HARGAI PROGRAM KEPENDUDUKAN

Soeharto – Green Satu Jam Di Cendana

HARGAI PROGRAM KEPENDUDUKAN [1]

 

Jakarta, Merdeka

Presiden Soeharto mengatakan bahwa Rakyat Indonesia sebagai manusia Pancasila memiliki dua sifat yang manunggal atau monodualistis yaitu dia sebagai makhluk individu dan disamping itu juga sebagai makhluk sosial.

Presiden Soeharto mengemukakan hal tersebut ketika ia menerima kunjungan kehormatan Marshall Green, bekas Dubes AS di Indonesia yang dewasa ini menjabat sebagai Koordinator Masalah Kependudukan di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama satu jam di Cendana Rabu pagi itu, Green menghargai kemajuan yang telah dicapai Indonesia dalam program ke pendudukan. Ia mengatakan bahwa kemajuan itu dicapai karena mendapat tanggapan yang positip dari masyarakat terhadap pelaksanaan program kependudukan berkat bimbingan pemerintah yang intensip.

Presiden Soeharto menjelaskan bahwa program kependudukan di Indonesia telah dikerjakan secara teratur dan intensip oleh Pemerintah, terutama dalam masa pembangunan. Ditegaskannya bahwa suksesnya program kependudukan adalah merupakan yang wajar, karena program pembangunan yang teratur.

Seterusnya dikatakan oleh Kepala Negara bahwa mungkin sebagai individu ada orang yang tidak setuju dengan program Keluarga Berencana, tetapi kewajiban sebagai anggota makhluk sosial mentaati tugas2 keluarga berencana tersebut.

Green datang ke Cendana diantar oleh Dubes AS disini Newsom, ketika Green diterima oleh Presiden Soeharto, Ny. Green telah pula diterima oleh Ny. Tien Soeharto ditempat yang sama, tetapi dilain ruangan.

Indonesia banyak memperoleh keberhasilan dalam program keluarga berencana dan kependudukan, tapi hal ini masih memerlukan kerja terus, demikian dikemukakan oleh Marshall Green dalam jumpa pers hari Rabu di Jakarta.

Dikatakannya setiap negara mempunyai masalah tersendiri dalam kependudukan. Juga Amerika Serikat, walau telah maju tapi tetap mempunyai masalah penduduk, dan dalam rangka itulah saya diutus oleh pemerintah Amerika dan Presiden Ford untuk meninjau beberapa negara berkembang seperti Indonesia untuk melihat dan mempelajari bagaimana cara pelaksanaan keluarga berencana di negara itu dan apa letak keberhasilannya.

Sebagai negara dimana saya pernah bertugas, kata Green, saya banyak mengenal Indonesia dan setelah melakukan perjalanan beberapa daerah saya mendapatkan kesan yang berharga dalam program keluarga berencana disini. Letak keberhasilan itu dijelaskannya banyak disebabkan karena adanya kerjasama yang baik antara pejabat2 pemerintah dengan petugas2 lapangan seperti dokter, bidan dukun dan tenaga sukarelawan lainnya.

Green menekankan pula bahwa masalah penduduk ini mempunyai kaitan yang luas dan kemajuan pembangunan tidak akan ada artinya kalau masalah penduduk tidak dijalankan dengan baik. Jika dunia yang sedang dilanda kekurangan pangan ini tidak memperhatikan masalah penduduk, maka entah apa yang akan terjadi dimasa nanti, katanya. Sebagai contoh Green menjelaskan pula, bahwa Amerika Serikat, sendiri menghabiskan biaya 50 juta dolar setahun untuk memecahkan soal penduduk ini.

Persoalan sekarang bukan banyak bicara, tapi dunia harus mencari apa cara2 penyelesaian yang baik dari soal penduduk itu, dilanjutkan Green. Dijelaskan pula bahwa disamping Indonesia ia akan melihat pula Singapura, Thailand, Bangladesh dan India, Setelah itu baru ke London untuk bertukar pikiran dengan organisasi kependudukan dunia disana.

Green membenarkan Rabu pagi itu ia juga melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Soeharto yang dikatakannya dalam rangka tukar pikiran serta pandangan dalam pelaksanaan keluarga berencana.

Amerika Serikat menjanjikan akan memberikan bantuan sebesar 3 juta dollar untuk tahun 1976/1977 berupa pemberian latihan2 dan demonstrasi program kepada petugas2 keluarga berencana Indonesia.

Kerjasama

Dikatakan disamping itu Amerika juga akan terus membina kerjasama dengan Indonesia dalam menghasilkan alat2 kontrasepsi, karena itu pula dalam setiap pertemuan internasional mengenai kependudukan selalu akan diutamakan untuk mendengarkan cara keluarga berencana apa yang berhasil dilaksanakan disatu negara.

Menjawab pertanyaan, sistim IUD (Spiral) merupakan alat yang lebih menjamin keluarga berencana, namun demikian cara humor dalam penyampaian keluarga berencana amat baik dilakukan. Kemajuan ekonomi amat penting, tapi kemajuan itu saja tidak berarti kalau jumlah manusia terus bertambah.

Akhirnya Green mengajak marilah kita galakkan terus usaha untuk masalah penduduk ini, dan baginya serta Amerika Serikat umumnya pengalaman program keluarga berencana Indonesia mengesankan, seperti apa yang dilihatnya di Bali. (DTS).

Sumber: MERDEKA (05/02/1976)

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 37-39.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.