Hati Saya Tergetar

Tentena, 1 Juni 1998

Kepada

Yth. Bapak Soeharto

Jl. Cendana No.8

di Jakarta

 

HATI SAYA TERGETAR [1]

 

Dengan hormat,

Saat-saat Bapak membacakan pernyataan berhenti dari jabatan Presiden RI, saya berada di Jakarta. dalam rangka pertemuaan para Pendeta/Hamba Tuhan Kristen untuk Do’a Nasional. Hati saya tergetar dengan kebesaran jiwa Bapak, mata saya berkaca-kaca menahan haru.

Saya pada saat itu baru merasakan bahwa Bapak Soeharto adalah seperti Bapak saya sendiri. Saya dapat merasakan keperihan dan kegoncangan hati Bapak, melihat begitu banyak orang yang sangat dekat dengan Bapak satu persatu bahkan bersama-sama meninggalkan Bapak. Kami hanya orang kecil di Republik ini, hanya dapat menengadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dan memohonkan do’a.

Kami percaya bahwa Tuhan mengetahui kebaikan dan kearifan hati Bapak; Tuhan tentu mengampuni segala kekeliruan kita manusia yang lemah yang tak luput dari kesalahan. Saya mengajak keluarga dan umat yang saya pimpin untuk tetap mengasihi dan berdoa bagi Bapak Soeharto dan keluarga supaya dilindungi dan diberkati oleh Tuhan.

Kami juga menyampaikan do’a syafaat, kiranya Tuhan mengampuni bangsa kita dari segala kekerasan dan umpatan yang sering dilontarkan, serta segala tindakan distruktif dan anarkis. Kiranya Tuhan mengaruniakan Damai Sejahtera dan kembali memberkati bangsa Indonesia.

Bapak Soeharto, tetaplah dalam Kebesaran Jiwa, kuatkan dan teguhkanlah hati. Terimalah Salam dan Doa kami sekeluarga. (DTS)

Teriring Doa Senantiasa

Pdt. P.H. Saerang, S.Th., M.A.

Sulawesi Tengah

[1]     Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 1042. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto menyatakan berhenti dari kursi kepresidenan. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.