HUT Mantan Presiden Ke-2 RI KHAWATIR DISANGKA MENDIKTE, SOEHARTO TAK UNDANG BJ HABIBIE

HUT Mantan Presiden Ke-2 RI

KHAWATIR DISANGKA MENDIKTE, SOEHARTO TAK UNDANG BJ HABIBIE[1]

 

Jakarta, Kompas

Probosutedjo mengatakan, mantan Presiden Soeharto memang tidak mengundang Presiden BJ Habibie untuk hadir pada hari ulang tahunnya yang ke-78 di Jalan Cendana, Jakarta, Senin (8/6).

“Karena bisa merepotkan, jadi lebih baik tidak. Pak Harto khawatir nanti dikira mendikte atau membayang-bayangi.” kata Probo kepada para wartawan di Menteng, Jakarta, Selasa (9/6).

Menurut Probo, hari ulang tahun Soeharto hanya dihadiri seluruh anggota keluarga dan para pejabat dalam jumlah yang terbatas.

“Ulang tahun ini tidak dipublikasikan karena Pak Harto kan bukan presiden lagi.” ujarnya.

Dalam pertemuan dengan para wartawan yang dihadiri anggota Komnas HAM Mayjen (purn) Samsudin, Probo mengulangi lagi pernyataannya bahwa Soeharto sebenarnya sudah tidak ingin lagi dicalonkan menjadi Presiden untuk periode 1998-2003.

“Tapikalau beliau mau karena desakan para pengurus Golkar dan lain-lain. Tapi dari pihak keluarga sebenarnya sudah minta agar Pak Harto tidak lagi jadi presiden.” ujarnya.

Diusulkan agar para putra-putri Soeharto tampil di muka umum untuk menjelaskan tentang kekayaan yang mereka miliki, Probo mengatakan,

“Dalam keadaan sekarang ini sebaiknya yang berwajib saja yang menyelidiki.”

Menurut Probo, kekayaan putra-putri mantan Presiden RI kedua itu sebenarnya tidak yang paling kaya, masih ada yang lebih kaya dari mereka.

“Tapi memang terus terang saja kok mereka jadi pedagang semua dan tentu ada yang menimbulkan kecemburuan.” ujarnya.

Probo menunjukkan beberapa pengusaha yang lebih jauh menikmati hasil pembangunan ini ketimbang keluarga Soeharto.

Selain itu Probo mengharapkan pemerintah mengambil sikap mengenai tuntutan agar empat Yayasan di bawah Soeharto menyerahkan kekayaannya kepada pemerintah. Yayasan tersebut adalah Yayasan Dharmais, Yayasan Supersemar, Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila (YAMP) dan Yayasan Abadi Karya Bhakti (Dakab).

Probo berpendapat, bila kekayaan sebesar Rp.2,5 triliun itu diserahkan kepada pemerintah untuk mengatasi masalah sembako, hanya akan habis untuk beberapa hari saja.

“Karena sekarang ini orang miskin sudah kembali menjadi sekitar 100 juta orang.” ujarnya.

Mengenai para putra-putri Soeharto yang belum mundur dari keanggotaan MPR, Probo mengatakan itu tidak masalah karena sebentar lagi kan ada Sidang Umum MPR dan Pemilu.

“Mereka akan segera diganti dan saya sendiri juga anggota MPR tapi tidak pernah dapat honor dan saya tidak pernah datang karena merasa kok yang dipilih begitu-begitu.” ujarnya.

Sumber : KOMPAS (10/06/1998)

_____________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 664-665.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.