INDONESIA PERLU BERSIAP DIRI MANFAATKAN SEGITIGA UTARA

INDONESIA PERLU BERSIAP DIRI MANFAATKAN SEGITIGA UTARA [1]

 

Bangkok, Antara

Duta Besar RI untuk Thailand I Gede Awet Sara, mengemukakan perlunya Indonesia terutama dunia usahanya untuk bersiap-diri sejak dini agar dapat memanfaatkan secara maksimal pembentukan Kawasan Segitiga Pertumbuhan Utara.

Ketika menerima rombongan wartawan Indonesia peserta kunjungan muhibah ke Thailand Jumat lalu di Bangkok, ia menyatakan bahwa agar dapat memanfaatkan secara optimal kerjasama regional melalui pembentukan kawasan segitiga pertumbuhan itu, Indonesia harus mempersiapkan diri sejak dini agar tidak tertinggal dengan Thailand dan Malaysia.

Diingatkannya, konsep kerjasama tersebut dicetuskan pertama kali oleh Malaysia yang kemudian disambut sangat antusias oleh Thailand dengan harapan gagasan itu dapat memacu perkembangan ekonomi di bagian selatan yang relatif jauh ketinggalan dibanding bagian tengah dan utara negara itu.

Untuk mendorong perekonomian dibagian timur, Thailand melancarkan Program Pembangunan Daerah Pantai Timur (Eastern Seaboard Development Program),dan untuk memacu perkembangan di bagian utara negara itu menjalin kerjasama regional dengan Cina, Myanmar dan Laos melalui pembentukan kawasan pertumbuhan di daerah perbatasan negara-negara itu

Mengenai pembentukan kawasan Segitiga Pertumbuhan Utara yang melibatkan ke tiga negara anggota ASEAN itu, dubes menunjuk penegasan Presiden Soeharto kepada PM Thailand Chuan Leekpai ketika mengunjungi Indonesia bulan lalu bahwa Indonesia “pada prinsipnya” mendukung gagasan tersebut.

Namun demikian Indonesia masih mempelajari usulan Thailand untuk mengisi konsep kerjasama tersebut, yang merupakan penyempurnaan dari usulan yang disampaikan Malaysia.

Dalam kaitan itu pula, kata Dubes, Kadin ProvinsiAceh telah memberitahu KBRI Bangkok rencananya untuk mengirim delegasinya mengunjungi bagian selatan Thailand bulan Juni ini guna menjajaki potensi dan peluang kerjasama yang dapat dikembangkan untuk mengisi konsep kerjasama regional tersebut.

Tiga Bidang

Menurut Dubes, ada tiga bidang/sektor yang dapat segera “digarap” oleh Indonesia untuk mengisi konsep kerjasama tersebut yakni pariwisata, perikanan dan perdagangan.

Dijelaskan, melalui kerjasama ini Indonesia dapat menjaring wisatawan mancanegara (wisman) yang mengunjungi obyek-obyek wisata di bagian selatan Thailand dan di bagian utara Malaysia serta juga melihat keindahan obyek wisata di bagian utara Sumatera.

Untuk itu perlu dikembangkan jalur transportasi langsung antara bagian selatan Thailand, bagian utara Malaysia dan bagian utara Sumatera.

Ia mengemukakan perlunya pembukaan hubungan langsung melalui laut atau udara antara Medan, Phuket di Thailand Selatan dan Langkawi di Malaysia Utara.

Mengenai perikanan ia menjelaskan, Thailand dengan 28.000 armada kapal ikan dan 60 industri pengalengan ikannya saat ini kesulitan memperoleh bahan baku karena sudah terkurasnya sumber daya perikanan negara itu.

Untuk itu, Indonesia dalam hal ini Sumatera bagian utara, dapat memasok kebutuhan bahan baku ikan kepada Thailand, tambahnya. Menyinggung masalah perdagangan, ia mengatakan Indonesia saat ini merupakan mitra dagang nomor 18 Thailand meskipun perdagangan kedua negara terus meningkat dan memberikan surplus bagi Indonesia sejak beberapa tahun terakhir ini.

Menurut data KBRI Bangkok, ekspor Indonesia ke Thailand tahun 1990 tercatat 186,41 juta dolar AS dibanding impornya 160,09 juta dolar AS, tahun 1991naik menjadi 267,18 juta dolar AS sedang impornya 261,43 juta dolar AS dan tahun 1992 melonjak menjadi 290,56 juta dolar AS dibanding impornya 284,12 juta dolar AS.

Komoditi yang diekspor Indonesia antara lain barang-barang dari besi/baja, semen, barang-bara ng dari kayu, hasil laut, kain ban, batubara, tekstil dan pupuk.

Sementara komoditi yang diimpor dari Thailand diantaranya ikan, beras, gula, beras/tepung ketan, maniok, gips, dan mesin industri.

(T-EUOl/EU-09/30/05/93   18:03)

Sumber:ANTARA(30/05/1993)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 452-454.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.