HARI KELUARGA NASIONAL UNTUK KESEJAHTEARAN KELUARGA

HARI KELUARGA NASIONAL UNTUK KESEJAHTEARAN KELUARGA[1]

Oleh Erafzon Saphyulda AS. Banda Lampung, Antara

Tanggal 29 Juni 1993, bertepatan dengan 23 tahun usia Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Presiden Soeharto mencanangkan Hari Keluarga Nasional di Bandar Lampung. Keluarga, institusi terkecil di masyarakat itu,merupakan wadah sosialisasi yang paling akrab bagi setiap insan. Ketika makhluk tercerdas ciptaan Tuhan itu lahir, maka sebuah keluarga akan menyambutnya.

Presiden International Union Of Family Organization (Organisasi Keluarga Internasional) mengatakan keluarga, dipelihara atau tidak, akan selalu ada dalam kondisi apapun.

Tidak heran, jika timbul berbagai definisi tentang lembaga itu dari seluruh penjuru dunia. Kepala BKKBN Haryono Suyono mencatat, sekurangnya, lebih dari 50 definisi tentang keluarga, tertulis dalam dokumen resmi di dunia saat ini.

Indonesia sejak dini memberi perhatian yang serius kepada lembaga ini. Undang­ undang nomor 10 tahun 1992 dan GBHN 1993 menyebutkan, keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-isteri, atau suami isteri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.

Dijelaskan juga, keluarga sejahtera yang diidam-idamkan oleh setiap insan, adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materi yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antara keluarga dengan masyarakat dan lingkungannya.

Pemberian nilai-nilai religius pada pengertian itu, kata Haryono, sesuai dengan semangat dan kon disi masyarakat Indonesia yang agamis, seperti yang termaktub pada kata Ketuhanan di Pancasila.

Wadah terbaik

Keluarga yang kokoh dan kuat merupakan wadah terbaik untuk menyemai bibit manusia yang berkualitas untuk menjadi modal utama dalam pembangunan. Namun, tantangan untuk membina keluarga sejahtera dari masa-kemasa semakin berat. Masyarakat Indonesia saat ini mengalami transformasi sosial secara cepat. Keluarga Indonesia yang tradisional pertanian dalam waktu singkat, kurang dari satu periode kehidupannya, harus menyemaikan diri dengan perubahan internal yang mendasar, kata Haryono.

Mereka yang mulanya tidak harus mendidik dirinya melalui institusi asing seperti sekolah, kini hampir seluruhnya mengikuti proses sosialisasi melalui sekolah. Tantangan tersebut semakin berat lagi di era informasi saat ini. Masuknya budaya, sikap, pandangan dan nilai-nilai asing langsung ke setiap anggota keluar melalui media elektronik, cetak dan kemudahan mobilitas, mengharuskan bangsa itu untuk lebih waspada.

“Namun kita harus sadar, kondisi seperti itu merupakan tuntutan zaman, seiring dengan kemajuan peradaban manusia. Kita tidak bisa membendungnya. Kita harus menyiasatinya agar bisa bermanfaat bagi pembangunan keluarga, “kata Haryono.

Para ahli sependapat, Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika ini memiliki keluarga yang bersifat majemuk. “Keluarga Indonesia yang standard tidak ada,” kata Haryono.

Kemajemukan itu merupakan kekayaan budaya bangsa. Kondisi itu memberikan pula keanekaragaman yang menarik untuk mengembangkannya. Sikap toleransi dan kekeluargaan antar suku yang dimiliki oleh semua masyarakat ini merupakan alat pemersatu. Hal itu terbukti sejak dari awal peradaban hingga saat ini. Sikap kekeluargaan dan gotong royong semakin terlihat jelas di masa perjuangan kemerdekaan.

Yogya Kembali

Pada 24-29 Juni 1949, Clash II, penjajah Belanda setuju untuk mengosongkan ibukota, saat itu, Yogyakarta. Letkol Soeharto, kini Presiden, tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memberi kesempatan kepada anggota pasukannya yang berada di hutan bergabung kembali dengan keluarganya.

Sebelum hari “H” sebagian anggota pasukannya sudah menyelusup ke ibukota Yogyakarta untuk menyaksikan realisasi janji Belanda, sekaligus mempersiapkan pengambilalihan kekuasaan ibukota dan menjaga-jaga kemungkinan yang tak terduga.

Pada hari H-nya pasukan Indonesia yang berada di sekitar Yogyakarta, di bawah pimpinan Letkol Soeharto masuk ke ibukota, melapor pada Sultan Hamengkubuwono IX, siap mengambilalih kekuasaan di Yogyakarta.

Saat-saat bersejarah itu akan selalu diingatkan kembali dengan pada saat bangsa ini memperingati Hari Keluarga Nasional setiap tahun.

Bertemunya pasukan Indonesia yang berada disekitar Yogyakarta dengan anggota keluarganya merupakan simbol bagi pasukan-pasukan lain, insan-insan lain dalam rentang waktu dan tempat yang berbeda, untuk berkumpul kembali dengan keluarganya atau dengan pasangannya, untuk membentuk dan mewujudkan keluarga sejahtera.

Komitmen untuk menciptakan keluarga kecil bahagia dan sejahtera juga merupakan komitmen dunia. Persatuan Bangsa-Bangsa pada 15 Mei 1994 akan mencanangkan Hari Keluarga Dunia. Komitmen politis tersebut diharapkan, pada tahun-tahun mendatang, merupakan suatu gerakan masyarakat yang dinamis menuju perbaikan kualitas sumberdaya manusia, kata Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN Haryono Suyono.

Sekitar 42 juta keluarga Indonesia saat ini dan jutaan lain yang akan berkembang di masa datang, diharapkan akan lebih mudah mengenyam pendidikan, pelayanan kesehatan, kesempatan kerja, keadilan dan hak-hak mendasar lainnya, sesuai dengan amanat UUD 1945. (FAC-T.PU12/SU05/8:38AM/SP03/28/06/93 15:06)

Sumber:ANTARA(28/06/1993)

_____________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 898-900.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.