HARAP BERSABAR DAN TAWAKAL

HARAP BERSABAR DAN TAWAKAL[1]

 

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto mengatakan, gejolak ekonomi dan moneter yang sedang menerjang Indonesia menghadapkan bangsa ini pada pilihan-pilihan sulit. Dalam suasana keprihatinan dan berat ini, masyarakat diminta senantiasa bersabar dan tawakal mengendalikan diri serta jangan putus asa.

Marilah kesulitan-kesulitan yang kita rasakan dewasa ini, kita hadapi bersama­sama dengan sabar, tawakal dan kerja keras, kata Presiden pada peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Istiqlal, Jakarta kamis malam (15/1). Acara yang disiarkan langsung oleh TVRI ini dihadiri Wapres dan Ny. Tuti Try Sutrisno, Menag Tannizi Taher dan para menteri lainya serta pejabat tinggi negara-negara sahabat.

Presiden mengatakan Al-Quran mengingatkan bahwa ditengah-tengah kesulitan pasti akan ada jalan keluar yang memberi kemudahan.

“Kita pun diingatkan agar dalam menghadapi kesulitan senantiasa bersabar dan bertawakal kepada Allah SWT, sambil berusaha dan bekerja keras mengatasi kesulitan-kesulitan tadi.” kata Kepala Negara.

Setiap orang diharapkan mengendalikan diri agar tidak terjerumus kepada hal­hal yang dapat merugikan kepentingan bersama. Masyarakat harus hidup lebih hemat dan tidak mengeluarkan uang untuk hal-hal yang belum perlu dimiliki. Menunda keinginan untuk mencapai hasil yang lebih baik adalah sikap yang bijaksana.

Masyarakat hendaknya juga memelihara ketentraman, lebih saat sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Ketentraman perlu terus dipelihara agar semua dapat mengatasi kesulitan.

“Gejolak sosial hanya akan membuat keadaan yang sulit bertambah makin sulit.” ucap Presiden.

Kepala Negara menyebutkan masyarakat harus tetap memelihara kejernihan berfikir. Presiden mengingatkan serta mengutip Al Quran yang menyatakan.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”

Jadi jangan kita terlalu gembira apalagi lupa diri jika kita merasakan suatu kesenangan. Sebaliknya jangan kita mengutuki segalanya ketika kita dihadapkan kepada hal-hal yang tidak menyenangkan. Setiap kejadian tentu ada hikmahnya, tetapi hikmah dari suatu kejadian sering tidak dapat dipahami pada saat peristiwa itu terjadi. Bertahun-tahun kemudian barulah disadari hikmah dan kebaikan dari peristiwa tadi.

Materialisme

Sementara itu Menag Tarmizi Taher mengingatkan materialisme adalah musuh utama agama dan kemanusiaan. Materialisme bisa mengikis habis perasaan halus kemanusiaan dan kasih sayang. Dalam dunia politik, materialisme membuat politik hanya dilihat sebagai ajang perebutan kekuasaan, bukan tempat kemaslahatan orang banyak. Kemiskinan pun harus di perangi karena kemiskinan membuat manusia ingkar kepada Allah. Namun di sisi lain berlimpahnya uang dan materi juga ditakuti Nabi. Materialisme akan menelorkan krisis yang paling berat dalam diri manusia yaitu krisis spiritual. Puncaknya melahirkan manusia tanpa hati, katanya ditambahkan, inti krisis kemanusiaan dan peradaban modern saat ini adalah despiritualisasi dan dekadensi moral.

Dekan fakultas dakwah lain, Jakarta, Dr. HM Yunan Yusuf dalam uraian tentang Nuzulul Alquran mengingatkan, manusia akan selalu menghadapi godaan konsumerisme, individualisme, dan hedonisme. Godaan itu membuat manusia ingin kaya dengan cara yang tidak pantas. Selanjutnya godaan itu menumbuhkan kecenderungan melanggar aturan dan perilaku tidak disiplin.

“Akibatnya, bila terus dibiarkan berkembang, sikap itu akan merusak tenunan pembangunan yang dengan susah payah telah kita rajut.” katanya.

Sumber : SUARA KARYA(16/01/1998)

_____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 836-838.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.