INDONESIA TIDAK AKAN MENINGGALKAN POLITIK LUAR NEGERI YANG BEBAS AKTIF

INDONESIA TIDAK AKAN MENINGGALKAN POLITIK LUAR NEGERI YANG BEBAS AKTIF

Indonesia sama sekali tidak akan meninggalkan politik luar negeri yang bebas aktif dan akan melaksanakannya dengan seluas2nya, meskipun keadaan dunia sekarang jauh berbeda dibanding dengan keadaan sewaktu perjuangan kemerdekaan.

Penegasan ini dikemukakan Presiden Soeharto dalam pidatonya sewaktu melantik Mayjen TNI Soekamto Sayidiman sebagai Dubes Republik Indonesia untuk Selandia Baru merangkap Fiji dan Samoa Barat dan Brigjen TNI Pudjo Prasetyo sebagai Dubes Republik Indonesia untuk Laos dalam suatu upacara di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu pagi.

Kepala Negara menegaskan bahwa politik luar negeri yang bebas aktif itulah yang akan membimbing bangsa Indonesia memantapkan kemerdekaan nasionalnya, merdeka di lapangan politik dan merdeka di bidang ekonomi. Bangsa Indonesia akan terus melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif dalam menjawab tantangan dan kebutuhan zaman sekarang.

Oleh karena itu rakyat fudonesia melalui MPR dengan tegas menyatakan bahwa pelaksanaan politik luar negeri yang bebas aktif itu diabdikan kepada kepentingan nasional, terutama untuk kepentingan usaha pembangunan di segala bidang.

Presiden memaparkan pula bahwa cita2 dan tujuan politik luar negeri itu jelas ditunjukkanPembukaan UUD 1945 yang menegaskan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Selain itu ditegaskan pula bahwa negara Indonesia harus ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Oleh karena itulah bangsa lndonesia sejak memproklamasikan kemerdekaannya dengan tegas menyatakan sikap anti penjajahan dalam segala bentuknya, baik penjajahan politik maupun penampilannya dalam penjajahan ekonomi.

Bangsa Indonesia banggakarena telah memiliki modal sejarah dan kekuatan yang tidak ternilai harganya, yaitu melahirkan dan menegakkan kemerdekaan nasional dengan kekuatan sendiri.

Kenyataan itulah yang menjadi pangkal semangat dan sumber kekuatan politik luar negeri bangsa fudonesia yang bebas dan aktif itu dan sumber sejarah inilah yang dipelihara kekuatannya ialah bahwa bangsa Indonesia menentukan sendiri langkah dan perjalanannya, baik ke dalam maupun ke luar.

Amanat Pembukaan UUD dan petunjuk Garis2 Besar Haluan Negara itulah yang harus dan sedang dilaksanakan bangsa Indonesia.

"Kita tidak pernah ragu2 mengenai arah yang kita tempuh dalam mengemudikan politik luar negeri itu dan kita tidak akan bergeser sedikitpun dari arah yang ditunjukkan Pembukaan UUD dan Garis2 Besar Haluan Negara tersebut," kata Presiden.

Gerak ke Luar Kepentingan Nasional

Presiden menyatakan watak dasar dari politik luar negeri tidak lain dari pada gerak ke luar darikepentingan nasional bangsa Indonesia sebagaimana juga diterapkan semua negara di dunia.

Watak dasar ini,kata Presiden, bila diamati berbagai hubungan antara negara dan perkembangan2 cepat yang muncul di berbagai kawasan dunia akhir2 ini.

Ikatan tradisional dapat renggang bila kadar tertentu dari kepentingan nasional terancam. Demikian pula kesamaan ideologi dapat berubah menjadi permusuhan yang sengit jika kepentingan nasional tampil ke muka dan saling berbenturan.

Kepentingan nasional bangsa Indonesia yang paling terdepan dewasa ini ialah pembangunan yang hams dapat meningkatkan kesejahteraan semua warga bangsa Indonesia.

Jika dulu bangsa Indonesia berjuang untuk merdeka, bukanlah hanya untuk memperoleh kedaulatan politik di tangan sendiri melainkan juga untuk berdaulat di lapangan ekonomi.

Oleh karena itu juga perjuangan memegang kedaulatan politik telah lama berhasil, maka bangsa Indonesia hams melanjutkannya dengan perjuangan di lapangan ekonomi melalui pembangunan.

Oleh sebab itu pulalah bangsa Indonesia bertekad menempatkan pembangunan ekonomi yang sedang giat2nya dilaksanakan sebagai bagian dari perjuangan besar untuk terus memelihara dan memperkokoh kedaulatannya seutuh2nya.

Harus Dapat Diandalkan

Presiden mengingatkan pula bahwa pelaksanaan politik luar negeri yang bebas aktif itu tidaklah gampang, lebih2 karena dunia masih penuh dengan berbagai benih ketegangan dan konflik.

Karena dunia tidak sepi dari saling berebutan pengaruh diantara kekuatan besar, jika tidak waspada dalam menjalankan politik luar negeri, secara sadar atau tidak bangsa Indonesia mungkin terjebak dalam siasat kepentingan lain dari luar, yang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan nasional.

Melaksanakan politik luar negeri bebas aktif dengan mengutamakan kepentingan nasional merupakan suatu tantangan berat, tapi bangsa Indonesia harus mampu menghadapi dan mengatasi tantangan itu.

Oleh karena itu Presiden menekankan sekali lagi pentingnya tugas seorang duta besar, sebab di samping harus dapat menampilkan diri sebagai wakil bangsa Indonesia dia juga harus menggambarkan kepribadian, cita2 dan usaha2 bangsa Indonesia, kepada pihak luar negeri.

Seorang duta besar merupakan tokoh yang harus dapat diandalkan. "Ia harus dapat melaksanakan amanat bangsa Indonesia khususnya di bidang pelaksanaan politik luar negeri yang harus menampilkan semangat bangsa dan negara terhadap cita2 dan tujuan bangsa ini dalam tata pergaulan dunia," demikian Presiden Soeharto mengatakan.

Upacara pelantikan kedua duta besar ini selain dihadiri Menlu Mochtar Kusumaatmadja dan Mensesneg Sudharmono serta pejabat lainnya, dihadiri pula oleh Wakil Presidendan Ny. Adam Malik. (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (03/05/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 582-585.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.