IKEDA INGIN DISKUSI KEMBALI DENGAN INDONESIA TENTANG MOBNAS

IKEDA INGIN DISKUSI KEMBALI DENGAN INDONESIA TENTANG MOBNAS[1]

 

Tokyo, Antara

Menteri Luar Negeri Jepang Yukihiko Ikeda, Selasa siang, mengatakan niatnya untuk mengadakan pertemuan dan diskusi dengan pemerintah Indonesia mengenai sengketa mobil nasional (mobnas) Timor.

Pernyataan Ikeda disampaikan dalam jumpa pers, Selasa siang, seusai rapat kabinet di Tokyo, Kantor Berita Jepang Kyodo mengabarkan.

Ikeda telah mendengar bahwa Presiden Soeharto menanggapi rencana Jepang mengajukan permohonan sidang panel pada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) seperti yang diberitakan sejumlah media massa di Tokyo, Selasa.

“Kami ingin mengadakan diskusi dengan pihak Indonesia untuk menangani masalah ini karena harmonisasi hubungan kedua negara harus tetap dijaga dengan baik.” komentarnya.

Sementara itu pada hari yang sama, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Luar Negeri (MITI) Shinji Sato menyatakan bahwa pihaknya dapat mengerti reaksi dari Indonesia tersebut.

“Harus ada cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya.” katanya.

Wakil Duta Besar RI untuk Jepang Drs.I.G. Ngurah Swetja MA ketika dihubungi ANTARA mengatakan, pihak KBRI telah meminta penjelasan dari MITI atas pemberitaan media massa Jepang yang menuturkan bahwa Jepang mengajukan permohonan diskusi panel sengketa Mobnas ke WTO.

Dubes RI Wisher Loeis didampingi atase perdagangan Drs. Eliver Radjagoegoek meminta penjelasan pada MITI hari Senin yang membenarkan rencana permohonan sidang panel WTO 30 April mendatang.

Permohonan tersebut dilakukan dengan alasan Jepang tidak melihat kemajuan atas protes mereka bahwa Indonesia melakukan diskriminasi dalam kebijaksanaan Mobnas. Jepang juga mengetahui bahwa Indonesia memberikan kesepakatan tertentu kepada AS, namun kesepakatan itu tidak ditawarkan pada Jepang. Swetja mengatakan ia tidak mengetahui lebih rinci hasil pembicaraan tersebut, sedangkan Dubes RI dan Atase Perdagangan saat ini berada di Kyoto untuk mengikuti kunjungan kerja Menperindag Tunky Aribowo, antara lain melakukan kunjungan ke industri semi konduktor Matsushita, pertemuan dengan industri elektronik dan konsultasi bisnis.

Wajar

Pengamat masalah Internasional Michael Ian Chaplan, mengatakan kepada ANTARA di Tokyo, keinginan Indonesia mempunyai industri mobil nasional adalah wajar dan cenderung dilakukan banyak negara berkembang seperti Meksiko, Malaysia. Sebaliknya sikap keberatan dari Jepang dan AS juga wajar bila masing-masing dilihat secara netral dengan kacamata kepentingan masing-masing pihak.

“Adalah menjadi tugas WTO untuk membantu menyelesaikan sengketa industri dan perdagangan Internasional seperti ini.” kata warga AS yang mengajar di berbagai perguruan tinggi di Jepang itu.

Setiap pihak mempunyai kepentingan sendiri misalnya Indonesia, Korea, AS, Jepang dan negara lain, namun harus dilihat apakah ada faktor-faktor lain dibalik kepentingan tersebut dan pihak mana yang paling banyak dirugikan atau diuntungkan, katanya.

Chaplan mengatakan, berbalik dari keinginan negara berkembang untuk meningkatkan produksi nasional, dalam era globalisasi saat ini terlihat kecenderungan kegiatan industri yang bersifat Internasional.

Industri besar tidak lagi terpaku pada satu negara, melainkan melibatkan banyak negara baik dalam lokasi industri maupun pemakaian tenaga kerja.

Ia memberi contoh bahwa perusahaan raksasa seperti Sony tidak lagi milik Jepang, karena di AS lebih banyak melibatkan warga AS.

Sumber : ANTARA (24/04/1997)

___________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 339-340.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.