INDONESIA BERTEKAD MENJADIKAN PULAU BATAM KAWASAN INDUSTRI

INDONESIA BERTEKAD MENJADIKAN PULAU BATAM KAWASAN INDUSTRI

Presiden Soeharto, Selasa kemarin meresmikan sekaligus enam proyek pembangunan di daerah industri pulau Batam.

Keenam proyek yang diresmikan itu adalah, pelabuhan udara di Batu Besar, pelabuhan laut di Sekupang, Batu Ampar dan Kabil, jalan-jalan raya, waduk-waduk dan fasilitas air bersih di Nongsa, Sei Baloi, dan Sei Harapan, pembangkit-pembangkit tenaga listrik di Sukupang dan Batu Desar, serta fasilitas-fasilitas telekomunikasi.

Selesainya pembangunan proyek-proyek tersebut, kini pulau Batam telah memiliki prasarana pokok sebagai daerah industri, sehingga dapat menampung penanaman modal di berbagai kegiatan industry, demikian Presiden Soeharto mengemukakan dalam sambutan peresmian proyek yang penyelenggaraannya dipusatkan di pelabuhan udara Batu Besar.

Pada upacara peresmian hadir Ibu Tien Soeharto, beberapa menteri anggota Kabinet Pembangunan IV, pejabat-pejabat daerah propinsi Riau, dan para undangan lainnya, di antaranya bekas Ketua Badan Pimpinan Daerah Industri Pulau Batam yang pertama Dr H. Ibnu Sulowo.

Perkembangan Pembangunan P. Batam

Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam, Prof Dr Ing B.J. Habibie pada upacara peresmian melaporkan secara terperinci hasil-hasil yang sudah dicapai dalam pembangunan daerah industri pulau Batam hingga akhir tahun 1983 ini, sejak persiapan dan permulaan pembangunan dilakukan tahun 1971.

Ia mengatakan, kini sebagian besar prasarana yang dibutuhkan untuk pengembangan daerah pulau Batam menjadi daerah industri dan perdagangan kini sudah selesai.

Prasarana-prasarana itu antara lain meliputi prasarana jalan raya dan jembatan, prasarana air minum, listrik, telekomunikasi, pelabuhan laut dan udara, serta bangunan-bangunan umum dan sosial.

Seperti dikemukakan Presiden dalam pidatonya, Prof DrIng B.J. Habibie juga mengatakan, dengan selesainya pembangunan proyek-proyek prasarana tersebut kini kegiatan industri dan perdagangan oleh para pengusaha nasional dan internasional sudah dapat dilaksanakan di pulau Batam.

Sebagai contoh dikemukakan, pelabuhan udara Batu Besar misalnya mampu didarati oleh pesawat jenis air-bus, pelabuhan laut dapat disandari kapal hingga ukuran

10.000 ton bobot mati, dan telekomunikasriya sudah menggunakan fasilitas SLJJ (Sambungan Langsung Jarak Jauh) dan sambungan internasional.

Strategis

Pada bagian lain sambutannya, Presiden Soeharto mengatakan, Indonesia bertekad mengangkat pulau Batam menjadi kawasan industri, tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi Asia Tenggara alasan untuk itu katanya kuat.

Modal utamanya bukan karena tenaga kerja atau sumber kekayaan alam yang berlimpah seperti di daerah-daerah Indonesia lainnya, tetapi karena letak pulau Batam yang sangat strategis, berada di simpang lalu lintas laut dan udara antara Eropa, Timur Tengah dan Afrika dengan kawasan Pasifik Barat.

Menurut Kepala Negara, hubungan ekonomi dan perdagangan antara kawasan yang luas tersebut akan berlangsung sangat besar dalam dasawarsa-dasawarsa yang akan datang.

Di samping itu, letak geografis pulau Batam begitu dekat dengan Singapura, yang kini telah berkembang menjadi salah satu pusat jasa-jasa perdagangan dan Jasa-jasa keuangan internasional, bahkan juga salah satu pusat pariwisata yang penting di dunia.

Harapan Kepada Singapura

Khusus terhadap Singapura, pada kesempatan itu Presiden mengharapkan supaya dapat berkembang menjadi salah satu pusat keuangan yang terkemuka di dunia.

Perkembangan ke arah tersebut bukan saja sesuai dengan dinamika Singapura, tetapi juga bermanfaat bagi kerja sama ekonomi antara Singapura dan Indonesia umumnya dan perkembangan pulau Batam khususnya.

”Dalam hubungan inilah, maka pada tahun 1980 telah ditandatangani perjanjian kerja sama antara Singapura dan Indonesia untuk mewujudkan keterpaduan pembangunan pulau Batam sebagai bagian dari pembangunan nasional kita dengan pembangunan ekonomi Singapura", kata Presiden.

Selesai meresmikan keenam proyek, Presiden dan rombongan kemudian menyaksikan wilayah industri di Batu Ampar, melihat pusat pemukiman di Bukit Nagoya, jembatan dan dam sungai Ladi, serta peternakan sapi di Sekupang. (RA)

Batam, Suara Karya

Sumber : SUARA KARYA (28/12/1983)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 345-347.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.