HIMBAUAN PRESIDEN: JANGAN SALAH PILIH

HIMBAUAN PRESIDEN: JANGAN SALAH PILIH

KURANG lebih 200 perintis kemerdekaan yang berdomisili di ibukota diterima Presiden Suharto di Istana Negara, Rabu lalu. Dalam sambutannya pada kesempatan itu, Presiden menghimbau para perintis kemerdekaan untuk membantu pemerintah memberi penjelasan kepada masyarakat agar tidak salah dalam menggunakan hak pilihnya pada pemilihan umum 1982.

Sepintas lalu, himbauan Presiden bisa ditafsirkan macam-macam. Tapi bila dikaji cukup mendalam, apa yang dilakukan Presiden sebenarnya bukan saja mempunyai landasan cukup, kuat juga merupakan kewajibannya sebagai Mandataris MPR.

Salah satu tugas pokok yang diamanatkan MPR kepada Presiden sebagai Mandataris adalah menjamin kelancaran dan kesinambungan pelaksanaan pembangunan nasional seperti ditetapkan dalam Ketetapan MPR No. Vlll/MPR/1978.

Untuk melaksanakan amanat MPR yang dengan sendirinya merupakan amanat rakyat itu, diperlukan stabilitas nasional melalui pengembangan dan pemantapan kepemimpinan nasional sesuai dengan ketentuan konstitusi.

Seperti berulang kali ditegaskan Presiden, kepemimpinan nasional bukan terdiri dari pribadi-pribadi. Melainkan suatu siklus atau putaran mekanisme yang mencakup unsur-unsur yang menjamin pelaksanaan kedaulatan yang berada di tangan rakyat untuk menentukan nasib dan membentuk hari depannya sesuai dengan apa yang dituntut UUD negara kita.

Rangkaian dari putaran ini dimulai dengan pemilihan umum di mana rakyat Indonesia memilih wakil-wakilnya di lembaga tertinggi negara MPR yang akan menjadi pencerminan seluruh rakyat.

Sesuai dengan ketentuan UUD, MPR menetapkan GBHN dan memilih Presiden dan Wakil Presiden. MPR selanjutnya menetapkan Presiden sebagai Mandataris untuk melaksanakan GBHN. Di akhir masa jabatan Presiden/Mandataris, MPR mengadakan penilaian pertanggungjawaban Presiden atas pelaksanaan GBHN untuk kemudian memilih Presiden dan Wakil Presiden untuk masa lima tahun berikutnya.

Dari putaran mekanisme kepemimpinan nasional demikian itu agaknya jelas sekali bahwa pemilihan umum adalah titik tolak dan kunci. Ini berarti pelaksanaan dari hasil pemilu akan menentukan, apakah pencapaian cita-cita nasional melalui kelancaran dan kesinambungan pembangunan sebagai pelaksanaan GBHN akan terjamin atau tidak.

Disinilah letak kewajiban Presiden Suharto sebagai Mandataris MPR untuk jangka waktu lima tahun sekarang ini, menjamin pelaksanaan pemilu dengan sukses sehingga mampu pula menjamin putaran kepemimpinan nasional.

Kewajiban yang dilimpahkan MPR yang berarti pula dilimpahkan rakyat ke pundaknya itulah tampaknya yang menjadi titik tolak dan landasan bagi Presiden menyampaikan himbauan kepada para perintis kemerdekaan, Rabu lalu, untuk membantu pemerintah menjelaskan kepada masyarakat agar tidak salah pilih dalam pemilu 1982. Sebab, bila rakyat sampai salah menentukan pilihan dengan hasil pemilu yang akhimya tidak mampu menjamin putaran kepemimpinan nasional seperti diuraikan tadi, maka kelancaran dan kesinambungan pembangunan akan terganggu.

Menjadi pertanyaan tentunya, kenapa himbauan justru disampaikan kepada perintis kemerdekaan. Rasanya sulit disangkal, perintis kemerdekaan merupakan salah satu bagian rakyat Indonesia yang pengorbanan dan pengabdiannya kepada bangsa dan cita-cita kemerdekaan betul-betul tanpa pamrih.

Ini berarti, dengan terlaksananya pilihan rakyat yang menjamin kesinambungan putaran kepemimpinan nasional yang pada gilirannya menjamin pulakelancaran dan kesinambungan pembangunan nasional maka pengorbanan dan pengabdian para perintis kemerdekaan serta seluruh jajaran para pahlawan yang merelakan jiwa dan raganya akan tidak sia-sia.

Oleh sebab itu, sekalipun himbauan ditujukan kepada para perintis kemerdekaan, namun sesuai dengan posisi pemilu yang menjadi kunci kehidupan kita sebagai bangsa dalam menjamin pencapaian tujuan nasional, agaknya apa yang dihimbaukan Presiden patut sekali mendapat perhatian setiap manusia Indonesia yang merasa ikut bertanggungjawab dalam pencapaian tujuan nasional itu. (DTS)

Jakarta, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (18/10/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 631-632.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.