HANYA 13 MENIT, DINAMIKA

HANYA 13 MENIT, DINAMIKA[1]

 

 

Jakarta, Merdeka

PERKIRAAN banyak orang bahwa SU MPR hanya ketok palu, benar-benar jadi kenyataan. Hal itu bisa disimak dari singkatnya pengambilan keputusan ketika anggota MPR periode 1997-2002 menyetujui Rancangan Keputusan (Rantus) Tatib MPR menjadi Tap nomor I/MPR/1998.

Belum lagi sidang berjalan 13 menit, tepatnya pukul 09.12 WIB, sebanyak 997 anggota MPR seperti terhipnotis ketika ketua sidang Harmoko menanyakan apakah sidang dapat menyetujui Rantus MPR tentang jadwal acara Sidang Umum MPR tahap kedua tanggal 1-11Maret 1998 menjadi Keputusan MPR.

Para wakil rakyat dari kelima fraksi itu langsung saja menyatakan setuju, tanpa menyampaikan pandangan atau pendapat baik sebagai pibadi maupun mewakili fraksinya masing-masing. Tanpa ada yang mengomando para wakil rakyat itu langsung menyatakan setuju.

Tidak salah juga karena semua anggota majelis sudah menyatakan persetujuannya, Harmoko yang memimpin sidang tanpa menoleh ke kiri dan kanan langsung mengetokkan palunya ke meja, sebagai pertanda rapat menyetujui ditetapkannya Rantus Tatib MPR menjadi keputusan majelis yang pertama.

Selesai memukulkan palu ke meja, Ketua MPR/DPR Harmoko dengan wajah cerah menyatakan,

“Terima kasih. Sekarang marilah kita melanjutkan acara rapat paripurna Majelis ini sesuai dengan jadwal acara yang telah kita sepakati bersama.” katanya.

Ketua Umum DPP Golkar yang beberapa waktu lalu mempersilahkan BJ Habibie maju sebagai calon wakil presiden itu kemudian mempersilakan Presiden Soeharto menyampaikan pidato pertanggungjawabannya selaku Mandataris MPR periode 1993-1998.

Sebagaimana diketahui, lancarnya pengambilan keputusan itu karena sebelum dibawa ke persidangan, seluruh materi Rantus Tatib MPR telah di setujui oleh kelima fraksi MPR untuk ditetapkan menjadi keputusan majelis. Persetujuan itupun tidak gampang, tapi melalui lobi beberapa kali.

Oleh karena itu sebetulnya, kalau 997 anggota MPR dari kelima fraksi kemarin menyetujui Rantus Tatib MPR menjadi keputusan, itu sesuatu yang wajar. Apalagi, tidak ada materi yang prinsip, semua menyangkut masalah teknis. Sehingga pembahasannyapun tidak perlu bertele-tele menghabiskan tenaga.

Hanya saja yang perlu dicatat dari singkatnya waktu untuk menetapkan keputusan MPR tersebut, adalah tidak ada basa basi di dalam sidang. Maka jadilah pengambilan keputusan majelis itu dilakukan secara cepat. (HPS)

Sumber : MERDEKA (02/03/1998)

____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 119-120.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.