HANYA SEDIKIT ORANG YANG SANGAT BERHASIL

HANYA SEDIKIT ORANG YANG SANGAT BERHASIL[1]

 

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto menjelaskan mengapa HPR (Hak Pengusahawan Rutan) hanya dikuasai oleh sedikit orang saja, demikian juga penyaluran terigu dan gula serta industri semen.

Penjelasan itu disampaikan kepada sekitar 100 perwira menengah ABRI peserta Sekolah Staf Komando (Sesko) ABRI di Bina Graha, Rabu (4/12). Presiden dalam kesempatan itu didampingi Pangab Jenderal TNI Feisal Tanjung.

Jika bidang-bidang usaha itu sekarang tampaknya dikuasai oleh beberapa orang saja, menurut Presiden, bukan karena pemerintah hanya memberi kesempatan kepada mereka sejak awal. Dengan demikian tidak berarti bahwa pembangunan pada akhirnya hanya untuk membesarkan mereka-mereka itu.

Pada dasarnya, menurut Presiden dalam wejangan tanpa teks, kesempatan sudah diberikan secara luas. Sebagai contoh disebutkan soal HPR. Hak Pengusahawan Rutan pada awal pembangunan dahulu diberikan kepada misalnya para pejuang dan organisasi sosial. Namun mereka tidak mampu mengusahakan nya, sehingga dijual kepada pihak-pihak yang mampu mengelolanya.

“Oleh karena itu ada pengusaha yang menguasai sampai satu juta HPR, karena ia membeli RPR-RPR dari pihak- pihak yang tak mampu mengusahakannya.” ujar Presiden.

Demikian juga dalam pembangunan pabrik semen. Presiden menceritakan pernah ada upaya pemerintah untuk tidak memberi izin kepada pengusaha produsen semen yang ada memperluas usaha. Ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada pengusaha lain mendirikan pabrik semen.

“Pernah sampai 23 pemohon investasi pabrik semen diberi kesempatan oleh pemerintah untuk membangun industri,namun setelah ditunggu beberapa lama tidak satu pun yang mampu mewujudkan pendirian pabrik semen.” ujar Presiden.

Pada akhirnya kegagalan dari ke 23 investor tersebut menimbulkan akibat kurangnya pasokan semen.

“Kalau sudah begitu akhirnya rakyat yang menanggung akibatnya dengan kelangkaan semen.” kata Kepala Negara.

“Nah, itu kenyataan, bahwasanya, melaksanakan pemerataan sesuai dengan keinginan untuk memberikan kesempatan, ternyata tidak mampu. Kalau ndak mampu dipaksa, diberi kesempatan, ya, tidak mampu.” kata Presiden.

Setelah melihat pengalaman itu, kata Presiden menjelaskan, pemerintah kembali memberi kesempatan kepada industriawan semen yang telah ada untuk mengembangkan kapasitasnya.

“Memang perluasan investasinya lebih murah, karena sudah punya prasarana sendiri, sehingga efisien.” ujar Presiden.

Dalam penyaluran gula  dan terigu, dijelaskan  Presiden, haknya juga tidak diberikan kepada sedikit orang. Kesempatan itu diberikan secara luas kepada mereka yang menginginkan. Namun karena mereka tidak memiliki kemampuan mendistribusikan bahan pangan pokok tersebut, akibatnya distribusinya macet.

“Yang menderita adalah rakyat, karena sulit mendapatkan bahan bahan pangan, dan kembali yang tampaknya melaksanakan pendistribusian bahan pokok itu hanya orang yang itu-itu juga.” tambah Presiden.

Presiden mengatakan pemerataan untuk berusaha juga diberikan seperti pengelolaan iuran TV, pengolahan tebu dan sebagainya.

“Pengelolaan bidang-bidang itu sebenarnya dilakukan pemerataan, tetapi banyak yang tidak mampu, sehingga yang kelihatan akhirnya yang itu- itu juga karena mereka yang berhasil.” ujar Presiden.

Orang-orang yang tidak mengerti, menurut Presiden, menuduh pemerintah hanya memberikan kesempatan kepada golongan tertentu saja.

Pada awal pembangunan, menurut Presiden, kondisi semua orang sama. Presiden bahkan menggambarkan bahwa semua dulu sama-sama hanya bercelana kolor.

“Namun mereka yang ulet dan mampu berusaha sekarang sudah pakai pantalon, sedang yang tidak mampu ya tetap memakai katok (celana, Red) kolor.” ujar Presiden.

Kemiskinan

Presiden menjelaskan kepada para perwira menengah bahwa tantangan yang dihadapi sekarang ini adalah menghapuskan kemiskinan. Jika pada awal Orde Baru rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan sekitar 60 persen, sekarang tinggal 14 persen.

Kepala Negara memperkirakan, rakyat yang hidup di garis kemiskinan akan bisa diangkat semua kepada kehidupan yang lebih baik pada akhir Pelita VII.

“Orang miskin pada awal Orba tidaklah sama dengan orang miskin sekarang, ini perlu disadari.” kata Presiden.

Oleh karena itu Presiden bertanya-tanya pada pihak yang menuduh bahwa pembangunan yang dilaksanakan sekarang ini hanya menimbulkan kesengsaraan rakyat.

Presiden mengakui bahwa pembangunan sekarang belum berhasil seperti yang dicita-citakan. Namun digambarkan jika pembangunan itu merupakan perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta, maka mungkin seorang bam sampai di Salatiga, jadi memang belum sampai ke Yogyakarta.

Peran Pribadi

Presiden dalam kesempatan itu juga membantah jika disebut keberhasilan pembangunan di Indonesia karena peran pribadinya.

“Sebagai mandataris saya hanya melaksanakan saja sesuai dengan yang dikehendaki rakyat yang dirumuskan dalam GBHN.” kata Presiden.

Presiden bercerita kepada para peserta Sesko ABRI bahwa ia sering mendapat pujian dari para pemimpin dunia dalam pertemuan-pertemuan di forum internasional. Pujian itu ditampik dengan menjelaskan bahwa keberhasilan Indonesia dewasa ini berkat tersusunnya rencana sesuai dengan kehendak rakyat dan mekanisme pemilihan yang berlangsung setiap 5 tahun. Semua rencana itu dilaksanakan secara konsisten dan bertahap.

Ini berbeda dengan pemerintahan Orla yang menjalankan roda pemerintahan tidak konsisten. Umur pemerintahan ada yang hanya sebulan.

“Jangankan melaksanakan pembangunan, apalagi merencanakan, orang menulis saja belum kering, pemerintahan sudah  ganti.” ujar Presiden.

Menempatkan Diri

Presiden dalam sambutannya mengemukakan, dalam menghadapi arus perubahan yang sedang terjadi, ABRI sebagai kekuatan sosial politik (sospol) tidak harus selalu menempatkan dirinya pada posisi di depan/Peran ABRI sebagai kekuatan sospol senantiasa harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan masyarakat.

Para perwira yang menghadiri di acara itu terdiri dari perwira menengah (berpangkat kolonel) dari ketiga angkatan dan Polri. Mereka berasal dari TNIAD (43 orang), TNI AL (17), TNIAU (18) dan Polri (22). Peserta Sesko diantar Dansesko ABRI Mayjen TNI M Yunus Yosfiah.

Kepala Negara menekankan, dengan adanya stabilitas nasional, maka pembangunan bisa dijalankan dan dengan membangun ada pertumbuhan, akhirnya bisa dilakukan pemerataan.

Sedangkan dalam suasana kestabilan politik yang mantap dan terkendali, maka ABRI menempatkan peranan sospolnya dalam posisi tut wuri handayani.

Menempatkan diri dalam posisi tut wuri handayani itu, kata Kepala Negara, tidaklah berarti berkurangnya kemanunggalan ABRI dan rakyat.

Menurut Kepala Negara, dalam menghadapi peluang dan tantangan dari zaman yang terus berubah, ABRI memerlukan kader-kader penerus kepemimpinan yang tangguh. Wajah kepemimpinan ABRl di masa depan, menurut Presiden, sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam ikut memecahkan aneka persoalan yang dihadapi oleh bangsa dan negara.

Untuk itu, tambah Kepala Negara, bukan saja tekad, semangat dan profesionalisme yang harus dimiliki, tetapi juga kemampuan untuk membaca tanda-­tanda zaman dan memahami ke arah mana perubahan masyarakat sedang bergerak.

“Setiap peluang tentu harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Demikian pula setiap tantangan harus dihadapi dengan sikap dan tindakan yang terbaik.” kata Kepala Negara.

Menurut Presiden, sikap dan tindakan yang terbaik hanya akan dimiliki, jika ABRI mampu meningkatkan ketajaman pemikiran dalam menangkap dan menerjemahkan aspirasi yang berkembang dalam masyarakat.

Keterlibatan ABRI sebagai kekuatan sospol dalam menumbuhkan stabilitas dan mendorong dinamika masyarakat, hasilnya telah dirasakan oleh seluruh rakyat. Sedangkan dalam era perdagangan bebas nanti, Kepala Negara menekankan perlunya ABRI memikirkan keterlibatannya dalam mendorong dinamika pertumbuhan ekonomi.

“Kita menyadari bahwa dengan makin meredanya ketegangan di berbagai belahan dunia, maka hubungan antar bangsa di masa depan akan didominasi oleh kerja sama di bidang ekonomi.” kata Kepala Negara.

Sumber : SUARA KARYA (05/12/1996)

________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 519-522.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.