INDUSTRI AGAR TELITI PENYIMPANAN BAHAN BERACUN

INDUSTRI AGAR TELITI PENYIMPANAN BAHAN BERACUN

PRESIDEN :

Presiden Soeharto mengingatkan agar industri-industri tetap waspada dan terus mencek penyimpanan bahan beracun dan berbahaya (B3) yang ditanganinya, untuk mencegah timbulnya musibah seperti di Bhopal (India) yang menewaskan ribuan orang.

Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (KLH) Dr. Emil Salim mengungkapkan lebih Ianjut kepada wartawan di Jakarta hari Senin bahwa industri besar yang menghasilkan B3 sangat perlu menggunakan teknologi “bersih”, artinya tidak membuang B3 sembarangan, dan sedapat mungkin melakukan teknologi daur ulang untuk memanfaatkan lebih lanjut bahan-bahan buangan.

Untuk industri-industri tertentu yang bahan buangannya belum dapat dimanfaatkan di dalam negeri. Menteri KLH memberikan pemecahan yaitu B3 tersebut dikirim kembali ke negeri asal.

“Cara retur ini sudah dilaksanakan oleh beberapa industri di Indonesia,” katanya.

Cara lain yang dapat ditempuh adalah menurunkan kadar berbahaya dari bahan itu melalui suatu pemrosesan kimia, di samping cara penyimpanannya yang lebih aman, kata Emil Salim setelah ia melapor kepada Presiden di kediamannya Jalan Cendana Jakarta hari Senin.

Masalah lebih besar yang dihadapi di bidang B3, menurut Menteri KLH, ada di bidang konsumsi, misalnya penggunaan racun hama secara berlebihan oleh masyarakat.

Untuk menyadarkan masyarakat supaya tidak menggunakan racun hama berlebihan atau membuang barang-barang berbahaya sembarangan, diperlukan penyuluhan antara lain melalui pers, kata Menteri.

“Misalnya, jangan menggunakan DDT untuk keperluan selain memberantas nyamuk malaria,” tambahnya.

Malaria Cilacap

Menteri KLH juga mengungkapkan bahwa timbulnya wabah penyakit malaria di suatu pemukiman nelayan di Cilacap (Jawa Tengah) baru-baru ini akibat terganggunya ekosistem di Segara Anakan.

la menjelaskan, sungai Citanduy yang bermuara di daerah itu mengalami pelumpuran yang mengganggu perairan Segara Anakan, sehingga ikan-ikan menyingkir dari perairan itu yang mengakibatkan pendapatan nelayan “darat” setempat berkurang.

Keadaan tersebut memaksa penduduk setempat menebang hutan bakau untuk dijadikan pertambahan dan kayunya dijual. Akibatnya, jentik-jentik nyamuk malaria berkembang pesat karena ikan-ikan kecil yang biasa hidup di lingkungan hutan bakau sekarang tidak ada lagi.

Untuk mengatasi masalah itu, menteri berpendapat perlunya pemulihan Sungai Citanduy serta penyelamatan hutan bakau, di samping pentingnya diciptakan suatu “sabuk hijau” yang membatasi daerah pertambakan dengan hutan bakau. (RA)

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (10/12/1984)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 766-767.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.