INDONESIA TETAP KIRIM DELEGASI KE KTT OKI

INDONESIA TETAP KIRIM DELEGASI KE KTT OKI

 

 

Delegasi Indonesia dipimpin Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah, tetap akan menghadiri Konperensi Tingkat Tinggi Organisasi Konferensi Islam (OKI) ke-5 yang akan berlangsung di Kuwait tanggal 26-28 Januari 1987.

Menteri Luar Negeri Mochtar Kusumaatmadja mengemukakan hal itu dalam keterangan pers mingguannya di Deplu Pejambon Jakarta, Jum’ at siang.

Menurut Menlu Mochtar, Sekretaris Jenderal OKI memutuskan bahwa KTT OKI tetap diadakan di Kuwait seperti direncanakan semula. Bagi Indonesia, kata Menlu, tidak ada alasan untuk tidak menghadiri KTT di Kuwait, karena selama ini Indonesia tetap mendukung hasil KTT OKI terakhir yang telah berlangsung di Casablanca, Maroko tahun 1985.

Ia berpendapat, sampai sekarang belum terdengar adanya salah satu negara anggota OKI yang akan memboikot KTT, kecuali Iran, yang keberatan KTT berlangsung di Kuwait, negara yang dituduh Iran telah membantu Irak dalam perangnya melawan Iran.

Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah, kata Menlu Mochtar, akan berangkat menuju Kuwait 25 Januari mendatang, sedangkan anggota delegasi Indonesia lainnya berangkat sesuai dengan jadwal sidang-sidang pendahuluan OKI.

KTT akan didahului pertemuan pejabat tinggi mulai tanggal 21- 22 Januari, diikuti pertemuan tingkat Menlu tanggal 23-25 Januari, dan Menlu Mochtar menurut rencana sudah berada di Kuwait tanggal 20 Januari 1987.

Perang Iran-Irak

Menlu Mochtar mengemukakan, dalam KTT OKI akan dibicarakan perang Iran-Irak yang kini sudah berlangsung tujuh tahun, serta masalah Palestina, masalah Timur Tengah, serta membicarakan usul Kuwait tentang soal terorisme Internasional pada agenda pembicaraan.

Menlu Mochtar mengutip usul dari Suriah, mengenai perlunya diadakan pembicaraan mengenai pembatasan istilah terorisme Internasional dengan gerakan pembebasan.

Ia juga menjelaskan mengenai datangnya utusan Presiden Iran Ali Khamenei ke Indonesia dan telah bertemu dengan Presiden Soeharto untuk menyampaikan surat, pesan dari Presiden Khamenei.

Utusan Iran itu dengan Presiden juga telah membicarakan masalah perang Iran-Irak, hubungan bilateral Indonesia-Iran, dan KTT OKI.

Menjawab pertanyaan sekitar pengusiran warga negara lndonesia yang masuk secara tidak sah di Malaysia, Menlu mengemukakan, hal itu hak sepenuhnya pemerintah Malaysia.

Menurutnya, perlu dipisahkan antara hubungan antar negara dengan hubungan pribadi, karena jika pelanggaran hukum itu dilakukan WNI di luar negeri, itu adalah urusan mereka secara pribadi, kecuali yang melakukannya seorang Diplomat. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (16/01/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 21-23.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.