Hasjrul Harahap: Pak Harto Mengayomi dan Menguasai Medan

Mengayomi dan Menguasai Medan

Ir. Hasjrul Harahap (Menteri Kehutanan dalam Kabinet Pembangunan V)

Awal mula saya mengenal Presiden Soeharto sama dengan orang-orang lain, yaitu dari koran atau media massa lainnya. Saya baru mendapat kesempatan berkenalan dalam arti bersalaman dengan beliau pada tahun 1978, ketika saya sebagai anggota Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi) datang bersama-sama anggota-anggota lain ke Istana Negara untuk mendengarkan pidato Presiden dalam rangka pembukaan kongres Peragi. Ketika itu semua orang, termasuk saya, mendapat kesempatan untuk bersalaman dengan beliau. Itulah pertama kali saya mendapat kehormatan. untuk berkenalan dan bersalaman dengan beliau. Setelah itu tidak pernah lagi.
Perkenalan dalam arti sesungguhnya baru terjadi pada tahun 1983 menjelang pembentukan Kabinet Pembangunan IV. Kira-kira pada tanggal 9 atau 10 Maret tahun itu, saya mendapat panggilan untuk mertghadap beliau di Tapos. Saya dipanggil oleh ajudan beliau dengan perantaraan telepon ke rumah saya di Surabaya. Ketika itu saya menjabat Ketua Staf Bina Perusahaan Negara (SBPN) di Departemen Pertanian. Saya dipesan agar menghadap Presiden di Tapos keesokan harinya pada pukul 9.00 pagi.
Ketika berita itu sampai kepada saya, kapal terbang untuk ke Jakarta sudah tidak ada lagi. Kenyataan ini kemudian saya sampaikan kepada ajudan Presiden, namun ia tertawa saja sambil menegaskan sekali lagi agar saya datang ke Tapos, karena dipanggil. Pada waktu itu. saya tidak mempunyai pikiran apa-apa mengenai pemanggilan tersebut. Apa yang terbayang dalam pikiran saya hanyalah masalah yang sedang kami hadapi di Jawa Timur ketika itu, yaitu penyakit tanaman cengkeh. Mungkin kepada saya akan diminta penjelasan lebih jauh tentang masalah ini, karena daerah yang ditanami cengkeh di Jawa Timur itu memang cukup luas.
Pada waktu saya sampai di Tapos pagi itu, hujan sedang turun. Oleh petugas saya dibawa ke sebuah ruangan dimana Pak Harto sedang duduk-duduk antara lain dengan Pak Affandi, Pak Wardoyo dan Pak Hutasoit. Rupanya bapak-bapak tersebut baru saja melihat-lihat Tapos. Ketika itu saya merasa agak gugup, sehingga buku yang kebetulan saya pegang terlepas dari tangan dan jatuh ke lantai. Saya ingat sekali peristiwa itu. Saya lihat Pak Harto tersenyum-senyum saja; setelah itu beliau bertanya kepada saya, sudah eselon berapa saya. Selanjutnya beliau menjelaskan kepada saya bahwa saya dipanggil karena beliau telah memutuskan untuk menugaskan saya membantu Pak Affandi dalam hal tanaman keras. Inilah pertama kali saya mendapat kesempatan untuk berbicara dengan Pak Harto.
Kesan yang saya peroleh dari pertemuan tersebut adalah bahwa beliau seorang sesepuh yang bisa mengemong dan mengayomi. Sikap rendah hati beliau adalah sedemikian rupa sehingga tidak terkesan bahwa beliau seorang yang berkuasa. Saya ingat pula bahwa ketika itu kami makan ubi goreng. Beliau berkata: “Wah, enak begini“. Yang pertama kali saya rasakan adalah adanya perasaan keakraban dan kehangatan serta keramahan, namun tidak terlepas dari kebapakan dan kewibawaan. Kita misalnya sering menjumpai orang yang karena ingin wibawanya dianggap tinggi, lalu bersifat angkuh. Apa yang saya temui pada diri Pak Harto adalah berbeda sekali. Saya mendapat kesan bahwa beliau itu adalah seorang yang arif, bijaksana, namun memiliki wibawa dan bersifat mengayomi.
Setelah itu saya banyak mendapat kesempatan untuk mengamati beliau baik sebagai Kepala Pemerintahan maupun sebagai Kepala Negara. Saya berpendapat bahwa manusia tidak bisa terlepas dari lingkungan dimana ia dibesarkan. Begitu juga halnya dengan Pak Harto. Saya melihat pada diri beliau adanya kepemimpinan yang bersifat kekeluargaan, dimana yang menonjol adalah ciri kesetiakawanan dan kekeluargaan itu. Berdasarkan apa yang pernah saya pelajari, saya berkesimpulan bahwa hal ini rnungkin bersumber pada budaya Jawa, dimana seorang pemimpin itu digambarkan sebagai sung tulada. Seorang pemimpin harus memahami bagaimana kepentingan anak buah, apa masalah yang dihadapi anak buah. Karena itu saya memperhatikan bahwa disarnping beliau sebagai pemimpin dan Kepala Negara, Pak Harto juga bertindak sebagai seorang bapak dan orang tua. J adi dalarn hal ini saya merasakan bahwa dalam kesempatan-kesempatan yang kecil sekalipun, perhatian beliau terhadap bawahan terasa sekali. Sebagai contoh misalnya, pada waktu ibu saya meninggal, beliau menyempatkan datang ke rumah untuk melayat.
Sebagai seorang pemimpin kabinet, Pak Harto selalu memberikan kesan kepemimpinan kepada semua menko dan menteri. Setiap orang mendapat kewenangan masing-masing, akan tetapi kendali dan tanggungjawab tetap pada beliau. Beliaulah yang selalu memberikan petunjuk dan beliau pulalah yang memegang kendali. Saya memang merasakan ini pada setiap kali saya melapor. Saya terkesan sekali akan ketajaman daya ingat beliau terhadap data dan problematika. Dengan kata lain, beliau itu betul-betul menguasai medan, mampu menyelesaikan persoalan-persoalan dan menghadapi perubahan-perubahan, tanpa perlu menyalahkan siapapun. Jadi saya tidak melihat pada diri beliau sikap yang berusaha untuk membenarkan diri sendiri dengan jalan menyalahkan orang lain. Akan tetapi segala sesuatunya harus dikemukakan kepada beliau lengkap dengan alasan-alasannya. Karena itulah saya mengatakan bahwa kepemimpinan beliau adalah kepemimpinan kekeluargaan. Kepemimpinan beliau tidak menyebabkan orang lain takut, melainkan membuat orang mendapat kesempatan untuk memunculkan inisiatifnya serta mernperbaiki kekurangan-kekurangannya.
Sudah saya sebutkan di atas bahwa beliau mempunyai daya ingat yang tajam. Selain itu saya juga terkesan akan cepatnya reaksi beliau dalam menanggapi setiap permasalahan dan perkembangan yang terjadi. Ini pengalaman saya sendiri ketika saya melapor kepada beliau.
Pada waktu melapor, kadang-kadang saya melaporkan tiga atau empat persoalan sekaligus, dan semuanya itu memakan waktu paling lama satu jam. Namun dalam waktu yang relatif pendek itu, beliau bisa memberikan petunjuk dan membuat perbandingan antara berbagai hal dan memutuskan bahwa sebaiknya ini atau itu. Di sini saya melihat kendali beliau sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Dengan kata lain, beliau mengetahui keadaan, menyerap informasi-informasi yang masuk dan mengambil keputusan berdasarkan semuanya itu.
Dengan kepemimpinan yang bersifat kekeluargaan yang demikian, maka saya menghadapi Pak Harto seperti saya menghadapi orang tua dalam keluarga sendiri. Misalnya sewaktu berada di Tapos itu, saya berbicara secara terus terang kepada beliau: “Pak, saya masih kurang pengendalian diri saya“. Lalu Pak Harto menjawab: “Nah, itu yang mesti dipelajari dan diteruskan“. Pada waktu itu terlintas dalam pikiran saya bahwa karena Pak Harto telah menunjuk saya, maka sebaiknya saya berterus terang kepada beliau tentang keadaan diri saya. Perkataan Pak Harto itu saya anggap sebagai nasehat Pak Harto yang pertama kepada saya. Saya tidak tahu apakah beliau gembira atau tidak dengan apa yang saya kemukakan secara terus terang itu, namun bagi saya itulah pengalaman saya yang pertama dengan Pak Harto. Apa yang saya maksud dengan kurang pengendalian diri itu adalah dalam pengertian kurang disiplin dan kurang bisa mengendalikan emosi. Jadi katakanlah bahwa orang yang dapat mengendalikan diri itu adalah orang yang dapat melihat permasalahan tidak hanya sepintas lalu saja. Nah, setelah Pak Harto mengemukakan, sambil tersenyum, bahwa saya harus mempelajari terus masalah pengendalian diri ini, maka saya merasa sangat puas. Saya juga merasa lega karena saya telah mengemukakan kepada beliau siapa saya sesungguhnya, termasuk kekurangan-kekurangan saya.
Setelah tahun kedua atau ketiga saya jadi menteri, terjadi suatu perkembangan yang sangat menyentuh dari dalam. Saya menghadapi suatu persoalan yang cukup gawat, yaitu adanya perbedaan pendapat yang tajam antara saya dengan seorang menteri. Menurut pendapat saya kebijaksanaan yang telah diambil menteri tersebut tidak tepat. Untuk mencari kebenaran, maka saya mengadakan survey. Akan tetapi saya disalahkan Pak Harto karena telah mengambil tindakan seperti itu. Saya mengatakan bahwa saya bertanggungjawab sepenuhnya atas tindakan yang telah saya ambil. Ketika itu Pak Harto mengemukakan kepada saya suatu filsafat Jawa yang berbunyi: Perang tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Beliau menjelaskan bahwa filsafat ini mengajarkan kita untuk mencapai sesuatu tanpa menyakiti yang lain. Jadi kita itu jangan takabur dan sombong, demikian istilah beliau. Hal ini mengingatkan saya akan petuah yang pernah diajarkan kakek saya kepada saya:
“Kalau melihat, kamu jangan hanya melihat ke langit saja, karena dengan begitu kaki kamu bisa tersandung kerikil kecil. Karena itu kamu hendaklah juga melihat ke bawah, karena dengan begitu kamu akan menjadi hati-hati”.
Jadi kakek saya itu menasihatkan, boleh saja kita melihat ke atas, tapi jangan lupa memperhatikan batu kecil yang berada di bawah.
Kalau dipandang dari segi ekonomi, maka pemikiran beliau dapat digambarkan dari sebuah pengalaman yang saya peroleh sewaktu saya ditugaskan mengembangkan PIR. Tugas ini beliau gambarkan kepada saya dengan jelas sekali. Saya ditugaskan untuk mengembangkan pabrik bagi perkebunan teh rakyat. lntinya pabrik itu adalah milik yayasan. Nanti para petani akan digerakkan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga kualitas teh akan menjadi bertambah baik. Petani akan menjual daun tehnya ke pabrik dan pabriklah yang akan mengelolanya. Para petani itu akan diorganisir oleh koperasi-koperasi, dan selanjutnya koperasi itu akan memperoleh 40% dari saham pabrik itu.
Pabrik teh itu nantinya akan dikembangkan oleh para karyawan yang ditempatkan di sana. Para karyawan ini nanti akan menjadi anggota koperasi, dan saham perusahaan tersebut akan dijual kepada koperasi apabila perusahaan itu sudah menguntungkan. Dari peristiwa-peristiwa seperti ini, saya memperoleh kesan bahwa Presiden sangat memperhatikan masyarakat kecil, seperti persoalan bagaimana upaya untuk mengangkat rakyat kecil agar dapat naik ke atas, tanpa mengganggu atau mengurangi porsi yang kuat. Malah sebaliknya yang kuat inilah yang akan menarik yang lemah ke atas. Pikiran-pikiran seperti inilah yang sering beliau kemukakan kepada saya, yaitu pikiran-pikiran yang dapat dikatakan bertujuan untuk mencapai pemerataan pembangunan. Jadi dalam prakteknya, yang kuat bertindak sebagai bapak angkat dengan jalanmembantu yang lemah yang merupakan anak angkat. Inilah yang dikatakan kebersamaan, dan kebersamaan itu adalah kekeluargaan.
Dari semua itu dapat disimpulkan bahwa konsep dan pemikiran beliau sesuai dengan apa yang terdapat dalam pasal 33 UUD 1945. Pemikiran beliau itu adalah praktis yang dilaksanakan tanpa prosedur yang berbelit-belit. Yang penting adalah pelaksanaannya, dimana misalnya yang kuat diharuskan membantu yang lemah, dan bagaimana pula agar yang lemah dapat diorganisir sehingga memiliki kemampuan menyerap teknologi, dan mampu menolong dirinya sendiri. Dengan demikian pendapatan para karyawan akan meningkat dan perusahaan akan bertambah maju. Karyawan akan merasakan bahwa nasibnya tergantung kepada kehidupan dan kemajuan perusahaan itu, sehingga timbul perasaan ikut memiliki dan menjaga kelestarian perusahaan itu.
Dalam semua hal Pak Harto memanfaatkan butir-butir nasihat yang banyak terdapat dalam falsafah Jawa. Saya berpendapat bahwa falsafah-falsafah seperti ini juga terdapat di bagian-bagian lain tanah air kita, walaupun formulasi kata-katanya berbeda. Di daerah saya misalnya terdapat pribahasa yang artinya:

“Merunduk-runduk di bawah pohon jambu, siapa yang tunduk tidak boleh dibunuh”.

Ini berarti bahwa kalau orang telah insyaf atau sudah mengakui kesalahannya, jangan dipersalahkan terus. Kemudian, misalnya, konsep sense of belonging yang dalam filsafat Jawa diibaratkan dengan ungkapan melu handarbeni (ikut memiliki). Ini berarti bahwa mentang-mentang sesuatu itu milik bersama, lalu diperlakukan dengan semena-mena begitu saja, padahal sesungguhnya berdasarkan filsafat Jawa tadi kita berkewajiban untuk memeliharanya sebagaimana memelihara milik kita sendiri. Jadi memiliki itu mempunyai pertanggungjawabannya tersendiri yang merupakan akibat wajar dari pemilikan itu. Hal ini menurut saya dapat kita lihat dalam kepemimpinan Pak Harto.
Selama saya menjadi pembantu beliau, banyak sekali hal yang menarik dan sangat berkesan yang saya temukan pada Pak Harto. Salah satu diantaranya adalah pada waktu beliau meresmikan Pekan Penghijauan Nasional di Blitar. Dalam kesempatan itu beliau menyatakan bahwa bangsa Indonesia bertanggungjawab terhadap paru-paru dunia, yaitu hutan tropis dan isinya. Menurut pendapat saya ini merupakan suatu statement politik negarawan yang jantan dan bertanggungjawab. Dan setelah itu dalam beberapa pidato yang lain beliau menyatakan bahwa untuk memperbaiki kondisi hutan di Indonesia kita mengumpulkan uang 300.juta dolar Amerika setiap tahunnya; uang ini seluruhnya untuk pembangunan Hutan Tanaman Industri, rehabilitasi areal hutan dan rehabilitasi lahan kritis. Dengan demikian kita telah menyatakan tekad kita bahwa kita tidak akan mengurangi luasnya daerah hutan itu, malah sebaliknya akan berupaya menambah luasnya.
Dalam pidato kenegaraan tanggal 16 Agustus 1988, beliau mengatakan bahwa rusaknya hutan dan terganggunya lingkungan hutan disebabkan oleh masalah yang berkenaan dengan keadaan ekonomi pada umumnya. Jadi untuk menanggulangi masalah ini, perlu diadakan perbaikan keadaan ekonomi masyarakat. Bagi saya pernyataan ini sama dengan mengatakan kepada dunia internasional bahwa ini adalah tanggungjawab Indonesia, dan juga tanggungjawab dunia bersama. Dalam kesempatan pidato tanggal 16 Agustus itu, Pak Harto dengan tegas mengemukakan bahwa kerusakan bumi bukan hanya diakibatkan oleh negara-negara yang sedang berkembang saja, akan tetapi lebih banyak karena tindakan negara-negara maju. Namun demikian kita mau mengambil tanggungjawabnya. Kita perbaiki keadaan hutan itu dan keadaan lingkungan pada umumnya, meskipun kita tahu bahwa penyebabnya adalah mereka. Pernyataan ini benar-benar menimbulkan kesan yang dalam pada diri saya, karena itu merupakan suatu statement dari seorang kepala negara yang arif bijaksana. Pernyataan ini membuktikan bahwa beliau adalah seorang presiden yang mau mengayomi, yang mau mengajak dan menganggap dunia ini sebagai suatu keluarga kemanusiaan yang besar.
Apa yang digunjingkan orang di luar bahwa hutan belantara kita telah berubah menjadi padang pasir yang gundul adalah sama sekali tidak benar. Saya sendiri sebenarnya ingin sekali melihat dimana letaknya padang pasir yang dikatakan orang itu. Apa yang sesungguhnya terjadi adalah apa yang kita namakan pemanfaatan hutan dengan istilah “Tebang Pilih Tanaman Indonesia”. Kita tidak menebang hutan dengan jalan membabat habis, akan tetapi memilih mana-mana yang memenuhi persyaratan saja, itu yang ditebang.
Apa yang pernah terjadi di Kalimantan dahulu adalah ditimbulkan oleh kebakaran; itupun disebabkan oleh terbakarnya batubara secara tidak sengaja. Kini kandungan batubara tersebut telah dieksploitir.
Apa yang kita lakukan sekarang ini adalah upaya agar kita dapat meninggalkan hutan ini bagi anak cucu kita di kemudian hari dalam kondisi yang lebih baik dari apa yang tadinya kita terima dari generasi sebelum kita. Komitmen nasional seperti inilah yang menjadi tugas kami di Departemen Kehutanan, yang pada dasarnya adalah komitmen yang dikemukakan oleh Pak Harto. Beliau menyebutkan angka 20 juta hektar. Dengan uang yang 300 jut a dolar itu, maka kemampuan kita menanami hutan seluas 20 juta hektar akan memakan waktu 65 tahun, karena setiap satu tahun kita hanya mampu menanam 300 ribu hektar. Proses penghutanan itu memakan waktu yang cukup lama, sebab penanaman pohon baru berhasil setelah lima tahun.
Karena itu gerakan penghutanan kembali seharusnya merupakan suatu gerakan rakyat. Untuk ini tindakan yang paling pokok adalah kita tidak menyuluhkan cara yang salah kepada rakyat dalam soal menebang hutan. Setelah itu kita tingkatkan lagi, dengan jalan menyuluhkan kepada mereka bagaimana caranya memelihara hutan dengan baik. Hal ini penting sekali karena kita semua mengetahui bahwa rakyat itu haus akan tanah. Jadi kesadaran untuk memelihara hutan itu harus kita tanamkan pada mereka. Kita harus menyadarkan mereka bahwa, sesuai dengan hukum agama, bilamana merusak hutan maka wajib hukumnya bagi mereka untuk memperbaikinya kembali. Hanya manusialah yang mempunyai kemampuan untuk memperbaiki ini, karena hewan tidak ada yang bisa. Dari segi bangsa, maka hal ini dapat kita kemukakan sebagai berikut: hanya bangsa itu sendiri yang bisa memperbaiki kehidupannya, bukan bangsa lain atau orang lain. Di sinilah pentingnya konsep sense of belonging itu tadi, dimana termasuk didalamnya keinginan untuk mengoreksi kesalahan yang telah kita lakukan sendiri.
Hal ini sangat berbeda dengan apa yang kita jumpai di zaman demokrasi liberal dahulu, dimana pihak oposisi selalu berusaha untuk menyalahkan pemerintah, dan di pihak lain pemerintah berusaha untuk mempertahankan diri. Ini berbeda sekali dengan demokrasi yang kita alami sekarang. Sekarang ini tidak ada lagi tindakan mumpung berkuasa, dimana pihak yang berkuasa selalu memandang dirinya benar. Sekarang ini kalau faktanya memang nyata-nyata memperlihatkan kesalahan, maka marilah kita perbaiki kesalahan itu bersama-sama. Pendekatan kita adalah konsep Ketuhanan Yang Maha Esa, dimana kita mengakui bahwa tidak ada seorang minusia pun yang luput dari kesalahan dan kekhilafan. lni berbeda sekali dengan praktek yang terdapat di negara-negara diktator komunis, dimana negara selalu berada di pihak yang benar, dan siapa yang berani membantah sudah pasti salah.
Kalau kita pandang dari segi konstitusi, maka Presiden adalah tokoh yang bertanggung jawab sebagai mandataris MPR, sedangkan para menteri adalah pembantu beliau. Karena itu saya selaku menteri meminta petunjuk kepada beliau mengenai setiap permasalahan yang kita perkirakan mempunyai dampak nasional maupun internasional. Demikian juga mengenai masalah-masalah yang mempunyai dampak politik dan ekonomi. Pada waktu kita memberikan laporan kepada beliau, sebaiknya kita juga mengemukakan options dan alternatif-alternatif, sehingga dengan demikian kita dapat mempermudah tugas beliau dalam mengambil keputusan dan memberikan petunjuk.
Kepemimpinan Pak Harto sekarang ini bukan saja terasa di Indonesia, akan tetapi juga di dunia internasional. Kita sudah menyadari bagaimana kepemimpinan Pak Harto sangat dihargai di ASEAN. Setelah itu di KTT non-blok baru-baru ini, banyak pemimpin negara-negara non-blok yang telah mengakui keberhasilan kepemimpinan Pak Harto di Indonesia sampai menduduki tempat yang terhormat di dunia internasional. Kunjungan beliau ke Uni Soviet membuktikan bahwa kita bukan negara satelit Amerika, atau satelit negara-negara Barat sebagaimana dipercayai kalangan-kalangan tertentu di luar negeri.
Piagam yang diberikan PBB kepada Pak Harto dalam bidang keluarga berencana juga dapat ditafsirkan sebagai kesuksesan Pak Harto. Sebelumnya di Roma, dunia juga telah mengakui keberhasilan kepemimpihan Pak Harto dalam bidang pertanian pada umumnya dan dalam masalah beras pada khususnya.
Karena itu kita sangat menyesalkan orang-orang atau golongan-golongan tertentu yang selalu menonjol-nonjolkan kekurangan-kekurangan kita,yang sudah pasti masih ada, akan tetapi sama sekali menutup mata terhadap segi-segi positif yang telah kita capai. Dengan begitu sebenarnya kita mendidik rakyat dan bangsa kita untuk melihat yang jelek-jelek saja. Sesuatu yang kurang dibesar-besarkan, sedangkan yang bagus tidak diperhatikan, sehingga pemberitaan-pemberitaan itu sama sekali tidak proporsional.
Kita mengetahui bahwa setiap bangsa itu mempunyai tujuannya sendiri-sendiri, yaitu memajukan dan memakmurkan rakyatnya. Tetapi jenis politik yang dipakai untuk mencapai tujuan itu berbeda-beda. Orang komunis memakai cara-cara komunis, orang liberal memakai cara-cara liberal, sedangkan kita sendiri memakai cara Pancasila. Kelebihan Pak Harto adalah bahwa dibawah kepemimpinan beliau, Pancasila itu dioperasionalkan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya .
Demikianlah sekelumit pengalaman saya, kesan yang dalam mengenal lebih dekat Bapak Soeharto telah terpatri sedemikian rupa sehingga membawa manfaat untuk menempa sikap pengendalian diri saya. Pengalaman itu juga memberi kesan yang mendalam tentang perilaku kepemimpinan beliau, sebagai kepala negara yang arif dan bijaksana, serta berpandangan jauh ke depan, tetapi tetap berpijak pada budaya bangsa Indonesia yang bercirikan kekeluargaan. (AFR)

***

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.