GUNAKAN SISA JABATAN SEBAIK MUNGKIN

GUNAKAN SISA JABATAN SEBAIK MUNGKIN

 

 

Jakarta, Media Indonesia

Presiden Soeharto menginstruksikan kepada para menteri untuk lebih meningkatkan koordinasi satu dengan lainnya dan menggunakan masa jabatan yang tinggal setahun ini dengan sebaik-baiknya.

“Koordinasi itu diperlukan supaya dapat memperkukuh kemantapan kerangka landasan pembangunanjangka panjang tahap I, baik menyangkut bidang ekuin, polkam maupun kesra,” ujar Kepala Negara seperti dikutip Menpen Harmoko seusai Sidang Kabinet Terbatas bidang Ekuin di Bina Graha kemarin.

Presiden, kata Harmoko, juga mengharapkan koordinasi dan waktu yang digunakan dengan sebaik-baiknya itu nantinya dapat dipakai atau diwariskan bagi pemerintahan mendatang yang akan ditentukan oleh Sidang Umum MPR 1993.

Permintaan Kepala Negara itu dikemukakan berkaitan dengan penyerahan DIP (Daftar Isian Proyek) untuk 27 propinsi pekan lalu dan bersamaan dengan dimasukinya anggaran tahun ke-4 Pelita yang dimulai 1 April.

 

Kembangkan Potensi

Selanjutnya, tutur Hannoko, Presiden mengingatkan agar terus dikembangkan potensi-potensi yang ada, khususnya menyangkut masalah listrik, terutama dalam memenuhi kebutuhan industri. “Karena itu pembangunan prasarana listrik oleh swasta harus digiatkan, sehingga 1.000 perusahaan yang kini belum mendapat listrik dapat segera diatasi.”

Dari hasil sidang, Harmoko mengemukakan bahwa angka inflasi Maret mencapai 0,65% sehingga untuk tahun anggaran mencapai 9,78% dan tahun takwim 1,35%. “Angka inflasi 0,65% untuk Maret ini disebabkan terjadinya perubahan pada Indeks kelompok makanan 1,41%, perumahan 0,22%, sandang 0,82%, aneka barang dan jasa 0,13%, sementara jumlah uang yang beredar hingga akhir Januari mencapai Rp.26,231 triliun,” tuturnya .

Untuk neraca perdagangan, nilai seluruh ekspor Januari 1992 mencapai US$ 2,124 rniliar dan nilai impor US$2,206 miliar. “Sehingga dalam neraca perdagangan terdapat defisit sebesar US$82,6 juta,” jelas Harmoko.

Sedangkan nilai ekspor migas pada Januari berdasarkan harga realisasi namun cukup tajam yaitu 37,7% atau sebesar US$ 728,4 juta. Penurunan ini, katanya, selain turunnya harga rnigasjuga akibat berkurangnya volume ekspor minyak mentah sebesar 35,7%.

Nilai ekspor non migas, menurut dia, dibandingkan dengan Januari 1991 hanya naik 0,2%. “Nilai ekspor non migas untuk Januari mencapai US$ 1,395 miliar,” tuturnya. Penurunan ini, katanya, perlu diselidiki lebih !anjut apakah melemahnya permintaan dunia atau diakibatkan oleh faktor-faktor lain.

 

 

Sumber : MEDIA INDONESIA (02/04/1992)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 106-107.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.