INVESTASI PERANCIS DI INDONESIA TERUS MENINGKAT

INVESTASI PERANCIS DI INDONESIA TERUS MENINGKAT[1]

 

Jakarta, Antara

Investasi Perancis di Indonesia akan terus meningkat  karena komitmen Pemerintah Indonesia untuk meneruskan langkah-langkah deregulasi yang kian menarik minat para investor yang potensial, kata Dubes Perancis di Jakarta, Thierry de Beauce, Jumat.

Dalam pesannya yang disampaikan kepada ANTARA menyongsong Hari Nasional Perancis 14 Juli, Dubes Thierry de Beauce juga mengemukakan bahwa Perancis dan Indonesia telah berhasil mengembangkan kerja sama di berbagai bidang.

Minat Perancis yang besar untuk meningkatkan kerja sama ekonomi, menurut Dubes, terbukti dengan pertumbuhan perdagangan nya dengan Indonesia yang boleh dibilang seimbang dengan total nilai sekitar 1.550 juta dolar AS.

Investasi Perancis di Indonesia pada 1994 naik 200 persen setelah diluncurkannya berbagai paket deregulasi penting oleh pemerintah Indonesia pertengahan tahun itu, sedangkan pada 1995 nilai investasi Perancis naik lagi sebesar 45 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sejak 1967, total nilai investasi Perancis di Indonesia yang disetujui Badan

Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), termasuk yang melibatkan mitra dari negara­-negara ketiga, mencapai 1.647 juta dolar AS.

Pada periode sama, nilai investasi di bidang perminyakan dan gas serta bidang perbankan mencapai 1.200 juta dolar AS.

“Saya yakin angka tersebut akan semakin meningkat lagi.” ujarnya.

Selain di bidang ekonomi, kerja sama Perancis dengan Indonesia di bidang-bidang lainnya juga terus berkembang sejak 1950 ketika antara kedua negara terjalin hubungan diplomatik.

Perancis merupakan salah satu negara yang pertama-tama mengakui kemerdekaan Republik Indonesia, dan sekarang ini Perancis menjadikan Indonesia sebagai salah satu mitra utama di wilayah Asia.

Saling Kunjung

Pentingnya Indonesia di mata Perancis juga bisa dibuktikan dengan saling kunjung antara pejabat kedua negara, katanya pula.

Ia menunjuk kunjungan Menlu Perancis Herve de Charette ke Indonesia Februari lalu dan pembicaraan bilateral Presiden Jacques Chirac dengan Presiden Soeharto sewaktu menghadiri KIT ASEM di Bangkok Maret lalu.

Kemudian, guna mempersiapkan pertemuan tahunan G-7 di Lyon 22-27 Juni lalu, Bruno Durieux (utusan khusus Presiden Chirac) telah berkunjung ke Jakarta baru-baru ini.

Pertemuan Bruno Durieux dengan Presiden Soeharto, Menlu Ali Alatas dan Menkeu Mar’ie Muhammad dimaksudkan untuk memperkenalkan agenda G-7 dan mengumpulkan pandangan Indonesia antara lain mengenai masalah pembangunan dan hutang.

“Pandangan-pandangan tersebut telah disampaikan kepada negara-negara mitra G-7 dan diperhitungkan sebagaimana mestinya.” kata Dubes Perancis.

Dalam beberapa hari ini, menurut rencana, Menteri Keuangan Perancis Jean Arthuis akan berada di Indonesia untuk membicarakan masalah bilateral dan multilateral dengan pemerintah Indonesia.

Berkaitan dengan pertemuan tahunan para menteri ASEAN dan Forum Regional ASEAN (ARF), Dubes Thierry de Beauce mengatakan bahwa Perancis dengan mengikuti dengan seksama dan penuh perhatian perluasan ASEAN dan peningkatan ARF.

Sumber : ANTARA (16/07/1996)

__________________________________________________
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 354-355.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.