INVESTASI DI LUAR NEGERI TAK SELALU GUNAKAN DANA DALAM NEGERI

INVESTASI DI LUAR NEGERI TAK SELALU GUNAKAN DANA DALAM NEGERI[1]

 

New Delhi, Antara

Kegiatan para pengusaha Indonesia untuk membangun berbagai proyek di luar negeri tidak selalu harus berarti menggunakan dana Indonesia sendiri, seperti yang dikhawatirkan berbagai pihak.

Seusai menghadiri pertemuan para pengusaha anggota G-15 di New Delhi, Senin, Ketua Umum Kadin Indonesia, Abdurizal Bakrie mengatakan kepada pers, pembangunan proyek-proyek di luar negeri bisa saja menggunakan dana pihak ketiga, misalnya, Bank Pembangunan Asia (ADB). Aburizal, yang didampingi Sekjen Sucipto Umar, misalnya, menyebutkan pada forum bisnis ini diperoleh informasi bahwa India setiap tahun memerlukan lima juta satuan sambungan telepon (SST).

Sebagai perbandingan, ia menyebutkan target di Indonesia adalah lima juta SST selama satu Pelita.

“Ketika mendengar peluang itu, yang terbayang pada saya adalah Kelompok Bakrie berpeluang,” kata Aburizal, yang didampingi Wakil Ketua Umum Kadin Indo­ nesia, Iman Taufik. Ketika menyebut peluang-peluang di negara anggota G-15 itu, Aburizal menyebutkan bahwa Indonesia bisa menyediakan jasa manajemen serta rekayasanya.

Sebagai perbandingan, ia menyebut Jepang yang tidak memiliki sumber-sumber tambang, tapi memiliki pabrik pengolahan hasil tambang karena mengimpor barang mentah dan kemudian mengolahnya.

Wakil Ketua Kadin Indonesia, Iman Taufik kemudian menambahkan keterangan Aburizal dengan mengemukakan, yang perlu dilakukan adalah mengubah pola perdagangan dunia yang sudah lama dikuasai negara maju/Utara, antara lain dengan meningkatkan kerjasama bisnis negara berkembang termasuk G-15. Aburizal menyebutkan untuk meningkatkan hubungan bisnis diantara negara­ negara berkembang maka yang diperlukan adalah saling mengenal terlebih dahulu para pengusaha.

“Para pengusaha adalah pelaku kebijaksanaan pemerintah,” katanya, ketika menunjuk pidato Presiden Soeharto pada pembukaan KTI G-15 pagi harinya, bahwa masih terjadi ketimpangan dalam kegiatan ekonomi dan perdagangan internasional yang harus segera dipecahkan.

Setelah berlangsungnya forum bisnis ini, sekitar 25 pengusaha India akan datang ke Indonesia untuk membicarakan lebih lanjut kemungkinan-kemungkinan melaksanakan usaha bersama.

“Ada gula ada semut,”kata Aburizal, ketika ditanya wartawan, apakah ada hambatan seperti jauhnya letak geografis negara-negara anggota G-15 bisa mengurangi minat para pengusaha untuk menjalin hubungan bisnis.

Ia yakin, jika peluang bisnis itu memangjelas, maka para pengusaha tidak akan ragu untuk menjalin kerjasama yang konkret walaupun pada tahap awal mungkin muncul berbagai kesulitan, termasuk besamya biaya transportasi yang harus mereka keluarkan.  (FAC-EU02/PU18 /SU05/4:25AM/EU04/28/03/94 20:55/RU1/21:40

Sumber:ANTARA(28/03/1994)

___________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVI (1994), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 237-238.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.