IRAN NILAI HUBUNGAN DENGAN INDONESIA SANGAT PENTING

IRAN NILAI HUBUN GAN DENGAN INDONESIA SANGAT PENTIN[1]

 

Teheran, Republika

Kunjungan Presiden Indonesia Soeharto ke Iran yang dijadwalkan berlangsung 23-27 November 1993 dinilai mempunyai arti penting bagi kerjasama politik dan ekonomi kedua negara, baik dalam kerangka hubungan bilateral maupun unilateral, seperti Gerakan Non Blok (GNB). Kementerian Luar Negeri Iran melalui jubirnya, Mahmoud Mohammad menyatakan hal itu di hadapan para wartawan lokal maupun asing, Sabtu (20/11) di Teheran.

Ini bukanlah sekadar penilaian basa-basi. Jauh sebelumnya, Menlu Iran Velayati pada sidang PBB ke-48 di New York telah memuji peranan yang dimainkan Indonesia dalam forum internasional, terutama dalam upaya menghidupkan kembali dialog Selatan-Utara, Selatan-Selatan serta restrukturisasi organisasi PBB.

Karenanya menurut Mahmoud, kunjungan Presiden Soeharto ke Iran yang merupakan kunjungan pertama semenjak revolusi Islam yang dipimpin Imam Khomeini, diharapkan dapat mendorong serta lebih meningkatkan hubungan bilateral kedua negara. Hubungan kedua negara, kata Mahmoud, terus menunjukkan peningkatan. Indonesia dan Iran terus berusaha saling menyelaraskan pandangan politik masing-masing di forum internasional seperti PBB, OKI dan OPEC.

Masalah HAM merupakan contoh di mana Indonesia dan Iran sama-sama menghadapi tekanan negara-negara Barat. Misalnya, masalah Timor-Timur yang merupakan kendala bagi hubungan politik Indonesia dengan beberapa negara, “Bagi Iran itu tidak ada masalah, “ujarnya.

Hubungan  diplomatik Indonesia-Iran  dibuka pada tahun  1950 menyusul pengakuan Iran terhadap kemerdekaan Indonesia. Kerjasama kedua negara baru mulai menunjukkan langkah nyata tahun 1984, ditandai dengan penandatanganan Memorandum Of Understanding (MOU) di bidang ekonomi, perdagangan, penerangan, telekomunikasi, kehutanan, industri, teknologi dalam bidang tenaga atom.

Dalam bidang ekonomi tambahnya, Indonesia dan Iran terus berupaya meningkatkan neraca perdagangan kedua negara . Indonesia memandang Iran sebagai pasar yang potensial bagi ekspor komoditi non-migas nasional. Iran berpenduduk sekitar 60 juta dengan GNP per kapita sebesar 1.600 dolar AS per tahun.

Berkaitan dengan kerjasama ekonomi, Iran, kata Mahmoud, memandang Indonesia sebagai negara berkembang yang telah sukses dalam teknologi dan ekonomi. Selain itu, Iran juga melihat Indonesia sebagai negara yang kuat di Asia Tenggara, terutama dengan organisasi regionalnya ASEAN .Sedang dalam kerangka hubungan yang lebih luas lagi, Indonesia sebagai negara ketua GNB. Dalam konteks inilah Iran telah menunjukkan minatnya untuk menjalin hubungan dagang tripatriate yang terdiri dari Indonesia, Iran dan negara-negara eks Uni Soviet di Asia Tengah yang kaya minyak.

Volume perdagangan antara Indonesia-Iran sendiri memang relatif masih kecil dan surplus bagi Iran. Ekspor Iran ke Indonesia sebagian besar berupa minyak mentah, yang pada tahun 1991 mencapai 127,9 juta dolar AS, sedangkan impor Iran dari Indonesia yang terdiri dari berbagai komoditi hanya sebesar 88,4 juta dolar AS.

Selama ini kedua negara terns mengupayakan peningkatan hubungan dagang antara lain dengan pembentukan komisi bersama ekonomi Indonesia-Iran serta penandatanganan perjanjian dan persetujuan lain oleh para pejabat tinggi kedua negara. Sebagai contoh, Menteri Pos, Telegraf dan Telepon (PPT) Iran Mohammad Gharazi telah memimpin delegasi Iran dalam pertemuan Komisi Bersama Ekonorni Indonesia-Iran (KBEII) kedua yang lalu. Pertemuan KBEII kedua tersebut diadakan selama tiga hari (1-3 November 1993) di Jakarta.

Sumber:  REPUBLIKA(22/11/1993)

___________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 353-354.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.