GENERASI PEMBEBAS PERLU RAMPUNGKAN TUGAS SEJARAHNYA SECARA BAIK

GENERASI PEMBEBAS PERLU RAMPUNGKAN TUGAS SEJARAHNYA SECARA BAIK

 

 

Sejarah Buktikan ABRI Tak pernah Bertindak Militerisme:

Presiden Soeharto mengatakan, Generasi Pembebas, baik dalam kalangan ABRI maupun dalam kalangan masyarakat pada umumnya, perlu mengusahakan agar tugas sejarahnya dapat dirampungkan secara baik dengan mewariskan dasar-dasar yang kuat, sehat dan kukuh bagi pekerjaan Generasi Penerus dan generasi-generasi selanjutnya dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila.

Hal itu dikemukakan Presiden Soeharto dalam amanatnya pada upacara peringatan hari ulang tahun ke 40 Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) Sabtu pagi, yang mengambil tempat di bekas bandar udara Kemayoran, Jakarta.

Sebelumnya Kepala Negara juga mengatakan, setiap generasi akan datang dan setiap generasi juga akan pergi. “Ini adalah hukum alam yang tidak akan satu kekuatan-pun yang dapat menghalang-halanginya”.

Yang penting adalah apakah generasi yang lama telah mewariskan nilai-nilai yang terbaik dan keadaan yang baik guna kelanjutan perjalanan generasi berikutnya.

Apakah generasi yang baru telah disiapkan dengan baik oleh generasi sebelumnya, sehingga generasi baru siap melanjutkan, meningkatkan dan membuat pembaharuan-pembaharuan dari segala hasil yang telah dicapai oleh generasi sebelumnya. Presiden bertanya.

Kelanjutan peningkatan dan pembaharuan-pembaharuan dari generasi kegenerasi, tambah Kepala Negara, merupakan jaminan bahwa bangsa kita akan terus tumbuh dan bekembang makin kukuh dalam mewujudkan cita-cita hidup dalam masyarakat Pancasila yang maju, sejahtera, adil makmur dan lestari.

Dalam memperjuangkan cita-cita nasional itulah, kata Presiden Soeharto, ABRI memainkan peranan yang penting, terutama karena rakyat telah mempercayai ABRI untuk melaksanakan Dwi Fungsinya.

“Saya menegaskan sekali lagi, bahwa tugas-tugas kekaryaan ABRI sama sekali tidak berarti penyaluran tenaga ABRI ke dalam kehidupan kemasyarakatan dan pemerintahan”, kata Kepala Negara.

Kekaryaan ABRI merupakan sumbangan yang bisa diberikan ABRI melalui anggota-anggotanya yang terbaik kepada bangsa dan negaranya di luar tugas-tugas pokok ABRI sebagai kekuatan pertahanan keamanan.

Dalam rangka itu pula, hendaknya ABRI dapat memberi sumbangan yang sebesar-besarnya ke arah dinamika dan modemisasi bangsa dalam rangka persatuan dan kesatuan, sebab kita memang ingin tumbuh menjadi yang modern dengan tetap berdiri tegak diatas kepribadian sendiri.

Untuk itu, ABRI tidak boleh melalaikan kesiap-siagaan menghadapi ancaman, hambatan gangguan dan tantangan yang ada, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Kita saat ini hidup dalam dunia yang penuh gejolak.

“Siapa yang ingin menegakkan kemerdekaannya, harus siap mengangkat senjata untuk membela kemerdekaan itu”, tegas Kepala Negara.

Kemerdekaan sebagai modal nasional tidak dapat kita percayakan kepada pihak manapun untuk menjaminnya, tambahnya, sebagai jaminan adalah persatuan dan kesatuan kita sendiri bagi Kemerdekaan kita khususnya persatuan dan kesatuan antara rakyat dengan ABRI dalam semangat kemanunggalan yang harus diperdalam terus menerus sebagai kekuatan di masa lampau dan di masa datang.

Bukan Kasta

Kemungkinan itu, kata Presiden Soeharto, telah ditegaskan oleh Panglima Besar Sudirman yang mengingatkan kita bahwa “Tentara bukan merupakan suatu golongan di luar masyarakat, bukan suatu kasta yang berdiri diatas masyarakat. Tentara tidak lain dan tidak lebih adalah suatu bagian masyarakat dengan kewajiban tertentu,” Presiden mengutipnya dengan mengharapkan agar generasi penerus dalam tubuh ABRI mencamkan baik­-baik ucapan Panglima Besar itu.

Generasi Pembebas, tambah Kepala Negara telah membebaskan bangsanya dari belenggu penjajahan dan ikut meletakkan landasan pembangunan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Kita semua berharap dan percaya, bahwa Generasi Penerus dalam tubuh ABRI akan mampu ikut mengantarkan bangsanya memasuki tahap tinggal landas untuk sejajar nanti dengan bangsa yang di muka bumi, namun tetap berpijak pada kepribadian Indonesia yang berlandaskan Pancasila.

Presiden Soeharto juga mengatakan, perjuangan membebaskan bangsa ini dari belenggu penjajahan telah dibayar dengan jiwa dan raga putra-putranya yang terbaik dan terpuji, yang kini kita saksikan pusara-pusaranya di taman-­taman Makam Pahlawan yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air.

Pengorbanan mereka telah mengantarkan kita kehidupan yang bebas dan terhormat sebagai bangsa yang merdeka.

Tidak Beralasan

Presiden Soeharto menegaskan tidak beralasan kekhawatiran bahwa Dwi Fungsi ABRI serta peranannya sebagai stabilisator dan dinamisator suatu waktu akan melahirkan pemerintah yang militeristis, otoriter atau totaliter.

Kekhawatiran itu tidak beralasan. Sejarah telah membuktikan ABRI tidak pernah memikirkan dan bertindak militeristis.

Dalam saat yang sulit sekalipun, dalam saat negara dan bangsa kita dihadapkan kepada bahaya yang mengancam keselamatan Pancasila, ABRI tidak pernah memikirkan itu.

Bahkan, kata Presiden Soeharto, ABRI justru membangkitkan dan mengajak semua kekuatan rakyat untuk bangkit bersama menegakkan Pancasila dan bertindak sesuai dengan semangat Pancasila.

Semua itu hanya bisa dipahami apabila memahami jiwa dan semangat ABRI sebagai prajurit pejuang, pendukung dan pembela ideologi negara, Pancasila.

Sebagai pendukung dan pembela ideologi negara, ABRI, kata Presiden, justru ikut mendorong pertumbuhan demokrasi Pancasila dalam rangka pengamalan Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

“ABRI tidak akan tergelincir kepada militerisme, otoriterisme dan tolaliterisme, karena semuanya lurus bertolak belakang dengan demokrasi Pancasila”.

Tradisi dan prinsip-prinsip ABRI itu, kata Presiden, adalah merupakan hasil dari pengalaman dan pengabdiannya kepada bangsa dan negara dalam semangat kemanunggalan dengan rakyat sejak Indonesia Merdeka.

Kita semua percaya, berkata Presiden, prinsip-prinsip dan tradisi itu telah tumbuh dan berkembang dalam jiwa generasi penerus dalam ABRI, yang akan diamalkan sebaik-baiknya dalam melanjutkan dan meningkatkan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila.

ABRI sebagai kekuatan sosial politik telah menjadi bagian yang hidup dan tumbuh dalam sistem politik kita berdampingan dengan dua partai politik dan Golongan Karya, kata Kepala Negara.

ABRl sebagai kekuatan sosial politik yang sadar dan bertanggung jawab menempatkan dirinya duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan ke tiga organisasi sosial politik yang lain.

Tamu Dari Malaysia

Panglima Angkatan Tentara Diraja Malaysia Jenderal Tan Sri Dato Mohamad Ghazali juga ikut menyaksikan hari ABRI ke 40 di Kemayoran. Ia dan rombongan tiba di Jakarta Jumat pagi dengan pesawat khusus untuk kunjungan selama 3 hari.

Setelah dijemput oleh Panglima ABRI Jenderal TNI L.B Moerdani Tan Sri Mohamad Ghazali diantar untuk mengadakan kunjungan kepada Presiden Soeharto di Jalan Cendana.

Panglima Angkatan Tentara Malaysia itu membalas kunjungan serupa yang dilakukan oleh Pangab beberapa waktu lalu. (RA)

 

Jakarta, Sinar Harapan

Sumber : SINAR HARAPAN (5/10/1985)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 214-218.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.