HARAPAN PRESIDEN SOEHARTO: HENDAKNYA EKA DASA RUDRA BIMBING KITA MAWAS DIRI

HARAPAN PRESIDEN SOEHARTO:

HENDAKNYA EKA DASA RUDRA BIMBING KITA MAWAS DIRI

Presiden Soeharto Rabu siang mengharapkan Karya Eka Dasa Rudra, upacara keagamaan yang agung umat Hindu membimbing kita untuk melakukan mawas diri, apakah sebagai umat beragama telah benar2 menghayati nilai2 agama sebagai pedoman hidup. Sesungguhnya agama tidak cukup sekedar dipahami.

"Agama harus dihayati sehingga menyemangati peri kehidupan kita sebagai insan beragama, baik dalam kehidupan orang seorang maupun dalam pergaulan bersama di masyarakat", kata Kepala Negara dalam sambutannya pada upacara pelaksanaan Karya Eka Dasa Rudra di Pura Besakih, Pulau Bali

Kita harus menyadari sedalam2nya bahwa dihayatinya agama secara sungguh2 dalam peri kehidupan akan memberikan kehidupan akan memberikan kekuatan kejiwaan yang kokoh bagi terwujudnya cita2 utama bangsa kita, yakni terwujudnya masyarakat Pancasila.

Kepala Negara sebelumnya menyampaikan ucapan selamat kepada segenap umat Hindu dalam rangka upacara berakhirnya tahun 1900 tarikh Caka ini.

"Semoga Karya Suci saudara-saudara diterima Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa, sehingga ia berkenan melimpahkan keselamatan dan kesejahteraan pada kita semua".

Hari persembayangan umum untuk umat Hindu seluruh Bali dan seluruh Indonesia ini berlangsung pada hari terakhir bulan Kesanga.

Kedudukan Tinggi

Pada permulaan sambutannya Kepala Negara mengatakan apabila Presiden Republik Indonesia hadir disini, hal itu mencerminkan betapa negara kita yang berlandaskan Pancasila benar2 ingin menempatkan agama pada kedudukannya yang tinggi.

Kepala Negara kembali mengulangi dalam pembangunan nasional yang sedang berjalan, keagamaan tidaklah diabaikan. Bahkan pembangunan dalam bidang agama ditempatkan sebagai bagian kerangka pembangunan nasional.

"Sebab dengan pembangunan nasional itu kita berusaha membangun manusia Indonesia yang utuh dan membangun seluruh masyarakat Indonesia".

Kepada umat Hindu, Kepala Negara mengharapkan agar menjadikan saat pelaksanaan Karya Eka Dasa Rudra ini sebagai tonggak untuk membina dan mengembangkan agama sebaik2nya pada masa mendatang

Dan bersama2 dengan umat beragama lainnya yang sebangsa dan se-tanah air terus menggalang persatuan dan kesatuan bangsa serta menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk mensukseskan pelaksanaan pembangunan dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang maju sejahtera dan berkeadilan sosial, kata Presiden Soeharto.

Presiden Soeharto dan Ny. Tien beserta rombongan setibanya di Pura Besakih disambut oleh Gubernur Bali di Penataran Agung yang kemudian bersama-sama berjalan kaki menuju ruangan Wantilan Pura Besakih di mana upacara pelaksanaan Karya Eka Dasa Rudra dilangsungkan.

Kepala Negara, Ny. Tien berikut undangan2lainnya duduk bersila di Wantilan.

Dalam rombongan resmi Presiden terdapat Menko Kesra Surono, Menteri Agama Alamsyah, Menteri P & K Daoed Yoesof, Menteri Emil Salim, Wakil Ketua DPR/MPR Isnaeni, Mensesneg Soedharmono, dan putra-putri Presiden.

Menurut rencana Rabu petang Presiden akan kembali ke Jakarta setelah mengikuti upacara tsb.

Mepepada

Setelah upacar Mepepada (penyucian binatang korban semua binatang tersebut dibunuh dengan keris pusaka Pura Pande di Besakih dan selanjutnya dijadikan bahan sesajen (jawar dan pejegan) yang dipergunakan untuk upacara puncak Eka Dasa Rudra, Rabu siang.

Sekurang-kurangnya empat ratus ekor binatang dari 80 jenis telah dijadikan korban dan penggarapannya dilaksanakan Selasa pagi melalui prosesi keliling Kompleks Taur Agung di Pura Besakih.

Binatang2 korban itu diletakkan sedemikian rupa menurut arah angin sehingga membentuk bangunanPatmasana yang melambangkan tempat duduk dari Sang Hyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Agung.

Bagian tengah ditempatkan binatang korban buaya, macan, ikan gabus, elang, ular, tikus, landak, biyawak dan lain-lain. Di sebelah utara di tempatkan korban burung garuda, kera hitam dll. Di sebelah timur angsa, bebek dll. Di sebelah selatan a.l. ayam dll. Di barat laut menjangan, di timur laut kuda, di tengara kambing dan di barat daya anjing belang bermulut putih (belang bungkem).

Orang Bali percaya bahwa semua binatang korban di pura Besakih pada suatu saat akan menjelma menjadi manusia atau berinkarnasi sebagai pendeta sakti.

Seperangkat gamelan yang masih baru Selasa sore telah ditabuh mengiringi Mepepada dan mengiringi persembahyangan umat yang sejak pagi mulai datang dalam jumlah yang banyak dari seluruh pelosok Pulau Bali.

Mereka membawa alat2 untuk menginap karena kuatir tidak akan bisa masuk pura Besakih pada saat upacara puncak. Di dalam balai Wantilan tikar dihampar di lantai tempat para tamu utama dan undangan penting akan duduk bersila dan keempat tiang utamanya dihias dengan kain hitam putih lambang dewa2 utama Brahma dan Siwa.

Dalam upacara besar, korban menjadi amat penting untuk menunjukkan cinta kasih dan danna bakti manusia terhadap Ida Shanghyang Widiwasa.

Makin besar korban dan makin sulit memperoleh binatang2 korban menunjukkan pula ikhtiar manusia yang sungguh2 dan menunjukkan cinta kasihnya terhadap Tuhan dan alam.

Karena itu dalam upacara Eka Dasa Rudra yang hanya teijadi 100 tahun sekali, binatang2 kesayangan manusia maupun binatang2 hutan yang amat liar memegang peianan yang amat penting.

Manusia yang dikorbankan diganti dengan anyaman Songkui Wongwongan yaitu berupa anyaman pelepah kelapa dan daunhya simbol badan dan tulang rusuk untuk menggantikan manusia yang sebenarnya. (DTS)

Denpasar, Sinar Harapan

Sumber: SINAR HARAPAN (28/03/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 383-385.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.