GINANDJAR : JEPANG TETAP PRIORITASKAN INDONESIA

GINANDJAR : JEPANG TETAP PRIORITASKAN INDONESIA[1]

 

Jakarta, Antara

Meneg Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bapenas Ginandjar Kartasismita mengatakan, Jepang akan tetap memprioritaskan ODA (bantuan pembangun luar negeri) kepada Indonesia walaupun secara keseluruhan anggaran ODA Jepang itu menurun 10 persen tahun ini.

Seusai melapor kepada Presiden Soeharto di Istana Medeka, Jakarta, Jumat, Ginandjar menambahkan, penurunan bantuan ODA kepada negara berkembang itu merupakan masalah dalam negeri Jepang.

Jepang pada saat ini menghadapi masalah defisit anggaran sehingga bantuannya secara keseluruhan juga berkurang, katanya.

Meneg menambahkan, sebagai warga negara berkembang, ia menyesalkan pengurangan bantuan secara keseluruhan itu.

Padahal, katanya, negara maju yang bergabung dalam OECD sudah menyatakan komitmennya kepada negara berkembang sampai tahun 2020 mendatang.

Namun, khusus untuk bantuan terhadap Indonesia masalahnya diserahkan kepada Jepang sendiri, kata Meneg yang mengadakan kunjungan ke Jepang, belum lama untuk menjajaki pertemuan CGI, 17Juli mendatang di Jepang.

Selama di Jepang, Ginandjar mengadakan serangkaian pertemuan dengan para menteri serta pimpinan bank di Jepang.

Menurut Meneg, Jepang tetap memberikan prioritas kepada Indonesia, dan Indonesia melihat bahwa bantuan ODA Jepang yang tahun lalu mencapai 1,9 miliar dolar, tahun ini sama, baik dalam bentuk dolar maupun yen.

Menjawab pertanyaan mengenai penilaian Bank Dunia, Ginandjar mengatakan bahwa Bank Dunia dalam penilaiannya memang seringkali tidak sejajar dengan kepentingan Indonesia.

Ginandjar mencontohkan, rekomendasi Bank Dunia untuk menghapus subsidi harus dipertimbangkan lebih lanjut dan mendalam.

Namun, secara umum, ia menilai bahwa penilaian Bank Dunia masih bersifat “balance” (seimbang,Red).

Bank Dunia dalam laporannya berjudul “Indonesia: Sustaining Growth with Equity” antara lain merekomendasikan penghapusan subsidi BBM.

Militer Rusia

Ginandjar juga menjelaskan bahwa Indonesia telah mengirimkan tim ke Rusia untuk mengkaji kemungkinan membeli peralatan militer negeri itu khususnya untuk TNI AU.

Ia mengatakan bahwa rencana pembelian peralatan militer Rusia itu tidak semata-­mata berkaitan dengan gagalnya Indonesia membeli pesawat F-16 buatan AS.

Pemerintah memutuskan tidak membeli F-16 itu karena ada anggota Kongres AS yang mengkaitkannya dengan masalah dalam negeri seperti HAM dan demokrasi.

Menurut Ginandjar, Indonesia tidak menggantungkan dirinya hanya kepada satu negara untuk membekali berbagai peralatan militernya. Selama ini, ABRI membeli peralatan militer selain dari AS juga dari Perancis, Jerman dan Inggris.

Konteks rencana pembelian militer Rusia itu adalah sikap kemandirian yang ingin ditunjukkan oleh pemerintah, katanya.

Menurut dia, Februari lalu Utusan Khusus Presiden Rusia Boris Yeltsin membawa surat kepada Presiden Soeharto berisi tentang tawaran militer itu.

“Jadi kelihatan, Presiden sudah melihat ke depan dan bukan hanya karena gagalnya pembelian F-16 itu.” tegasnya.

Pada masa lalu, TNI AU juga banyak menggunakan pesawat buatan Rusia seperti MIG, Antonov dan Tupolev.

“Artinya ABRI tidak asing lagi dengan peralatan buatan Rusia itu.” katanya. Pada masa kini perkembangan militer Rusia juga sudah sangat pesat dan secara teknologi tidak kalah dengan negara lain.

Rencana pembelian itu akan ditindaklanjuti oleh kunjungan tim yang dipimpin Menristek BJ Habibie ke Rusia awal Juli mendatang.

Masalah yang dihadapi dalam pembelian itu adalah segi pembiayaan. Kontrak pembelian dengan negara barat selama ini dibiayai dengan kredit ekspor. Salah satu gagasan pembelian peralatan militer Rusia itu adalah “counter purchase” (imbal beli,Red).

Ginandjar kepada Kepala Negara juga melaporkan musibah kebakaran Gedung Bapenas yang terjadi pada saat ia berada di Jepang.

Sumber : ANTARA (26/06/1997)

______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 392-394.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.