INTERVENSI ANCAMAN BARU PALING GAWAT

PRESIDEN TEGASKAN: INTERVENSI ANCAMAN BARU PALING GAWAT

Presiden Soeharto, Sabtu pagi, ber-turut2 telah menerima surat kepercayaan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa penuh Republik Demokrasi Somalia dan Duta Besar Kerajaan Yordania, di Istana Merdeka.

Dalam pidato balasannya terhadap pidato penyerahan Dubes Adan Isaak Ahmed sebagai Duta Besar Somalia yang pertama untuk RI, Presiden menegaskan sikap Indonesia yang anti penjajahan yang ditunjukkan dengan konsekwen.

"Karena itu kami bukan saja menentang penjajahan politik gaya lama, akan tetapi juga melawan penjajahan gaya baru yang terang-terangan maupun terselubung. Kami juga melawan setiap bentuk agresi. Oleh siapapun dan terhadap negara manapun", Presiden mengatakan.

Dikatakan dengan sikap yang demikian itulah kami memandang dan menanggapi berbagai peristiwa yang terjadi di negara sahabat kami di negara2 Arab dan di Afrika, yang dewasa ini sedang dilanda oleh berbagai bentuk agresi.

"Agresi dan intervensi adalah salah satu bentuk barn dari ancaman paling gawat bagi keselamatan dan perdamaian dunia dewasa ini, serta berlawan dengan harkat manusia dan meremehkan kedaulatan negara merdeka. Dan lebih dari itu, tanpa perdamaian maka negara sedang membangun, negara kelompok dunia ketiga, akan makin terbenam dalam lumpur kesengsaraan dan keterbelakangan", Kepala Negara mengatakan.

Ditegaskan, kemerdekaan politik tanpa pembangunan ekonomi adalah timpang, malahan mungkin menjadi awal dari penjajahan dalam bentuk lain.

Karena itu Indonesia semenjak masa Orde Baru berketetapan hati untuk meneruskan perjuangan tahap lanjutan, ialah memberi isi kepada kemerdekaan dengan pembangunan.

Presiden mengatakan, ia percaya pembangunan ekonomi yang sebenarnya merupakan perjuangan besar bagi bahagian besar umat manusia dewasa ini.

"Dan saya juga percaya bahwa persatuan negara dunia ketiga dalam perjuangan besar akan membawa hasil”.

Duta besar Adan Isaak Ahmed dalam pidato penyerahannya menyampaikan salam dari Presiden Somalia Mohammad Siad Barre dan pemerintah serta rakyat Somalia untuk Presiden Soeharto, pemerintah dan rakyat Indonesia.

Dikatakan secara historis Indonesia dan Somalia telah dihubungkan bersama melalui agama Islam.

Berbicara mengenai permusuhan dan kesulitan yang sedang melanda tanduk Afrika sebagai bagian peninggalan kolonial, Dubes Ahmed mengatakan pemerintah Republik Demokrasi Somalia sekarang menyerukan suatu penghentian segera dari permusuhan tsb, penarikan kembali pasukan asing, perundingan meja bundar melalui OAU (Organisasi Persatuan Afrika) dan pengakuan terhadap hak2 dari rakyat Somalia Barat dan Eritrea untuk menentukan nasib mereka.

Dalam membalas pidato penyerahan Dubes Kerajaan Yordania Riyad Sobri, Kepala Negara mengatakan, di antara kedua negara kita terdapat persamaan pandangan dan sikap seperti telah dilakukan selama ini di forum internasional seperti di PBB, dalam kelompok Non Blok, dalam Konferensi Islam, dalam barisan dunia ketiga dsb.

Ditegaskan sikap kami yang menjunjung tinggi hak segala bangsa untuk merdeka itulah, yang membawa kami pada keyakinan yang tidak tergoyahkan sejak semula, bahwa kami selalu berdiri di pihak negara Arab dan rakyat Palestina dalam perjuangannya yang benar untuk melawan kesewenang-wenangan Israel.

"Kami akan selalu menyokong sikap saudara kami bangsa Arab dalam menyelesaikan tantangannya yang sangat berat ini".

Dikatakan persamaan pandangan dan cita itu pula yang menjadi unsur penentu,

"mengapa pertemuan saya dengan Yang Mulia Raja Hussein bin Talal tahun lalu saya rasakan sangat berhasil, kendatipun pertemuan itu sangat singkat saja".

Presiden menyatakan penghargaannya atas pandangan yang bijaksana serta keteguhan hati Raja Hussein dalam memimpin rakyat Yordania.

Dubes Sobri dalam pidato penyerahannya menekankan hubungan historis antara kedua negara melalui kepercayaan terhadap agama Islam.

Sobri mengatakan bahwa negara2 Arab tidak pernah akan melupakan dukungan Indonesia yang terus menerus terhadap perjuangan mereka melawan zionisme di forum internasional. (DTS)

Jakarta, Sinar Harapan

Sumber: SINAR HARAPAN (15/07/1978)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 679-681.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.