HARI INI PAK HARTO GENAP 75 TAHUN

HARI INI PAK HARTO GENAP 75 TAHUN[1]

 

Jakarta, Republika

Jenderal TNI Purnawirawan Haji Muhammad Soeharto genap berusia 75 tahun. Dan inilah peringatan ulang tahunnya yang agak khusus, yakni yang pertama tanpa sang pendamping setia, Hj. Siti Fatimah Hartinah Soeharto. Kendati diliputi duka, Pak Harto tetap nampak tegar.

Ucapan selamat dan doa datang dari dalam maupun luar negeri. Presiden Rusia Boris Yeltsin, misalnya, melalui siaran pers kedutaannya di Jakarta, berharap

“Presiden Soeharto diberi kesehatan dan kesuksesan demi kemakmuran Indonesia.”

Akan halnya, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH. Hasan Basri, berdoa :

“Mudah-mudahan Allah SWT memberi kekuatan lahir dan batin agar beliau mampu memimpin bangsa.”

Seperti ditegaskan saat pencanangan Hari Lansia di Semarang pekan lalu, tahun 1998 nanti Pak Harto sudah termasuk lansia. Toh, banyak masyarakat yang berharap tampilnya kembali Pak Harto memangku tugas berat dimasa mendatang.

Tadi malam, misalnya, beberapa jam menjelang ulang tahunnya, sejumlah ormas Islam tak hanya mendoakannya, melainkan juga mengharap DPP Golkar mencalonkannya lagi sebagai presiden untuk periode 1998-2003 dalam SU MPR mendatang. Dukungan itu diberikan oleh 29 Ormas Islam yang melakukan pertemuan di Jakarta Convention Center, Jakarta.

Pak Harto lahir di Kemusuk, Argamulya, Godean, Yogyakarta. Di hari tuanya, beliau makin khusuk dalam beragama. Setelah melakukan umrah, bersama seluruh anggota keluarganya, beliau menunaikan ibadah haji. Juga menginstruksikan pengiriman dai ke daerah-daerah terpencil. Lewat Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila, Pak Harto juga memprakarsai cara pembiayaan pembangunan masjid­-masjid. Dalam mengawali pidato selalu didahului dengan basmalah dan salam. Semasa kecil, Pak Harto dididik di sekolah Muhammadiyah.

Pak Harto berasal dari keluarga petani. Ayah beliau, Kertosudiro, seorang juru pengairan (ulu-ulu). Berasal dari rakyat kecil dan orang desa membekas pada kepribadiannya : ramah dan sederhana. Terkenal dengan julukan The Smiling General. Juga komunikatif. Setiap kunjungan ke daerah, Pak Harto selalu berdialog dengan seluruh lapisan masyarakat. Rakyat begitu lancar mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Pak Harto pun mampu menciptakan suasana yang akrab. Bahasa yang sederhana dan penuh humor.

Lewat kepemimpinannya, bangsa dan negara Indonesia bisa berkelit dari kekacauan situasi tahun 60-an. Saat itu ekonomi porak-poranda, sistem pemerintahan yang belum mapan, rakyat baru lepas dari petualangan PKI yang berpuncak pada kudeta G30S/PKI. Kini kondisi Indonesia jauh lebih baik. Bahkan di bidang teknologi, Indonesia sudah mulai bisa menyejajarkan diri dengan bangsa yang lebih maju. Yaitu lewat keberhasilan membuat pesawat tercanggih di kelasnya, N-250.

Pasangan Pak Harto-Ibu Tien dikaruniai enam orang anak : Siti Hardiyanti Rukmana, Sigit Harjojudanto, Barubang Trihatmodjo, Siti Hediati Prabowo, Siti Hutami Endang Adiningsih, dan Hutomo Mandala Putra.

Perjalanan hidup Pak Harto begitu panjang. Dimulai sebagai pembantu klerek pada Bank Desa di Wuryantoro tapi kemudian masuk tentara. Hingga kemudian menjadi jenderal. Tentu dengan pengalaman dan prestasi yang segudang.

Kyai Hasan Basri bersyukur atas umur panjang yang dikaruniakan Allah kepada Pak Harto. Berdasarkan hadis Nabi saw, kata dia, sebaik-baik manusia adalah yang berumur panjang dan baik amal perbuatannya. Sebaliknya, seburuk-buruk manusia, berumur panjang dan jelek amal perbuatannya.

“Mudah-mudahan beliau termasuk yang pertama.” katanya.

Sumber : KOMPAS (08/06/1996)

__________________________________________________________
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 736-738.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.