GLOBALISASI, PELUANG YANG HARUS DIMANFAATKAN

GLOBALISASI, PELUANG YANG HARUS DIMANFAATKAN[1]

 

Jakarta, Suara Pembaruan

KITA semua menyadari bahwa arus globalisasi, yang juga telah melanda kehidupan kita di Indonesia, membawa dua macam dampak yang saling bertentangan, yaitu yang positif dan yang negatif. Dalam hal ini, khusus mengenai dampak-dampak negatif dari globalisasi itu, sudah banyak disinggung dan dipaparkan oleh berbagai pakar ilmu pengetahuan dan tokoh masyarakat ataupun pemerintahan. Mungkin bahkan agak terlalu banyak sehingga kita menjadi cenderung untuk memberikan konotasi negatif setiap kali kita bicara mengenai globalisasi.

Oleh sebab itu, cukup menarik apa yang dikemukakan oleh Ketua Tim Penasihat Presiden mengenai Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-7) Soedharmono SH dalam ceramahnya pada Seminar Nasional “Tantangan dan Peluang di Bidang Hukurn Memasuki Abad ke-21” hari Selasa lalu (22/10/1996) di Jakarta. Dalam ceramahnya itu, Soedharmono menegaskan agar masyarakat tidak perlu takut menghadapi arus globalisasi, karena pada dasarnya globalisasi tidak akan menimbulkan masalah, bahkan dapat mencegah timbulnya sikap konfrontatif antar bangsa.

Arus globalisasi, kata Soedharmono, mendorong setiap bangsa yang beraneka ragam budaya dan politiknya itu makin bertemu dan menyatu. Dan pada kondisi ini hubungan antar negara akan cenderung meninggalkan sikap konfrontatif, dan lebih menghargai dialog untuk komunikasi bersama. Oleh sebab itu bagi kita Bangsa Indonesia, arus globalisasi itu sebenarnya bukan tantangan, melainkan merupakan peluang yang harus dimanfaatkan secara maksimal untuk membangun bangsa, kata mantan Wakil Presiden RI itu dalam kesimpulannya.

MENURUT hemat kita, terlalu menekan-nekankan dampak negatif yang bisa ditimbulkan oleh globalisasi sehingga menutup mata terhadap dampak-dampak positif nya, sama kelirunya dengan terlalu menyanjung-nyanjung dampak positif yang dibawa globalisasi sehingga meremehkan dampak negatif nya. Secara tenang, rasiona1 dan tugas kita harus mampu mengkaji kedua macam dampak globalisasi tersebut, untuk selanjutnya dapat mengambil sikap yang tepat dalam menyerap apa yang baik dan menolak serta mengatasi apa yang tidak baik dari terjangan arus globalisasi itu. Dengan latar belakang pemikiran yang demikian itulah kita mengatakan bahwa pengungkapan sikap positif dari Soedharmono di tengah suasana kecenderungan sikap negatif terhadap globalisasi itu cukup menarik.

Dalam hubungan ini kita hendaknya juga menyadari bahwa kalau kita tidak mau tertinggal dalam perkembangan kancah pergaulan bangsa-bangsa di dunia, maka tidak mungkin kita mengisolasi diri dengan melawan arus globalisasi. Sebab, untuk dapat bergaul secara wajar dengan bangsa-bangsa lain, kita harus menempuh dan menggunakan tata cara kehidupan dengan aktivitas seperti yang lazim dijalankan oleh bangsa-bangsa lain tersebut, termasuk perangkat-perangkat  teknologi yang digunakan. Dan ini tidak hanya menyangkut cara-cara, peralatan-peralatan maupun gaya hidup yang sifatnya teknis-material saja, melainkan juga menyangkut latar belakang dan cara berpikir yang digunakan. Dengan kata lain, menyangkut keseluruhan alam pikiran dan kebudayaan yang lebih dalam.

ITULAH sebabnya, kita harus bersikap kritis dan hati-hati dalam menyerap dan merespons berbagai akibat arus globalisasi. Dalam hal ini, kritis dan berhati-hati tentu saja sangat berbeda dengan curiga ataupun ketakutan. Yang jelas, kritis dan berhati­ hati itu tidak sama dengan sikap yang apriori menolak. Masalahnya, apakah kita mempunyai kemampuan dan kriteria atau tolok ukur untuk menilai dan menyaring secara tepat dan benar dampak-dampak negatif dari globalisasi itu?

Di sinilah pentingnya arti penghayatan dan pengamalan Pancasila dan UUD 1945, yang telah menjadi landasan bersama yang kita sepakati sebagai bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat. Dalam hubungan ini kita sependapat dengan Soedharmono bahwa tantangan yang harus dihadapi pada abad ke-21 nanti adalah sejauh mana bangsa Indonesia menerima pandangan baru yang mengglobal itu serta menuangkannya dalam sikap bersama. Untuk menjawab tantangan itu maka menurut dia pengamalan terhadap nilai-nilai Pancasila perlu terus dikembangkan, karena Pancasila mempakan ideologi terbuka yang mengandung nilai-nilai yang universal.

Adalah benar bahwa Pancasila mengandung nilai-nilai universal, atau dengan kata lain dapat disebut global. Oleh sebab itu seharusnya tidak terlalu sulit bagi kita untuk menyerap ataupun menolak pengaruh-pengaruh globalisasi, asalkan nilai-nilai Pancasila itu sudah benar-benar kita hayati, yakini dan amalkan secara nyata dalam pemikiran dan perilaku kemasyarakatan dan kenegaraan kita. Di sinilah agaknya letak persoalan utama yang masih harus kita tuntaskan.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (24/10/1996)

_______________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 249-250.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.