Ingin Jadi Supir

Ingin Jadi Supir[1]

 

SEBAGAI ilustrasi, di awal pembentukan tentara (1945), Kawilarang adalah staf Jenderal Oerip di MBT dengan pangkat Mayor, sedangkan Soeharto telah menjadi Komandan Resimen dengan pangkat Leman Kolonel. Tahun 1948, Kawilarang sudah menjadi Panglima di Sumatra Utara dengan pangkat Letnan Kolonel.

Atau Kolonel M Bahrum yang menjadi Panglima TT IV/Diponogoro pada tahun 1952, adalah teman satu angkatan dengan Soeharto di pendidikan militer PETA. Bahrum dan Soeharto sama-sama mengikuti pendidikan militer PETA sebagai Chudanco, dan sama-sama pula sebagai Komandan Brigade di Divisi III pada waktu perang kemerdekaan.

Perwira satu angkatan lainnya seperti A Yani, sudah melanjutkan sekolah di US Army Command General and Staff College, di Fort Leavenworth, Amerika Serikat.

Perwira (penuh) Senyum andalan Jenderal Soedirman ini, mengalami stagnasi karir militer, selama hampir 11 tahun tidak naik pangkat dan mengalami 12 jabatan atau perubahan nama jabatan, hingga berkehendak seperti yang dituturkan Probosoetedjo di buku; “Saya dan Mas Harto”.

“Di pertengahan dekade lima puluhan, Ini adalah kejadian nyata, Mas Harto pernah merasa putus asa dengan pekerjaannya sebagai tentara. Dia tak juga naik pangkat dan merasa disikapi tak adil dalam angkatannya. Dia mengungkapkan niatnya untuk menjadi sopir taksi saja.”

Menyikapi kehendak Pak Harto, Ibu Tien mengatakan bahwa beliau menikah dengan tentara, bukan supir, kehendak itu pun pupus.

Sebetulnya, sebagai Panglima Komando Jawa maupun sebagai Wakil Panglima Besar yang berkedudukan di Yogyakarta, pasti Nasution tahu persis prestasi kemiliteran Soeharto yang beberapa kali memimpin berbagai palagan dan memenangkannya.

Diantaranya adalah, berhasil memadamkan kudeta Jenderal Mayor Soedarsono tanpa ada satu butir peluru ditembakkan—dikenal sebagai “peristiwa 3 Juli 1946.”

Atau keberhasilan Serangan Umum I Maret, sebagai pertempuran terakhir mengusir penjajahan di Indonesia. Tidak kurang dari Jenderal Soedirman mengirim surat kepada Nasution atas keberhasilan serangan itu dan menyebut Letnan Kolonel Soeharto sebagai “Bunga Pertempuran”.

Juga Nasution mengetahui dengan persis, pada masa paling kritis di mana Jenderal Soedirman memerlukan informasi sebelum beliau memutuskan mengakhiri perang gerilya dan kembali ke Yogyakarta—dari banyak perwira staf Jenderal Soedirman yang ada di Yogyakarta, maka Letnan Kolonel Soeharto yang diminta datang untuk memberi pertimbangan dan masukan kepada Pak Dirman, sebelum memutuskan kembali ke Yogyakarta atau tidak.

Dan sebelum kembali ke Yogyakarta, pada 3 Juni 1949, Jenderal Soedirman mengeluarkan surat perintah yang isinya menetapkan Letnan Kolonel Soeharto sebagai Pimpinan Militer Tertinggi di Yogyakarta.

Dapat dikatakan bahwa sosok “bunga pertempuran” ini adalah kepercayaan Jenderal Soedirman—anak emas Jenderal Soedirman. Namun, mengapa karir militernya “mangkrak”?!

____________________________________________________________

[1]Noor Johan Nuh,  “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar”, Jakarta : Yayasan Kajian Citra Bangsa, hlm 48-51.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.