IMAM MUNANDAR MENGHADAP PRESIDEN : GUBERNUR HARUS MEMPERHATIKAN MASYARAKAT DI DAERAHNYA

IMAM MUNANDAR MENGHADAP PRESIDEN : GUBERNUR HARUS MEMPERHATIKAN MASYARAKAT DI DAERAHNYA

Presiden Soeharto menginstruksikan Gubernur Riau, H. Imam Munandar, agar terus menyempurnakan pelaksanaan tugasnya dengan baik.

“Selaku aparat di daerah, gubernur harus memperhatikan masyarakat di daerahnya dengan mengajak secara bersama-sama melaksanakan tugas pembangunan,” kata Presiden seperti dikutip Gubernur Munandar.

Selesai menghadap Presiden Soeharto di Bina Graha, Kamis, kepada pers Imam Munandar mengatakan, pengangkatan kedua kalinya sebagai gubernur akan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk melanjutkan apa yang sudah diprogramkan sebelumnya dan menyesuaikan kegiatan yang akan datang sesuai dengan situasi yang nyata.

“Lebih-lebih mendekati Pemilu 1987 dan adanya resesi ekonomi, Presiden minta supaya saya mengambil langkah­langkah yang tepat agar pembangunan dapat berjalan tanpa gangguan yang berarti” ujarnya.

Imam Munandar menilai, selama ia menjabat gubernur periode terdahulu, partisipasi masyarakat Riau sangat baik. Mereka dengan sepenuh hati membantu di segala bidang kegiatan, termasuk penggalian kekayaan alam.

Hal itu merupakan suatu bukti bahwa masyarakat Riau bisa diajak kerja sama dan mendukung. “Ini kenyataan lho…!” ujarnya.

Menurut dia, seandainya masyarakat Riau selama ini tidak mendukung, tentu pembangunan Riau tidak bisa dilaksanakan seperti yang telah dihasilkan selama ini.

Ia menunjuk hasil pembangunan bidang pertanian misalnya, dibanding 5 tahun lalu kini hasilnya sudah semakin baik. Jika dulu tanaman padi di Indragiri hanya menghasilkan 3 sampai 4 ton per hektar tiap tahunnya, sekarang melalui Operasi makmur mencapai 15,5 ton.

Demikian pula di daerah lainnya yang semula harus membeli beras dari daerah lain, sekarang sudah bisa mencukupi sendiri. Untuk perkebunan kelapa sawit juga telah disediakan areal seluas 600.000 ha dan sudah siap dilaksanakan. Jumlah itu belum termasuk perkebunan milik PNP dan swasta yg kini sudah berkembang dengan baik.

Gubernur menyebutkan pula, berdirinya sebuah universitas di Pekan Baru sangat membantu bidang pendidikan di wilayahnya. Sebab anak-anak sekolah asal Riau tidak perlu lagi merantau jauh-jauh, semua fasilitas pendidikan telah tersedia.

Selain itu masih banyak lagi kekayaan alam Riau yang sudah dipersiapkan untuk digali. Antara lain sumber gas alam, batu bara, emas serta hasil laut Natuna.

Dalam kaitan itu Gubernur Imam Munandar mengajak masyarakat Riau untuk bersama-sama menggali kekayaan alam.

“Mari, segala tenaga dan pikiran kita tujukan untuk menggali kekayaan alam yang memang sudah kita tunggu-tunggu,” ajaknya melalui pers.

Strategis

Diingatkannya, Riau mempunyai arti strategis di bidang Hankam dan untuk itu penting dipelihara stabilitas dan keamanannya.

Pulau Galang misalnya, hingga kini masih digunakan sebagai tempat penampungan pengungsi Vietnam yang jumlahnya mencapai 4000 orang. Meski jumlah itu sudah jauh lebih sedikit dibanding sebelumnya (10.000 orang), tetapi sampai 4 bulan lalu pengungsi itu masih terus berdatangan.

Menjawab pertanyaan sekitar pemilihan gubernur yang lalu Imam Munandar tidak bersedia menjawab. “Itu soal lain, tidak termasuk yang saya sampaikan kepada presiden, jadi jangan dicampur adukkan pemberitaannya” Ujarnya.

Namun kemudian ia mengatakan bahwa sesungguhnya tidak terjadi apa­apa di dalam tubuh FKP (Fraksi Karya Pembangunan) Riau. Semuanya berjalan sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada sekarang, sehingga tidak menggoyahkan.

“Kami ini kan semua saudara. Jadi segala persoalan tentu bisa diselesaikan secara kekeluargaan dengan tujuan kelangsungan pembangunan,” ujarnya. (RA).

 

 

Jakarta, Suara Karya

Sumber : SUARA KARYA (12/05/1985)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 42-43.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.