INDONESIA MEMASUKI ERA BARU

INDONESIA MEMASUKI ERA BARU[1]

 

 

Kuala Lumpur, Kompas

Meski mengkhawatirkan masa depan Indonesia karena ada sejumlah masalah krusial yang menghadang, beberapa pengamat menilai, Indonesia tengah memasuki era baru, dan bahkan meniupkan angin baru ke kawasan Asia.

“Koordinator Suara Rakyat Malaysia, S Arutchelvan menyebut perubahan di Indonesia sebagai pelajaran bagi negara lain. Ini adalah dimulainya era bara bagi Indonesia dan bahkan bagi kawasan (Asia Tenggara).” katanya hari Kamis.

Sedangkan Kepala Pusat Riset Strategi Malaysia, Abdul Razak Baginda menyebutkan, reformasi ekonomi dalam era baru itu harus dilaksanakan sampai pemilu mendatang.

“Stabilitas politik ekonomi dalam jangka panjang akan tercapai, jika pemerintahan baru yang kini berkuasa di Indonesia bersedia melakukan program-program reformasi berskala luas.” komentar Amnesti Internasional (AI), Kamis (21/5), sebuah lembaga independen yang bergerak di bidang Hak-Hak Asasi Manusia (HAM) dan berbasis di London, Inggris.

Angin Baru

Selain disambut hangat banyak kalangan di dalam maupun di luar negeri, mundurnya Pak Harto memunculkan sikap kritis-reflektif di kalangan para pengamat politik tentang perlu tidaknya para pemimpin di Asia mempertahankan pola pemerintahan otorianistik (pola pemerintahan yang semata-mata didasarkan pada keputusan penguasa).

Pengamat dan dosen ilmu politik University of the Philippines (UP), Prof. Alex Magno, dan Direktur Institut Riset Strategi Malaysia, Abdul Razak Baginda, berpendapat, fenomena itu telah merupakan angin baru dalam wacana kehidupan politik di kawasan Asia Tenggara.

“Apa yang terjadi di Indonesia menimbulkan semacam dampak psikologik baru di kawasan ini.” kata Magno di Manila.

“Ini merupakan fenomena baru di Asia dan saya pikir, itu perkembangan sehat sekali.” jelas Abdul R Baginda di Kuala Lumpur, hari Kamis.

Kedua pengamat itu berpendapat, fenomena itu nyaris sama dengan gerakan people power di Filipina tahun 1986yang berlangsung damai dan berakhir dengan jatuhnya diktator Presiden Ferdinand E Marcos dari kekuasaannya. Menurut mereka, fenomena yang terjadi di Indonesia itu merupakan petunjuk jelas, pemerintahan dan kepemimpinan bercorak otoritarianistik kini sudah tak populer lagi di kawasan Asia.

“Saya sungguh tak setuju dengan tesis mantan PM Singapura, Lee Kuan Yew, dengan pendapatnya tentang kepemimpinan otoritarianistik sebagai prasyarat untuk bisa maju… pemerintahan macam itu kini mutlak harus dipertanyakan kembali.” kata Malaya Ronas, Direktur Institut Strategi dan Studi Pembangunan di Manila.

Menurut Kim Byungkook, Profesor Ilmu Politik di Korea University, pemerintahan otoriter sudah tak relevan lagi dan suatu saat pasti akan jatuh. Namun, para pengamat itu berpendapat, pola pemerintahan otoritarianistik hingga kini masih tetap eksis di Asia.

Sumber : KOMPAS (23/05/1998)

_____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 587-588.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.