GUBERNUR BI AKUI DEFISIT TRANSAKSI BERJALAN MASIH BESAR PADA 1997/98

GUBERNUR BI AKUI DEFISIT TRANSAKSI BERJALAN MASIH BESAR PADA 1997/98[1]

 

Jakarta, Antara

Gubernur Bank Indonesia (BI) Soedradjad Djiwandono mengakui bahwa defisit transaksi berjalan pada tahun anggaran 1997/98 masih besar.

Defisit ini, menurut Soedradjad usai Pidato Presiden sebagai Pengantar Nota Keuangan dan RAPBN 1997/98 pada Sidang Paripurna DPR-RI di Jakarta, Senin, semakin membesar karena defisit di sektor jasa yang tinggi.

Dalam pidatonya pada Sidang Paripurna DPR-RI tersebut, Presiden Soeharto menyatakan defisit transaksi berjalan pada 1997/98 diperkirakan mencapai 9,8 miliar dolar AS (empat persen dari PDB).

Sementara itu, realisasi defisit transaksi berjalan pada tahun 1996/97 diperkirakan 8,8 miliar dolar.

Namun ia juga mengatakan bahwa membesar nya defisit transaksi berjalan itu disebabkan oleh impor barang modal untuk investasi.

Meskipun demikian, Gubernur BI menyatakan bahwa impor barang modal itu berguna untuk meningkatkan kapasitas produksi barang ekspor yang akan menambah devisa.

Menurut Soedradjad, defisit transaksi pada 1997/98 itu akan tertutupi oleh masuknya dana dari luar negeri sebesar 10,6 miliar dolar AS melalui investasi asing langsung, pembelian saham atau obligasi serta pinjaman swasta dan pemerintah.

Ia juga mengatakan bahwa peningkatan ekspor non migas tahun 1996 kurang menggembirakan karena hanya 11,7 persen dari target 16 persen.

Turunnya pertumbuhan ekspor non migas ini terutama diakibatkan melambat nya ekspor pada periode Januari-Maret.

Soedradjad meramalkan bahwa perkembangan ekonomi dunia akan membaik pada tahun 1997. Untuk mengantisipasi membaiknya perekonomian dunia, katanya, BI mengeluarkan Surat Tanda Komersial Dalam Negeri (STKDN).

Dalam kesempatan yang sama, Menperindag Tunky Ariwibowo menegaskan bahwa pemerintah mentargetkan pertumbuhan ekspor non migas untuk tahun anggaran 1997/98 adalah sebesar 14 persen.

Untuk itu, katanya, ia sudah membicarakan hal itu dengan Gubernur BI dan Menkeu Mar’ie Muhammad mengenai langkah-langkah yang perlu diambil untuk mewujudkan target ekspor tersebut.

Misalnya, kata Tunky, Gubernur BI telah mengambil kebijakan untuk mendorong peningkatan ekspor non migas dengan mengeluarkan ketentuan UC lokal dan wesel ekspor.

Ia juga mengatakan bahwa pemerintah sudah menanggapi saran untuk meningkatkan ekspor non migas dengan meningkatkan promosi ke luar negeri.

“Pada 1997/98, promosi ekspor akan lebih diperhatikan.” ucapnya.

Sebelumnya, Menko Ekku Wasbang Saleh Afiff menyatakan impor non migas pada tahun fiskal mendatang diperkirakan tumbuh 13,5 persen, sedang ekspor non migas naik 14 persen dan total ekspor diperkirakan naik 8,6 persen.

Pertumbuhan impor non migas itu sebagian besar terkait dengan impor barang modal berupa mesin dan peralatan yang berhubungan dengan kenaikan investasi asing yang besar.

Sumber : ANTARA (06/01/1997)

_____________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 196-197.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.