H. PROBOSUTEDJO : PAK HARTO TIDAK AKAN KAWIN LAGI

H. PROBOSUTEDJO : PAK HARTO TIDAK AKAN KAWIN LAGI[1]

 

Jakarta, Suara Pembaharuan

H. Probosuledjo, pengusaha terkemuka, menjamin Pak Harto tidak akan kawin lagi

“Saya jamin, Pak Harto tidak akan kawin lagi.” kata Probosutedjo dalam acara peluncuran bukunya ‘Keimanan Guru Pengusaha’ di kediamannya Jalan Diponegoro Jakarta, Kamis (1/5) malam.

Pengusaha nasional yang juga adalah saudara Pak Harto, lahir tanggal 1 Mei 1930. Tepat pada peringatan ulang tahunnya ke 67, meluncurkan buku Keimanan Guru Pengusaha yang berisi kumpulan tulisannya di Harian Berita Buana. Menurut Probosutedjo, banyak fitnah yang dialami Pak Harto. Tidak memimpin sidang kabinet, karena para menteri menyerahkan DIP ke daerah-daerah, diisukan sakit dan berobat ke Singapura. Harga saham anjlok.

“Terakhir dikatakan Pak Harto kawin. Banyak yang menanyakan hal itu kepada saya.” jelasnya.

Isu kawin itu saya tanyakan kepada Pak Hano kira-kira sebulan yang lalu. Mas, katanya mau kawin? Dijawab dengan ekspresi yang agak kaget. Mau kawin sama siapa? Katanya sama adiknya Pertiwi (Adik iparnya Bob Hasan). Adiknya Pertiwi yang mana, kenal pun tidak, katanya. Terus saya cek lagi, ternyata Pertiwi itu tidak punya adik. Yang diberitakan di luar katanya yang adiknya Pertiwi itu adalah dokter gigi. Dokter giginya Pak Harto itu bukan perempuan, dokternya laki-laki, namanya Bambang.

Bagi Pak Harto lebih penting mengentaskan kemiskinan rakyat Indonesia daripada kawin. Selain itu, kalau Pak Harto kawin berarti memisahkan diri dari putra-putri, dari keluarga.

“Kalau kawin, itu berarti yang menguasai rumah tangga itu istri, kan. Anak kan terpaksa jauh, enggak berani lagi datang ke situ. Saya pun tidak mau datang lagi, kan dikuasai oleh istri. Jadi ndak mungkin Pak Harto punya pikiran begitu.” katanya.

Pak Harto itu, tambahnya, orang yang paling cinta kepada anak, kepada keluarga.

“Sampai dia tidak mau tinggal di Istana itu kan karena cinta keluarga.”

Bagaimana dengan posisi sebagai Kepala Negara, tanya wartawan di sela-sela peluncuran buku tersebut. Dijawab, sebagai Kepala Negara yang kesibukannya begitu, beliau itu bisa mengatur pekerjaan. Makanya, setiap hari, setiap sore, terima tamu. Enggak putus-putus.

Posisi Ibu Negara bagaimana, tanya wartawan lagi. Dijawab, bukan mutlak adanya Ibu Negara. Seperti Pak Harto itu mungkin dikehendaki supaya bisa konsentrasi. Mungkin kalau kawin lagi mengganggu. Minta fasilitas ini, fasilitas itu, cilaka kita.

Pak Harto, ujar Probo, orang yang beriman, orang yang tahu bagaimana hidup ini nantinya, sudah tahu betul-betul. Seperti sekarang dengan kawinnya Tommy, dapat istri seorang Solo begitu. Itu kan suatu hikmah, suatu berkah. Pada waktu Ibu Tien meninggal, di rumah diadakan tahlilan setiap malam. Rupanya di dengar oleh Tuhan, sehingga Tommy itu diarahkan, ini lho jodohmu. Kenalannya hanya beberapa bulan, enggak ada dua bulan.

Waktu Pak Soeharto mengawinkan anaknya itu, (Tommy) masih saja diejeki. Kamu itu kapan mau kawin. Umurmu sudah 35, nanti anakmu masih kecil-kecil, kamu sudah bungkuk, bagaimana. Saya katakan begitu. Rupanya ndak lama, dikasi tahu. Saya dipanggil untuk mengatur perkawinan. Itu kan suatu hikmah, petunjuk dari Tuhan. Kenapa didapatkan orang yang orang tuanya tidak punya ambisi. Enggak punya ini, itu. Anaknya juga pendidikannya cukup. Itu menurut saya suatu hikmah.

Apa Pak Harto tidak perlu pendamping? Pendampingnya cukup seperti kami, seperti anak, seperti juga menteri yang setiap pagi, setiap malam itu mesti ada yang datang.

Kalau saya menghadap sore-sore begitu, jam setengah delapan pasti sudah terima tamu. Sering-sering begitu saya juga tanya, ndak capek mas? Dari pada nganggur begitu lebih baik terima tamu. Jadi istilah pendamping itu ndak ada itu. Di mana-mana juga tidak mutlak mesti ada pendamping seorang istri. Ndak ada itu.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (02/05/1997)

______________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 708-710.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.