HASIL KUNJUNGAN PRESIDEN

HASIL KUNJUNGAN PRESIDEN

Kunjungan seminggu Presiden Soeharto ke India dan Pakistan menghasilkan buah-buah persahabatan yang berhikmah. Pengertian antar-negara tidak hanya bertambah baik. Ada dorongan baru untuk membentuk kerjasama yang takzim dan konstruktif dalam mendukung pengertian itu.

Dengan Pakistan pendekatan ditekankan pada usaha meneguhkan kembali landasan persahabatan yang ada. Nampaknya pula telah terjadi penjajagan yang menyangkut enerji nuklir karena Pakistan telah membangun pusat tenaga nuklir sebagai warisan mendiang Zulfikar Ali Bhutto sewaktu masih hidup dan berkuasa.

Di India telah terjadi pembicaraan yang penting dalam bidang kerjasama politik dan ekonomi. Gagasan Non Blok tidak hanya menjadi perhatian pokok, tetapi juga pertukaran pikiran telah diadakan menyangkut masalah kamboja dan Afghanistan. Dalam hal Kamboja Indonesia telah mengetahui pendirian India. Dalam masalah Mghanistan kedua fihak berusaha memikirkan suatu penyelesaian yang wajar.

Kerjasama ekonomi merupakan kaitan penting. Eksperimen India dalam penanaman gandum di daerah sub tropis telah memperoleh perhatian Presiden ketika mengunjungi pusat riset pertanian. India berhasil mensukseskan revolusi hijaunya dan mampu mencapai target produksi yang menakjubkan dalam memenuhi kebutuhan bahan makanan bagi rakyatnya yang 700 juta. Tahun ini hasil panen berlimpah-limpah. Pemerintah Indira Gandhi memperoleh pujian lagi atas kurnia kemakmuran pertanian yang menenteramkan hati rakyat.

Bidang industri menempati fokus utama dalam pembicaraan. India ingin mengimpor kelapa sawit, pupuk, semen, gas alam dan besi spons. Ia sebaliknya mampu menjual pada kita mesin-mesin untuk pabrik semen, pellet baja dan Indonesia juga mengharapkan India mengambil bagian dalam usaha eksplorasi dan eksploitasi minyak di Indonesia.

Semua ini tentu saja baru langkah awal. Kedua pihak menaruh harapan bahwa kerjasama ekonomi dan industri dapat dikembangkan.

Yang terakhir ini mungkin karena India, telah berhasil dalam membangun industri-industri hulunya sejak 1950-an dan telah memasuki tahap produksi industri untuk memenuhi keperluannya maupun untuk ekspor. Jadi peningkatan kerjasama ekonomi dengan India akan memberi arti yang bermanfaat bagi kita.

Ada pandangan, terutama dari pihak dunia industri Barat, yang meragukan bisa diselenggarakannya kerjasama ekonomi antar negara-negara berkembang. Hasil kunjungan Presiden membantah anggapan yang kurang baik itu.

Dalam komunike bersama yang dikeluarkan sebagai hasil kunjungan Presiden Soeharto ke India, diletakkan suatu landasan yang nyata tentang mampunya negara-negara berkembang mengembangkan kerjasama ekonomi dan industri atas dasar yang sehat dan positif. Ini suatu contoh yang konstruktif dan perlu diperluas menjadi pola internasional bagi negara-negara berkembang.

Dalam rangka tekad kita untuk mensukseskan pembangunan nasional nilai kunjungan Presiden ke India dan Pakistan itu memberi dorongan baru yang tentu saja berguna.

Kita harus belajar menggali sumber-sumber kerjasama baru yang tidak saja menguntungkan kita tetapi juga dapat meneguhkan itikad baik dalam hubungan sating­bantu yang tidak merendahkan dan mengecewakan kita. (DTS)

Jakarta, Merdeka

Sumber: MERDEKA (06/12/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 679-680.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.