HASIL PEMERIKSAAN KESEHATAN PRESIDEN SOEHARTO MELEGAKAN

HASIL PEMERIKSAAN KESEHATAN PRESIDEN SOEHARTO MELEGAKAN[1]

 

Jakarta, Kompas

KESEHATAN Presiden Soeharto baik, bahkan baik sekali untuk usia 75 tahun. Keterangan itu diberikan oleh Ketua Tim Dokter Rumah Sakit Jerman Bad Oeyenhausen yang secara seksama dan lengkap memeriksa kesehatan Presiden. Setiap kali pemeriksaan Prof. Reiner Koeefer memberikan keterangan dan penjelasan lengkap diberikannya lagi, setelah seluruh pemeriksaan selesai.

Ketika terbetik berita, Kepala Negara akan mengecek kesehatannya ke Jerman, muncul kerisauan dan spekulasi. Spekulasi dan kekhawatiran itu bahkan ikut sedikit mengguncangkan harga saham di Bursa Efek Jakarta, dan kurs rupiah di Singapura.

Bersyukurlah kita, kini, setelah hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa Presiden sehat, bahkan kondisinya sehat benar untuk orang berusia 75 tahun.

Kepastian tentang kesehatan Presiden penting bukan hanya untuk yang bersangkutan dan keluarganya, akan tetapi juga untuk kita bersama, bangsa Indonesia.

KESEHATAN Presiden Soeharto menjadi bahan pertanyaan dan spekulasi sejak beberapa waktu.Pertama karena usianya yang cukup tinggi. Juga karena pernah diberitakan terganggu ginjalnya, sekalipun kemudian juga dilaporkan penyakit itu telah sembuh.

Kesehatan Kepala Negara menjadi perhatian masyarakat Indonesia maupun masyarakat luar negeri, setelah kepergian Ibu Tien Soeharto secara mendadak 28 April yang lalu. Seperti diterangkan oleh Pak Probosutedjo, kepergian Ibu Negara itu menimbulkan trauma pada keluarga Pak Harto. Pengalaman traumatis itulah yang ikut mendorong Presiden mengecek kesehatannya di Jerman.

Umur di tangan Tuhan. Dengan sikap tawakal itulah kita mensyukuri kesehatan Kepala Negara. Kepastian bahwa Presiden sehat besar dampak pengaruhnya terhadap peri kehidupan kita bersama sebagai bangsa.

Guncangnya bursa dan nilai rupiah minggu lalu, sekadar menunjukkan salah satu dampak tersebut. Bahwa ekonomi kita telah berada pada posisi yang sedemikian rupa, sehingga terjalin saling mempengaruhi antara kondisi ekonomi dan kondisi politik.

Kondisi politik dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor dominan yang menentukan pengaruhnya adalah kepemimpinan nasional Presiden Soeharto. Fundamental ekonomi makro memang ikut berpengaruh seperti yang diutarakan oleh Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad. Tetapi kondisi dasar ekonomi makro itu pun terpengaruh oleh bobot kepemimpinan nasional.

SESUNGGUHNYA, inilah kondisi baru, di mana kita kini berada. Yakni bahwa kemajuan ekonomi Indonesia telah sedemikian rupa, sehingga seperti sesuatu yang paradoksal kedengarannya kondisi ekonomi itu tidak lagi berdiri sendiri.

Kondisi ekonomi berkaitan dengan luar negeri, seperti yang menyangkut investasi, kehadiran modal, lalu lintas modal dan perdagangan serta kepercayaan mereka.

Konsistensi kebijakan dan transparansi menjadi faktor. Demikian pula konsistensi dan kepastian. Kepastian itu menyangkut kepastian hukum, kepastian kebijakan dan arah serta kepastian yang bertalian dengan keamanan dan kestabilan. Keamanan dan kestabilan juga semakin kualitatif tuntutannya. Tidak lagi terbatas pada keamanan dan kestabilan secara fisik, akan tetapi meluas ke rasa aman serta stabilitas yang ditunjang oleh berfungsinya masyarakat melalui berbagai organisasi dan lembaganya.

INGIN kita menambahkan catatan kecil. Berita tentang rencana kepergian Presiden dan untuk memeriksakan kesehatan di Jerman, beredar dari luar negeri. Berita itu beredar secara terbuka, ketika informasi resmi belum ada di dalam negeri. Hal itu menunjukkan, bahwa informasi dan keterbukaan yang kita hadapi tidak lagi terbatas hanya dari dan di dalam negeri. Informasi dan keterbukaan itu benar-benar global, lalu lintasnya bebas menerobos tanpa batas geografi maupun tapal batas politik.

Kita, baik lingkungan pemerintahan maupun lingkungan masyarakat, mau tidak mau harus bersiap diri terhadap kondisi baru itu.

HILANGNYA spekulasi tentang kesehatan Presiden memperkukuh kepastian tentang masa transisi yang mau tidak mau harus kita lalui. Yakni kepastian bahwa masa transisi itu, demi keselamatan bersama, perlu disertai dan diantarkan oleh kepemimpinan nasional Presiden Soeharto.

Sementara itu, berulang kali ia menegaskan perlunya musyawarah untuk mufakat sebagai mekanisme, budaya maupun jati diri politik Indonesia.

Sumber : KOMPAS (13/07/1996)

____________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 704-706.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.