GEJOLAK RUPIAH BELUM SAMPAI TIMBULKAN “RUSH”

GEJOLAK RUPIAH BELUM SAMPAI TIMBULKAN “RUSH”[1]

 

Jakarta, Suara Pembaharuan

Gejolak pasar uang yang terjadi belakangan ini belum sampai menimbulkan rush. Meski penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cukup besar, hingga Rp 20, namun transaksi yang terjadi sangat kecil.

Gubernur Bank Indonesia, Soedradjad Djiwandono mengatakan hal itu seusai berbicara pada seminar internasional yang diselenggarakan dalam rangka ulang tahun ke-50 Bank BNI di Jakarta, Selasa.

“Memang menguatnya dolar AS pekan lalu cukup besar, tetapi lihat, transaksinya besar nggak, kalau nggak besar ya nggak bisa dikatakan rush.” katanya.

Menurut Soedradjad, pembelian dolar AS di bank pada hari Kamis (4/7) pekan lalu hanya sekitar 50 juta-60juta dolar AS, padahal transaksi valuta asing yang terjadi tiap hari rata-rata 5 miliar dolar AS.

“Transaksi 50 juta-60 juta dolar AS tiap hari itu kan kecil sekali. Itu hanya angin saja.” katanya.

Pasar uang antarbank Kamis (4/7) sempat guncang akibat ulah spekulan asing yang memanfaatkan isu politik dalam negeri. Kurs rupiah terhadap dolar AS yang dibuka pada posisi Rp 2.326,50 ditutup pada posisi 2346,50.

Tidak Intervensi

Dikatakan, gejolak nilai tukar rupiah kali ini berbeda dengan yang terjadi pada Januari tahun lalu. Pada gejolak rupiah kali ini BI tidak sampai melakukan intervensi, karena kurs tertinggi yang terjadi pada posisi Rp.2.348 belum sampai menyentuh batas bawah kurs intervensi BI.

Pada saat terjadi gejolak nilai tukar rupiah yang diakibatkan krisis Meksiko Januari 1995 lalu, BI melakukan intervensi hingga US$ 500 juta.

“Kalau sudah nabrak batas atas dan batas bawah baru kami melakukan intervensi.” katanya.

Kendati demikian, bukan berarti BI berdiam diri terhadap gejolak tersebut. Karena setiap saat BI selalu memonitor pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Kami jaga terus, setiap saat saya minta perkembangan gejolak nilai tukar tersebut terus dimonitor. Sampai-sampai kami melakukan piket pada hari Sabtu.” kata Soedradjad.

Menurut Soedradjad, perkembangan terakhir menunjukkan bahwa rupiah telah normal kembali. Transaksi yang terjadi pada hari Senin sudah seperti biasanya, baik kurs maupun jumlah transaksi.

Menyinggung tentang rumor yang menyatakan bahwa The Federal Reserve (bank sentral AS) akan menaikkan suku bunganya, Soedradjad berharap agar hal itu tidak terjadi karena untuk menaikkan suku bunga bukan pekerjaan yang mudah. Dan seandainya itu terjadi, diharapkan tidak pada saat BI menerbitkan Yankee Bond di AS.

Sementara Waktu

Pada kesempatan terpisah, Menteri Keuangan, Mar’ie Muhammad mengatakan gejala fluktuasi di pasar uang saat ini merupakan gejala yang sementara.

“Saya perkirakan gejala ini hanya sementara waktu saja.” tegasnya.

Yang penting, tambahnya, fundamental ekonomi Indonesia harus dijaga agar tetap baik. Ditegaskan, selama findamental ekonomi tetap solid, hal itu secara otomatis akan meredakan gejolak kurs akibat spekulasi danfund manager asing.

“Fundamental ekonomi akan dapat mengerem gejolak spekulan.” tambahnya.

Menyinggung situasi pasar uang dan pasar modal saat ini yang sedang bearish akibat ulah para spekulan yang menyebarkan rumor ten tang kesehatan Presiden Soeharto, Menkeu mengakui, dalam tiga hari ini, baik pasar uang maupun pasar modal di Indonesia mengalami gejolak.

Menurut pengakuannya, Mar’ie sampai tiga hari tidak tidur memikirkan cara yang jitu untuk meredakan gejolak di pasaruang.

“Sejak hari Rabu, Kamis, Jum’at, situasi baik di pasar uang maupun pasar modal bergolak, tetapi sekarang situasinya mulai normal kembali, bahkan mulai merangkak naik.” ungkapnya.

Lebih lanjut Menkeu menjelaskan, dalam era globalisasi di mana manajemen pasar uang maupun pasar modal seperti kesatuan ekonomi, mengakibatkan pasar uang maupun pasar modal sangat sensitif. Pengaruh sedikit saja akan membuat pasar mudah sekali bergejolak.

Dalam situasi demikian, pasar uang dan pasar modal sangat tergantung pada player-nya, yakni para pelaku pasar seperti fund manager. Sementara itu pemerintah hanya dapat menjaga agar fundamental ekonomi senantiasa baik sehingga gejolak pasar mereda dengan sendirinya.

“Menjaga fundamental ekonomi yang sehat merupakan agenda utama pemerintah.” tambahnya.

Sumber : SUARA PEMBAHARUAN (10/07/1996)

___________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 350-352.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.