GINANDJAR : RI HARAPKAN 5 MILlAR DOLAR DARI CGI TAHUN 1997

GINANDJAR : RI HARAPKAN 5 MILlAR DOLAR DARI CGI TAHUN 1997[1]

 

Jakarta, Antara

Indonesia mengharapkan bantuan sekitar lima miliar dolar AS dari Consultative Group For Indonesia (COI) yang akan bersidang sekitar pertengahan Juli di Tokyo, Jepang.

Setelah menemui Presiden Soeharto di Istana Merdeka, Kamis untuk melaporkan rencana keberangkatannya ke Jepang tanggal 8 Juni guna mengadakan pembicaraan awal dengan pejabat Jepang, Menteri Negara PPN Ginandjar Kartasasmita mengatakan kepada pers bahwa Indonesia juga harus menyiapkan diri menghadapi penurunan bantuan CGI.

Tahun lalu, setelah bersidang tanggal 19-20 Juni di Paris, Perancis, CGI yang terdiri atas 18 negara dan 11 lembaga keuangan Internasional memberikan komitmen 5,260 miliar dolar AS.

Komitment itu terdiri atas janji 18 negara sebanyak 2,563 miliar dolar AS dan lembaga keuangan Internasional 2,696 miliar dolar AS. Komitment CGI pada tahun 1995 adalah 5,358 miliar dolar.

Menurut Ginandjar, jika Indonesia mengharapkan bantuan sekitar lima miliar dolar AS, maka yang harus diperhatikan adalah pagul ceiling bantuan dari setiap negara ataupun lembaga keuangan Internasional itu.

“Kita mengharapkan sekitar lima miliar dolar, namun karena mereka mempunyai ceiling, maka kita harapkan hal itu bisa dipertemukan.” katanya.

Ketika ditanya tentang kemungkinan penurunan bantuan CGI-yang merupakan pengganti IGGI-Ginandjar yang pernah berkuliah di Jepang itu mengatakan,

“Indonesia harus menyadari bahwa tidak akan selamanya bisa mendapat bantuan lunak terus.”

Alasan Ginandjar tentang penurunan bantuan itu adalah karena Indonesia sudah dimasukkan ke dalam kelompok negara berpenghasilan menengah.

Sementara itu, ketika ditanya tentang apakah mungkin masalah program mobil nasional “Timor” akan muncul dalam pembicaraan tanggal9 Juni itu, Ginandjar menyebutkan Indonesia tidak akan mulai menyebutkan hal itu.

“Indonesia tidak akan mulai mengangkat isu itu. Tapi kalau Jepang bertanya tentu akan saya jelaskan.” kata Ginandjar.

Ia mengharapkan, masalah mobil Timor tidak akan menganggu hubungan bilateral. Jepang baru-baru ini telah meminta Badan Penyelesaian Perselisihan (DSB) Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk membicarakan isi Mobnas itu.

Jepang merasa berkeberatan karena pemerintah Indonesia membebaskan bea masuk dan pajak penjualan atas barang mewah terhadap PT Timor Putra Nasional atas mobil jadi (CBU) yang diimpomya dari Korsel karena menunggu selesainya pabrik di Cikampek, Jawa Barat.

Sumber : ANTARA (05/06/1997)

_________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 372-373.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.