INDONESIA TAK BOLEH HANYA GANTUNGKAN DIRI PADA BBM

INDONESIA TAK BOLEH HANYA GANTUNGKAN DIRI PADA BBM

 

Indonesia harus terus berusaha menggunakan sumber energi selain minyak bumi untuk mencukupi kebutuhan energinya yang terus meningkat. Indonesia tidak boleh hanya menggantungkan diri pada minyak bumi, sebab cadangan minyak bumi walau bagaimanapun besarnya, tetap ada batasnya.

Demikian penegasan Presiden Soeharto pada peresmian berfungsinya pusat listrik tenaga uap (PLTU) Suralaya dan sistem transmisi tegangan ekstra tinggi di Suralaya, Banten, Jawa Barat hari Sabtu.

PLTU Suralaya merupakan pembangkit listrik pertama di Indonesia yang menggunakan batu bara secara besar-besaran sebagai bahan bakarnya. Hal ini menyebabkan Indonesia dinilai maju selangkah lagi dalam menggunakan sumber daya alam bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakatnya.

“Selama ini batu bara yang kita miliki hanya sedikit sekali kita gunakan. Penambangan batu bara juga masih dilakukan secara kecil-kecilan, padahal batu bara merupakan salah satu sumber energi yang penting dan kita miliki dalam jumlah yang besar,” kata Presiden.

Teknologi Tinggi

Dikatakan, dalam membangun PLTU Suralaya yang sangat besar dan sistem transmisi ekstra tinggi itu digunakan teknologi tinggi dari berbagai macam bidang. Ini berarti pembangunan proyek ini juga merupakan tempat alih teknologi dan alih ketrampilan dari berbagai macam bidang pula.

Untuk membangun, untuk dapat memanfaatkan sumber kekayaan alam bagi kepentingan masyarakat Indonesia, tidak ada jalan lain daripada menguasai teknologi dan menggunakan ketrampilan, tidak pada satu-dua bidang saja, tetapi dalam segala bidang.

Jika ingin pembangunan cepat maju, bangsa Indonesia harus menguasai teknologi dan dapat menggunakan ketrampilan sendiri. Karena itu pula, kata Presiden, setiap kesempatan yang terbuka bagi alih teknologi dan ketrampilan, hendaknya digunakan dengan sebaik-baiknya.

Dengan berfungsinya sistem transmisi tegangan ekstra tinggi, tenaga listrik yang dihasilkan di berbagai pusat listrik dapat dialirkan secara terpadu, lebih andal dan ekonomis. Sehingga masyarakat dapat menggunakan listrik dengan mutu yang lebih baik dan biaya produksinya juga dapat ditekan.

Presiden Soeharto menyatakan, Indonesia telah banyak membangun bidang perlistrikan, namun yang diperlukan masih jauh lebih banyak lagi. Apalagi masyarakat maju yang dicita-citakan serta masyarakat industri yang hendak dibangun tidak mungkin terwujud tanpa memiliki tenaga listrik yang besar.

Karena tingkat kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa antara lain juga diukur dari penyediaan dan penggunaan tenaga listrik oleh masyarakatnya.

Ujung Tombak

Menteri Pertambangan dan Energi Prof. Subroto pada kesempatan itu menyatakan, sektor tenaga listrik merupakan ujung tombak yang sangat penting dalam pelaksanaan kebijaksanaan penganekaragaman energi, sehingga saham BBM dalam keseluruhan penyediaan energi komersial dapat diturunkan dari 77,9 persen pada akhir Repelita III menjadi 62,4 persen pada akhir Repelita IV.

Dengan penggunaan batu bara secara besar-besaran di PLTU Suralaya, bila telah berfungsi penuh nanti diserap sekitar 1,8 juta ton/tahun batu bara asal Bukit Asam dan Kalimantan Timur.

Sedang bila menggunakan batu bara asal Air Laya di Bukit Asam diperlukan 2,2 juta ton/tahun. Sementara untuk penyediaan batu bara dari September 1985 sampai Desember 1986 dibutuhkan 2,7 juta ton, termasuk 300.000 ton untuk persediaan tetap.

Dua unit pertama PLTU Suralaya ini juga dirancang untuk dapat memanfaatkan BBM. Dan pemanfaatan 2,7 juta ton batu bara itu setara dengan jumlah 1,75 juta kiloliter (kl) BBM.

Bila sejak tahun 1987 nanti seluruh kebutuhan batu bara untuk unit I dan II sebesar 2,2 juta ton dari Bukit Asam, maka jumlah BBM yang dapat dihemat 1,4 juta kl atau 8,8 juta barrel, dengan harga sekarang ini setara dengan 246 juta dollar AS.

Sedang dalam tahun 1995, bila seluruh unit PLTU Suralaya sudah berfungsi (3.100 MW), jumlah BBM yang dapat dihemat adalah 34,1 juta barrel, yang dengan harga sekarang setara dengan 955 juta dollar AS.

Menurut Menteri Subroto, sebelum PLTU Suralaya unit I dan II selesai di Indonesia telah tersedia daya listrik terpasang 664 MW dari PLTA dan PLTM 3963 MW dari PLTD, PLTG, dan PLTU minyak di samping itu PLTP Kamojang menghasilkan 30 MW.

Dengan selesainya dua unit PLTU Suralaya 800 MW, daya terpasang pusat listrik yang dibangkitkan dengan BBM yang semula 85 persen turun menjadi 73 persen dan dengan akan berfungsinya PLTA Saguling tahun 1986 nanti, persentase itu diharapkan turun lagi dari 73 persen menjadi 68 persen.

Dengan berfungsinya sistem transmisi tegangan ekstra tinggi beserta pusat pengatur beban di Gandul, maka penyaluran tenaga listrik dari PLTU Suralaya dan pusat-pusat listrik lainnya ke pusat-pusat beban dapat dilakukan secara terpadu, lebih andal serta lebih ekonomis.

Empat Tahap

Direktur Utama PLN Ir. Sardjono dalam laporannya menyatakan pembangunan jaringan transmisi tegangan ekstra tinggi yang akan menghubungkan pusat-pusat kelistrikan berskala besar secara terpadu akan dilakukan empat tahap.

Tahap pertama meliputi jalur dari Suralaya-Gandul-Cibinong- Saguling-Bandung Selatan-Cirebon-Ungaran, dari Gandul ­ Duri Kosambi, seluruhnya meliputi panjang 644 km sirkit.

Di samping itu dibangun gardu induk di Suralaya, Gandul, Bandung Selatan dan Ungaran. Pelaksanaan tahap ke dua meliputi jaringan transmisi 500 kV dari Ungaran ke Krian, dari Cirata ke Saguling, serta pembangunan gardu induk 500 kV di Krian dan perluasan gardu induk 500 kV di Ungaran. Tahap ke dua ini direncanakan beroperasi tahun 1987.

Pelaksanaan tahap-tahap selanjutnya direncanakan sesuai dengan laju kebutuhan tenaga listrik. Sedang untuk pengendalian sistem kelistrikan dibangun unit pengatur beban di Cawang, Cigareleng, Waru, Ungaran serta pusat pengatur beban sistem tenaga listrik se-Jawa di Gandul, Sawangan, Bogor.

Jaringan ekstra tinggi itu nanti akan menghubungkan PLTA Saguling (700 MW), PLTA Cirata (500 MW) serta PLTU Paiton (4.000 MW).

Untuk pembangunan PLTU Suralaya tahap pertama diperkirakan biaya 673,4 juta dollar AS, terdiri dari valuta asing 408,1 juta dollar AS dan biaya rupiah 265,2 juta dollar AS. Bank Dunia menyediakan dana sebesar 345,1 juta dollar AS, sedang lainnya didapat dari buyers’ credit dan suppliers’ credit 56.4 juta dollar AS.

Khusus untuk pembangunan jaringan transmisi ekstra tinggi, gardu induk serta pusat pengatur beban tersedia dana valuta asing 144,3 juta dollar AS. Ini terdiri dari Bank Pembangunan Asia 92,8 juta dollar AS, dari APBN dan APLN masing-masing sebesar Rp 59,7 milyar dan Rp 73,1 milyar. (RA)

 

 

Suralaya, Kompas

Sumber : KOMPAS (12/08/1985)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 316-319.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.