INDONESIA TAK AKAN TINGGALKAN POLITIK BEBAS AKTIF

INDONESIA TAK AKAN TINGGALKAN POLITIK BEBAS AKTIF

Presiden Soeharto menegaskan, Indonesia tidak akan meninggalkan politik luar negeri yang bebas dan aktif, melainkan akan tetap melaksanakannya selurus2nya.

"Politik luar negeri yang bebas dan aktif itulah yang akan membimbing kita untuk memantapkan kemerdekaan nasional kita; ialah, merdeka di lapangan politik dan merdeka di lapangan ekonomi", demikian Kepala Negara menegaskan dalam pidatonya ketika melantik tiga duta besar luar biasa dan berkuasa penuh RI yang baru di Istana Negara, Rabu pagi.

Ketiga duta besar yang baru itu adalah Soedjatmiko untuk Republik Singapura, Kahono Martohadinegoro untuk kerajaan Belgia dan Iwan Stambul untuk Republik Nigeria.

Indonesia akan terus melaksanakan politik luar negeri yang bebas dan aktif untuk menjawab tantangan dan kebutuhan zaman sekarang, kata Presiden sambil mengingatkan bahwa politik luar negeri Indonesia itu harus diabdikan untuk kepentingan pembangunan nasional.

Dengan mengutip GBHN, Presiden mengingatkan pentingnya usaha untuk terus memantapkan stabilitas dan kerjasama di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik Barat daya, khususnya di lingkungan ASEAN, dalam rangka mempertinggi ketahanan nasional dan ketahanan regional.

Harus Tangkas

Kepada ketiga dutabesar baru itu, Kepala Negara minta agar mereka tangkas dalam melaksanakan tugas, membela dan menjunjung tinggi martabat bangsa dan negara di luar negeri.

Diingatkannya, tugas dutabesar sungguh luas jangkauannya.

"Seorang duta besar bukan saja mewakili dan mengurus kepentingan negara dan warga negaranya di luar negeri, tetapi ia harus menterjemahkan kepribadian Indonesia, menggambarkan cita2nya dan menjelaskan usahanya, sehingga seluruh cita2 dan aspirasi rakyat Indonesia dapat dikenal dan dipahami oleh rakyat dan negara yang bersangkutan," katanya.

"Ini adalah keharusan, sebab persahabatan dan saling pengertian lainnya dapat timbul apabila ada kemauan untuk saling mengenal", katanya.

"Mengenalkan hati, pikiran dan wajah Indonesia yang sebenar2nya itu termasuk tugas penting para duta besar kita", Presiden menambahkan.

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Singapura Marsekal Muda Sudjatmiko lahir di Tuban, 17 Oktober 1927.

Berbagai jabatan pernah dipegangnya di TNI Angkatan Udara. Tahun 1969 sebagai Wakil Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional di Jakarta. 1969-1973 Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional di Departemen Hankam Jakarta; 1974-1975 ditempatkan di Otorita Batam dengan kedudukan (a) Executive Manager Otorita Batam, (b) pelaksana harian Dirut P.T. Perseroan Batam, (c) penasehat Pelita Air Service Pertamina.

Jabatan di Otorita Batam sampai saat diangkatnya sebagai dubes ialah a. Ketua; Badan Pelaksana Otorita Batam di Sekupang, pulau Batam; b. Direktur Utama P.T. Persero Batam di Jakarta/Batamn; c. Kepala Perwakilan Batam Liaison Office di Singapura lima orang.

Sudjatmiko menggantikan almarhum Letnan Jenderal Chaeruddin Tasning. Duta besar luar biasa dan berkuasa penuh Republik Indonesia untuk kerajaan Belgia Kahono Martohadinegoro lahir di Semarang, tanggal 20 Oktober 1924.

Sebelum diangkat sebagai Duta besar ia ditempatkan di PTRI Jenewa dengan gelar Duta besar. Kahono Martohadinegoro menggantikan Atmono Suryo, yang telah selesai masa tugasnya.

Surat Kepercayaan Dubes Irak

Sebelumnya di Istana Merdeka Presiden menerima surat2 kepercayaan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Irak untuk Indonesia, Hisham Fakhri AI Tabakchali.

Dalam pidato balasannya Presiden menekankan perlunya untuk memberi isi yang lebih nyata hubungan persahabatan antara Indonesia dan Irak sehingga manfaatnya bisa langsung dinikmati oleh rakyat kedua negara.

Mengenai pembangunan dinegara2 berkembang, Presiden mengatakan bahwa masih banyak hambatan yang dihadapi oleh negara2 berkembang. Misalnya, masih adanya persaingan antara kekuatan2 besar dan sikap negara2 maju yang kurang memperhatikan aspirasi negara2 yang sedang berkembang.

Untuk menghadapi perkembangan dunia seperti itu, kata Presiden, Indonesia dan Irak sebagai anggota Dunia Ketiga, Non-Blok dan Konferensi Islam, wajib bersatu dan bekerjasama serta saling membantu demi terwujudnya Tata ekonomi Dunia Baru.

Dubes Irak yang baru itu dalam pidatonya menyampaikan ucapan terimakasih pemerintah dan rakyat Irak atas dukungan Indonesia yang terns menerus bagi negara2 Arab dalam masalah Palestina.

AI Tabakchali juga menyampaikan salam hormat Presiden Irak Ahmed Hassan Al Baki untuk Presiden Soeharto. Presiden menyampaikan salam serupa kepada rekannya di Irak itu. AI Tabakchali menggantikan Dr. Wahba A. Fatah, yang telah menyelesaikan tugasnya beberapa waktu yang lalu. (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (08/11/1978)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 756-758.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.