HASIL PEMBITJARAAN DPR- GR DJAJA DGN PEMERINTAH PUSAT TENTANG PERIMBANGAN KEU

HASIL PEMBITJARAAN DPR-GR DJAJA DGN PEMERINTAH PUSAT TENTANG PERIMBANGAN KEU.[1]

 

Djakarta, Berita Yudha

Pimpinan DPR GR Djakarta Raya jang terdiri dari para wakil ketuanja jaitu Alexander Wenas, Hartono RM. H. Ajatulah Saleh dan Drs. Djamin Ali, kemarin bertempat di Operation Room Balaikota telah mengadakan konperensi pers chusus mengenai perimbangan keuangan dalam pemerintah DCI Djaja. Dalam konperensi pers tsb. Oleh Alexander Wenas telah diuraikan mengenai hasil2 pembitjaraan delegasi DPR GR DCI Djaja dengan pemerintah pusat dan pemerintah DCI Djakarta Raya.

Delegasi dari DPR GR antara lain telah mengadakan pertemuan2 dengan Menteri Keuangan, Ketua DPR GR (Pusat) HA. Sjaichu dan Menteri Dalam Negeri jang diwakili oleh Dirdjen Urusan Pemerintah Umum dan Otonomi Daerah Majdjen Sumandar.

Telah Ada Pengertian dari Pemerintah Pusat

Dalam pertemuan tersebut telah diperoleh pengertian dari pemerintah pusat bahwa masalah perimbangan keuangan harus segera dapat diatasi, demikian Alexander Wenas dan sebagai realisasinja antara lain jalah diserahkanja 3 buah padjak radio, padjak orang2 asing dan padjak ganti nama.

Chusus mengenai Ibukota Djakarta Raya sesuai dengan UU No. 10/1964 harus ada pengaturan2 tersendiri dari pemerintah pusat.

Antara lain disebutkan masalah beaja2 untuk rehabilitasi prasarana, fasilitas2 perkotaan dan bagi kesedjahteraan masjarakat sebaiknja dipikul bersama antara pemerintah DCI Djaja dan pemerintah pusat.

Data2 Defisit Pemerintah DCI Djaja

Mengenai defisit jang dialami oleh pemerintah DCI disebutkan bahwa pendapatan pemerintah DCI adalah sebesar Rp. 2 milijard lebih dan pengeluaran adalah Rp. 4 milijard lebih, dengan demikian pemerintah DCI mengalami defisit sebesar Rp.2 milijard.

Untuk biaja2 rehabilitasi prasarana dan fasilitas2 perkotaan ditambah dengan fasilitas untuk kesedjahteraan masjarakat (bidang kesehatan, pendidikan dll.nja) sudah memakan 43 % dari Anggaran Belandja pemerintah DCI.

Berhubung dengan itu diharapkan dapat ditutup dari pemerintah pusat sebesar Rp.1,5 milijard, namun realisainja ternjata hanja sebesar Rp. 225 djuta sadja.

Dengan keadaan itu dimana usaha2 untuk kesedjahteraan masjarakat tidak bisa ditunggu2 lagi maka pemerintah DCI telah mengadakan usaha2 pentjarian dana setjara inconvensionil.

Dichawatirkan bahwa sampai achir tahun 1968 jad. ini berhubung inflation rate, defisit jang dialami oleh pemerintah DCI akan sampai Rp. 4 milijard.

Masalah H H dan Lotto Harian

Dalam suatu kesempatan untuk tanja djawab dengan wakil Ketua DPR GR Harsono RM wartawan “Muda” menanjakan mengenai masalah H H dan Lotto Harian dalam rangka usaha pemerintah DCI.

Dalam tanja djawab mengenai H H, Harsono RM menjatakan bahwa jang harus diperhatikan ialah penjebarannja dikalangan masjarakat.

Kalau H H dilokalisir sebenarnja bukan mendjadi persoalan lagi.

Tambahan pula dalam mentjari sumber2 keuangan jang inconvensionil pihak DPR GR DCI Djaja telah pertjaja sepenuhnja kepada Gubernur DCI Djaja.

Mengenai Lotto Harian dikatakan bahwa itu adalah experimen dari pemerintah DCI.

Sebenarnja djauh H H belum diusahakan untuk usaha2 pentjarian sumber2 keuangan inconvensionil setjara besaran2, namun demikian adalah tergantung dari masjarakat untuk menilainja, demikian Keterangan Harsono RM. (DTS)

Sumber: BERITA YUDHA (09/08/1968)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku II (1968-1971), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 66-67.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.