GUNAKAN MOBIL PRIBADI DENGAN PENUMPANG PENUH

SERUAN PRESIDEN:

GUNAKAN MOBIL PRIBADI DENGAN PENUMPANG PENUH [1]

Jakarta, Merdeka

Presiden Soeharto meminta kesadaran masyarakat agar dalam menggunakan mobil-mobil pribadi seperti sedan dan jeep mau secara bersama-sama 4 sampai 5 orang untuk tiap hari pergi ke kantor dan pulang.

Seman ini dikemukakan Kepala Negara dalam sambutan ketika meresmikan jembatan baru lintas Tomang di Jakarta, Sabtu pagi lalu. Menurut Presiden tiap pagi atau siang ribuan sedan berjejal-jejal memenuhi jalan-jalan hanya dengan seorang penumpang. Sungguh hal itu merupakan pemborosan, baik dalam penggunaan jalan maupun dalam penggunaan bahan bakar minyak.

Oleh karena itulah untukmengurangi kemacetan lalu lintas dan untuk meniadakan pemborosan, Kepala Negara menekankan perlunya kesadaran masyarakat disamping adanya pengaturan-pengaturan dari Pemerintah Daerah.

Jembatan lintas Tomang yang melintang menghubungkan daerah Slipi dengan darah Tanah Abang-Roxi itu, diresmikan dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun yang ke-450 Jakarta Raya dan menelan biaya Rp. 2,6 milyar. Pembangunan Jakarta memerlukan ikhtiar yang khusus, karena masalah-masalah yang dihadapi oleh ibukota ini tak terhingga besarnya, kata Presiden. Pelbagai usaha telah dilakukan pemerintah Daerah untuk menjadikan Kota Jakarta pantas sebagai Ibukota, jadi kota pusat pemerintahan dan perekonomian yang dapat dibanggakan. Tapi bagaimanapun dikemukakan pula bahwa sebagai ibukota, kota Jakarta adalah milik bangsa Indonesia.

Jembatan mempunyai fungsi yang amat penting dalam rangka memperlancar arus lalu lintas di Jakarta ini. Sejak masa pembangunan 10 tahun terakhir ini telah banyak dilakukan pembangunan prasarana perhubungan di ibukota ini, baik berupa pelebaran, perbaikan dan pembuatan jalan-jalan baru.

Semuanya ditegaskan Kepala Negara adalah menunjukkan adanya tekad serta hasil karya Pemerintah Daerah yang selalu didorong oleh Pemerintah Pusat.

Namun dikemukakan pula pembangunan prasaran yang sulit dan mahal di Ibukota ini perlu didukung dengan sikap sadar bermasyarakat. Dukungan masyarakat itu bukan saja untuk kepentingan pembangunan sara itu, tapi kesadaran masyarakat diperlukan juga untuk bagaimana caranya dapat menggunakan sarana itu se effektip mungkin, sehemat mungkin dan lalu lintas jadi lancar dan lestari.

Menurut Kepala Negara, salah satu cara dalam rangka untuk mencapai kelancaran lalu lintas itu adalah dengan mengadakan effisiensi penggunaan kendaraan bermotor. Pembangunan kendaraan umum seperti bis, taksi dan lainnya secara maksimal adalah lebih baik.

Disamping itu alangkah besar penghematan yang dapat dilakukan dan kelancaran lalu lintas pasti akan bertambah apabila pemilik2 mobil pribadi mau menggunakan miliknya.

Pj. Gubernur DKI Haji Ali Sadikin dalam laporannya menjelaskan bahwa pembangunan jembatan Tomang ini telah menelan biaya sebesar Rp. 2,6 milyar yang mendapat bantuan dari Pemerintah Pusat sebesar Rp. 800 juga. Pembangunan jembatan lintas Tomang ini dilaksanakan oleh PT. Pembangunan Jaya sejak April 1973 yang lalu mempunyai panjang 280 meter dan lebar 26,3 meter.

Jembatan lintas Tomang tersebut terletak dijalan Tomang Raya dan merupakan perbatasan antara wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Barat yang menghubungkan pusat kegiatan kota dengan jalan lingkar luar melalui Harmoni, jln. Suryo Pranoto, TI. Kyai Caringin, Jln. Tomang Raya, Kampung Tanjung Duren Kemanggisan dan melintasi Banjir kala, 2 buah jalan Kendaraan dan jalan Kereta Api.

Sadikin menjelaskan juga bahwa jembatan lintas Tomang ini merupakan pelaksanaan dari bagian rencana induk kota Jakarta (1965-1985) yang bertujuan khususnya memperlancar arus lalu lintas.

 Dan yang harus diingat menurut Pj. Gubernur bahwa pembangunan jembatan lintas Tomang ini ditangani sendiri oleh tenaga-tenaga ahli DKI yaitu 10 orang sarjana tehnik. Begitu pula sekarang ini panjang jalan di Jakarta ini baru 2.380 km dan masih dibawah normal bila dibanding dengan keseimbangan panjang jalan dan luas Jakarta.

Adapun perbandingan jalan dengan luas Jakarta hanya 1,88 % yang ideal adalah 10 %.Untuk itu Jakarta masih jauh ketinggalan dengan ibukota2 negara lain terutama di Asia.

Peresmian pemakaian Jembatan Lintas Tomang ini dilakukan oleh Presiden dengan penekanan tomhol yang membunyikan sirine dan pelepasan balon sehanyak 450 buah.

Presiden Soeharto heserta Ny. Tien Soeharto sewaktu tiba di tempat upacara telah disamhut oleh barisan rehana Jayakarta dengan mempersembahkan lagu “Jali­ jali” hadan barisan Ondel-ondel yang berbagai ragam.

Hadir dalam peresmian jemhatan lintas Tomang tersebut Menteri Sekneg Sudharmono, Sekjen Departemen Dalam Negeri Soeprato, para Wakil Guhernur, para Walikota dan para pejabat teras Pemerintah DKI. (DTS)

Sumber: MERDEKA (18/04/1977)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 567-569.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.