ISYARAT DAN TANDA-TANDA DARI PRESIDEN

ISYARAT DAN TANDA-TANDA DARI PRESIDEN

 

 

Jakarta, Merdeka

Akhir-akhir ini seringkali ucapan dan pidato Presiden Soeharto membersitkan satu nuansa politis strategis. Sewaktu membuka Perkemahan Wirakarya Nasional 1990 di Purbalingga, Jawa Tengah, Sabtu, Presiden menegaskan generasi yang tidak membuat sejarah, yang tidak melakukan karya-karya besar akan hilang ditelan waktu.

Diungkapkannya bahwa para pendahulu kita, para pendiri Republik ini dicatat oleh sejarah karena mereka telah melakukan karya-karya besar. Hanya dengan karya-karya besar suatu generasi akan dicatat oleh sejarah. Dengan melakukan karya-karya besar suatu generasi membuat sejarah.

Dalam kaitan dengan masalah tersebut secara empiris historis pada umumnya suatu karya besar yang dicatat sejarah lebih banyak bersifat inmaterial. Misalnya seluruh umat manusia atau bangsa dimana pun akan selalu hormat dengan Presiden AS Abraham Lincoln yang gagasannya dan pandangannya sangat mulia, yakni anti perbudakan.

Semua orang pun akan selalu teringat pada Thomas Jefferson karena gagasan dan pandangannya yang tertuang dalam Decla ration of Independence. Begitu pula lah setiap orang akan mengenal yang namanya Karl Mark terlepas dari suka atau tidak, karena pandangannya yang disebut Marxisme.

Dan yang paling barn setiap orang akan selalu menyebut-nyebut istilah Pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev dengan glasnost, prestroika dan demokratzia-nya. Dan khususnya di dalam negeri kita sendiri setiap orang akan sangat sulit melupakan Bung Karno (terlepas suka atau tidak) dengan Pancasilanya.

Bahwa ada karya besar yang bersifat kebendaan yang dikenal sebagai keajaiban dunia memang benar, tetapi karya besar seperti itu dari sisi lain bukan hanya sekedar menggambar keluhuran dan ketrampilan bangsanya. Namun juga tergambar suatu perbudakan dan pengorban an piramid manusianya.

Misalnya Sphinx di Mesir atau candi Borobudur di Indonesia dari sisi lain bukan hanya menggambarkan kesehatan rakyat dan bangsanya semata-mata.Tetapi mencuatkan satu pertanyaan berapa jumlah korban manusia yang harus diberikan untuk pembangunan kedua keajaiban dunia tadi.

Lagi pula pada suatu saat karya-karya besar yang bersifat kebendaan akan ditelan masa. Didalamnya tidak terkandung suatu nilai keabadian atau kelanggengan. Berbeda dengan suatu gagasan atau pandangan, dia akanjauh menjangkau cakrawala, mang dan waktu.

Begitu pula misalnya dengan gagasan almarhum Bung Hatta dengan ide koperasinya. Dengan penalaran historis empiris seperti itulah asumsi suatu karya besar harus selalu bersifat material tampaknya kurang relevan.Karya besar yang bemilai historis pada hakekatnya memiliki nuansa politis yangjauh menjangkau ke masa depan.

Manusianya atau generasinya boleh hilang, lenyap, digantikan generasi kemudian. Tetapi ajaran, gagasan dan pandangan hidupnya akan selalu tetap bersama perjalanan waktu dan ruang.Inilah nilai-nilai intrinsik suatu karya besar yang tidak bersifat material. Yang notabene juga bersifat impersonal.

Dalam kerangka untuk membuat karya-karya besar yang bersejarah tentu saja setiap orang hams pandai membaca aspirasi ruang dan waktu. Artinya suara hati nurani manusia pada suatu kurunmasa tertentu. Dia harus berusaha menjadi gurunya massa dan masa.

Seringkali kita mendengar imbauan dan anjuran agar setiap orang harus pandai membaca tanda-tanda jaman. Ini artinya,kalau kita pandai membaca tanda-tanda jaman dan berbuat untuknya, niscaya kita bakal mampu membangun karya-karya besar. Suatu karya besar bisa saja berbentuk sikap dan pendirian.

Misalnya bagaimana sikap Nabi Isa Almasih yang bersedia disalib oleh kaum Yahudi sendiri demi masa depan para pemeluknya. Pendeknya,banyak sikap hidup yang terjadi dalam sejarah bangsa-bangsa di seluruh dunia pada masa lampau, bagaimana seorang pemimpin bersedia berkorban demi persatuan dan kesatuan bangsanya.

Sejarah perjuangan kemerdekaan rakyat dan bangsa Indonesia sendiri telah memberikan saripati dan nilai yang amat luhur bagi generasi-generasi selanjutnya. Betapa setiap pengorbanan tanpa pamrih itu selalu menjadi konsekuensi logis, apabila suatu bangsa berkeinginan untuk merdeka.

Karena itu peristiwa bersejarah tersebut selalu dikenang dan dihayati serta selalu diamalkan generasi-generasi selanjutnya. Peristiwa bersejarah itu telah memberikan nuansa yang memiliki nilai keabadian bahwa setiap pengorbanan itu niscaya tidak akan sia-sia.

Bahwa dalam melahirkan karya-karya besar bemilai sejarah setiap orangjuga berkeinginan merupakan bagian integral dari hari esoknya itu sendiri, merupakan suatu hal yang wajar-wajar saja. Tetapi kalau pun tidak akibat fitrahnya sebagai manusia yang dibatasi ruang dan waktu. Ini artinya suatu karya-karya besar yang bemilai sejarah hanya bisa

dihasilkan oleh manusia-manusia yang idealis, kreatif. Dan manusia­manusia seperti itu hanya bakallahir dari mereka-mereka yang selalu menyatu dengan hati nuraninya rakyat dan bangsanya. Yang kadar penghayatan jauh melebihi manusia-manusia lainnya.

Benar seperti apa yang dikatakan Presiden bahwa dunia tempat manusia singgah ini tidak pernah berhenti, berkembang dan mengalami kemajuan. Dunia dan masyarakat mengalami perubahan, perkembangan dan kemajuan berkat karya manusia. Untuk itu bagaimana semua kita mengantisipasinya kenyataan-kenyataan tadi untuk mempersiapkan hari-hari esok yang lebih baik lagi. (SA)

 

 

Sumber : MERDEKA (26/06/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 136-139.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.