GENERASI MUDA TAK PERLU RAGU2 UNTUK BAYAR HUTANG2 PEMERINTAH

PRESIDEN: GENERASI MUDA TAK PERLU RAGU2 UNTUK BAYAR HUTANG2 PEMERINTAH [1]

 

Banda Aceh, Merdeka

Presiden Soeharto menyatakan agar generasi muda tidak perlu ragu-ragu untuk membayar hutang2 yang dilakukan oleh Pemerintah sekarang. Dihadapan para alim ulama di Banda Aceh, Presiden Soeharto mengatakan bahwa generasi yang akan datang hanya tinggal membayarkan saja, mereka tidak perlu mencari dana guna mengembalikan pinjaman tersebut.

Pinjaman2 yang dilakukan oleh Pemerintah hanya digunakan untuk membangun proyek yang menghasilkan. Sistim cara Pemerintah Orde Lama yang meminjam uang hanya digunakan untuk pola2 konsumsi tidak dilakukan oleh Pemerintah Orde Baru, kata Presiden.

Kepala Negara menegaskan pula bahwa Pemerintah tidak ingin meninggalkan sesuatu yang jelek pada generasi yang akan datang. Pemerintah tidak mewariskan penderitaan pada generasi muda yang akan membayarkannya dan mengembalikan pinjaman, tetapi hal tersebut dapat dilakukan dengan pembangunan2 yang dilakukan sekarang.

Presiden memberikan misal dengan membangun proyek LNG di Aceh yang menelan biaya sampai US$ 1,5 milyar, diperhitungkan dapat dikembalikan dalam waktu 7 tahun, setelah itu hasil2nya dapat dinikmati oleh rakyat.

Presiden Soeharto kemudian memberi contoh yang dilakukan oleh Pemerintah Orde Lama dengan membangun Cot Girek, tanpa penyelidikan, akibatnya Pemerintah terus menerus menombok untuk meneruskan proyek2 tersebut.

“Tidak perlu takut dengan pinjaman2 itu,” kataPresiden.

Dalam pertemuan itu, Presiden Soeharto membentangkan secara panjang lebar pertumbuhan pembangunan di Indonesia baik pembangunan ekonomi, phisik, mental, spirituil dan juga pembangunan politik.

Diingatkan oleh Kepala Negara bahwa Indonesia memang membuka pintu untuk modal2  asing  modal2  non  pribumi  serta pribumi  sendiri  untuk  mempercepat­pembangunan. Hal ini didasarkan kekurangan modal yang kita miliki, disbanding jumlah kekayaan alam. Kepala Negara membantah dengan cara demikian lalu membentuk jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Semua potensi yang kita miliki harus dimanfaatkan.

Lebih lanjut Presiden Soeharto mengatakan karena Indonesia sebagai Negara Pancasila, bukan negara komunis, sebab, kalau di negara komunis, dengan sendirinya, milik si A atau si B, bila diperlukan, dapat saja diambil oleh negara. Sebagai Negara Pancasila, kita tidak demikian. Mereka yang mempunyai modal itu dapat di manfaatkan untuk membangun.

Sebab kalau potensi kita mati atau lari keluar, berarti kita rugi. Memang karena mereka yang memiliki tampaknya seolah-olah mereka yang menikmatinya hasil pembangunan ini, padahal tidak demikian, kata Presiden.

Pemilikan memang mereka, tapi hasilnya kita yang merasakan. Presiden mengambil contoh pabrik tekstil yang banyak tumbuh di Indonesia, yang akibatnya kita tidak lagi membeli tekstil dari luar negeri, tidak tergantung lagi pada luar negeri. Disamping itu menambah pula lapangan kerja. Sedangkan dalam rangka keadilan, Rakyat akan dapat memiliki modal perusahaan2 besar dan baik2 itu melalui Pasar Uang dan Modal yang sudah mulai berkembang bulan Juni yang akan datang, dengan nilai terkecil Rp.10.000,- agar dapat dicapai oleh rakyat.

Kepala Negara mengingatkan pula agar kita tetap waspada terhadap kegiatan2 untuk menjamin stabilitas nasional. Kewaspadaan itu terutama terhadap tindakan2 yang mengancam rusaknya pembangunan, akibat sesuatu tingkah laku yang dapat membawa rusaknya persatuan dan kesatuan serta mengancam stabilitas nasional.

Dalam kesempatan itu Presiden juga menjelaskan apa arti kepemimpinan nasional, yang dikatakan bukan berarti seseorang, tetapi mekanisme yang bersumber kepada Pancasiladan UUD ’45.

Dalam pertemuannya dengan Dewan2 Mahasiswa di Banda Aceh, Senin pagi, Kepala Negara dapat mempertimbangkan untuk disetujui beberapa permintaan para mahasiswa didaerah itu seperti pembangunan gedung perpustakaan, gelanggang2 olahraga yang tidak saja dapat digunakan oleh para mahasiswa, tetapi juga masyarakat banyak, begitu pula mesjid2.

Kepala Negara mengatakan bahwa Pemerintah memang sangat memperhatikan pembangunan2 rumah ibadah, seperti mesjid Istiqlal yang sudah akan rampung akhir tahun ini. Mesjid yang berdampingan dengan rumah ibadah kaum Khatolik dan Protestan itu akan menjadi suatu kebanggaan nasional bagi bangsa Indonesia, walaupun sudah menelan biaya sekitar Rp. 4 milyar, kata Presiden. (DTS)

Sumber: MERDEKA (06/04/1977)

 

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 312-314.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.