Ikut Prihatin

Garut, 19 September 1998

Kepada

Yth. Bapak H.M. Soeharto

beserta keluarga

di Jl. Cendana No. 8

Jakarta

IKUT PRIHATIN [1]

Assalamu’alaikum wr. wb.

Pertama-tama saya menyampaikan permohonan maaf kepada Bapak dan keluarga atas kelancangan saya telah mengirim surat kehadapan Bapak dan keluarga, selanjutnya terimalah salam hormat saya.

Saya tidak punya maksud lain selain rasa simpati terhadap bapak dan keluarga Bapak dan hanya terdorong oleh hati nurani saya yang tulus dan memenuhi sebagian dari kewajiban seorang muslim dan hamba Allah, yaitu untuk saling wasiatan, saling selamatkan dan saling mendokan di jalan Allah.

Saya ikut prihatin atas musibah dan cobaan yang menimpa Bapak dan keluarga. Setelah Bapak mengundurkan diri dari jabatan presiden RI 21 Mei lalu, saya melihat, mendengar situasi dan kondisi negara RI yang kita cintai lewat pemberitaan di media massa, media cetak lainnya ten tang politik, hukum dan terutama masalah ekonomi yang sangat berat dirasakan oleh banyak masyarakat kecil seperti saya. Yang paling mengetuk hati saya, bagaimana keadaan Bapak dan pedihnya hati Bapak setelah banyak pemberitaan yang menghujat dan melecehkan Bapak dan keluarga.

Saya tidak bisa membayangkan sakitnya hati Bapak dan keluarga atas hujatan-hujatan yang sifatnya negatif. Tega -teganya orang­-orang melecehkan Bapak, padahal belum tentu keadaan begini Bapak yang salah.

Saya membayangkan seandainya Bapak itu ayah saya, betapa sakitnya hati seorang anak yang tadinya ayah yang arif, bijaksana, dan banyak jasanya akhirnya dilecehkan, dihujat, dan lain­-lain.

Untuk itu saya secara pribadi ikut berdoa untuk Bapak, mudah-mudahan Bapak dan keluarga Bapak diberi kekuatan, ketabahan, kesabaran, hidayah, dan petolongan dari Yang Maha Kuasa.

Cobaan pasti datang ke setiap orang dan cobaan itu berbeda. Sekali lagi mohon maaf bukan saya menggurui Bapak. Cobaan ini harus Bapak terima dengan ketabahan dan keyakinan Kepada Yang Maha Kuasa Karena kebenaran pasti akan terlihat dan Insya Allah saya juga akan terus berdoa meminta pertolongan Allah untuk Bapak dan keluarga, karena saya sangat simpati kepada Bapak dan keluarga Bapak.

Saya tidak mengharapkan pujian dari Bapak. Saya hanya mengharap ridho Allah. Karena ini saya lakukan dengan ikhlas, karena Allah dan betul-betul dari hati yang tulus. (DTS)

Wassalam,

Mamat Rachmat

Garut – Jawa Barat

[1]     Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 781-782. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto menyatakan berhenti dari kursi Kepresidenan. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.