44 karya ilmiah di dalam dan luar negeri, terutama yang berkenaan dengan konstruksi beton bertulang.

Ia adalah perencana dan perancang bangunan-bangunan beton bertulang di kompleks PT. IPTN Bandung, PT.  PAL Surabaya dan Fakultas MIPA UI Depok serta menjadi Ketua Tim Perencanaan Awal Jembatan Layang Pasteur-Cikapayang Bandung.

 

Jago Runding

Doktor Ir. Bambang Bintoro Soedjito MRP, selain menjadi Guru Besar Fakultas Teknik Planologi (FTSP) ITB, juga menjabat selaku Deputi Ketua Bappenas bidang Prasarana. Ia mengawali karir sebagai dosen di ITB sejak 1968 dan pada 1989 sampai 1990 menjadi Pembantu Dekan I FTSP.

Sebagai planolog, ia banyak menulis karya-karya ilmiah dalam majalah yang diterbitkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Wilayah Kota (P3WK) ITB.

Bambang diperbantukan ITB ke Bappenas sejak 1990 dan di tempat itulah ia menampakkan diri sebagai juru runding yang andal.

Ia, misalnya, memimpin perutusan RI dalam perundingan dengan pihak Bank Pembangunan Asia (ADB) tahun 1995. Hasilnya adalah pinjaman dari ADB untuk Indonesia guna membangun sarana penerangan di Sumatera dan Jawa Barat.

Sebagai ketua delegasi RI, Bambang pun pada 1996 berhasil mendapatkan pinjaman dari Bank Internasional untuk Rekontruksi dan Pembangunan (IBRD). Dana itu digunakan pemerintah untuk pembangunan prasarana perkotaan dan program efisiensi perkeretapiaan.

 

Wibawa Seroja

Prof. Dr. Ir. Lilik Hendradjaja Msc, kini menjabat selaku Pembantu Rektor II ITB (1993-1997) dan sebagai Guru Besar Fisika pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB.

Gelar doktomya ia peroleh di Australia, sedangkan gelar Master of Science (MSc) di bidang Administrasi Perguruan Tinggi, ia peroleh di Uttah, AS.

Lilik adalah peraih penghargaan Wibawa Seroja Nugraha sebagai peserta terbaik dalam kursus di Lemhanas tahun 1991. Sebelum berada amat dekat dengan Rektor Wiranto, ia adalah Pembantu Dekan III pada FMIPA ITB. Keahlian Lilik terutama adalah ilmu fisika dan geofisika. Ia banyak menulis tentang gempa bumi di Indonesia, di samping antara lain meneliti aspek geofisika letusan Gunung Galunggung di Jawa Barat awal 1980-an.

(U.BDG-004/BDG-001/17:25/B/DN06/30/01/9718:04/rbl)

Sumber: ANTARA (03/02/1997)

__________________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 730-733.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.