GUS DUR : PAK HARTO MASIH CUKUP KUAT

GUS DUR : PAK HARTO MASIH CUKUP KUAT[1]

Jakarta, Surya

Ketua Umum PBNU H. Abdurrahman Wahid menilai, meski usia Jenderal TNI (Pur) Soeharto sudah mencapai 72 tahun, namun secara teoritis Pak Harto masih tetap akan kuat memperpanjang lagi masa baktinya untuk menjadi Presiden RI periode 1998-2003.

Sebagai perbandingan, Abdurrahman Wahid menunjuk pemimpin RRC Deng Xiao Ping yang usianya melebihi 80 tahun, tapi masih kuat memimpin negara Cina yang besar.

“Apakah bisa bertahan memimpin terus, tergantung perawatan medis. Tapi teoritis masih mampu, karena Deng Xiao Ping saja usianya 80-an,” ujar Gus Dur, panggilan akrab Abdurrahman Wahid kepada Surya, di Jakarta, Selasa (15/6).

Menurut Gus Dur, adalah wajar jika seseorang itu mempersiapkan pengunduran diri karena menganggap usianya sudah cukup tua, tetapi bukan berarti Pak Harto tidak akan dicalonkan MPR kembali.

“Kita tidak boleh menganggap bahwa Pak Harto tidak akan dicalonkan lagi oleh MPR. Tapi kalau Pak Harto siap mengundurkan diri, ya boleh saja,” tutur cucu pendiri NU KH Hasyim Asyari ini.

Jadi, tandasnya adalah wajar kalau Pak Harto mempersiapkan diri untuk mundur.

”Namanya umur kan, tidak bisa ditawar. Ya Pak Harto itu menyiapkan diri, mungkin faktor usia dan mungkin karena keadaan yang semakin rumit sehingga di luar kendali, sehingga perlu orang yang lebih muda,” ujarnya.

Menurut Gus Dur, ada dua kemungkinan yang dipersiapkan oleh Pak Harto. Kemungkinan pertama, Pak Harto sudah menyiapkan seorang calon Presiden penggantinya. Kemungkinan kedua, bagaimana menciptakan Sidang Umum MPR 1998 mendatang yang lancar, aman dan tertib.

Namun demikian, kata Gus Dur, Pak Harto hanya akan maju terus jika tidak ada penggantinya.

“Pak Harto sebagai seorang Presiden tentu akan mempersiapkan diri untuk mundur pada masa akhir jabatannya 1998 kalau memang ada penggantinya, tapi kalau tidak tidak ada penggantinya, ya mungkin akan jalan terus,” tambahnya.

Menurut Gus Dur, dalam bangsa kita ini tidak ada konflik, tetapi yang ada adalah persaingan, sehingga setiap suksesi pergantian pimpinan nasional tidak perlu dikhawatirkan.

“Setiap persaingan itu biasa saja jangan dianggap konflik. Konflik itu kalau antar ideologi”. (ars)

Sumber : SURYA(16/01/1993)

______________________________________________________

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 52-53.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.