GARA-GARA DIJAMU PRESIDEN, PERUT MALAH KERONCONGAN

GARA-GARA DIJAMU PRESIDEN, PERUT MALAH KERONCONGAN [1]

 

Jakarta, Angkatan Bersenjata

Gara-gara dijamu Presiden Soeharto di Istana Negara perut malahan jadi keroncongan Masuk akalkah itu? Agak mengherankan memang. Tapi itulah kenyataannya. Pengalaman ini di tuturkan oleh Ketua Kelompok Tani “Karya Tani I” Suyono, pemenang I Lomba TRI 1990/ 1991 yang diterima dan dijamu Presiden Soeharto di Istana Negara tanggal 21 Januari 1993 yang lalu.

Sekalipun sudah dilatih berulang kali melalui Geladi Resik, tapi pada saat benar­ benar diterirna Presiden jadi gugup dan gemetaran. Apalagi ketika disapa dengan kata­ kata “juara TRI dari Mojokerto ya”dan langsung di jabat tangannya berbagai macam rasa bercampur jadi satu. Ya bangga, ya bahagia tapi juga gemetaran, tuturnya.

Sambil memegang piring berisi nasi dan lauk pauk Suyono terus diajak ngobrol oleh Pak Harto. Begitu piring nasi yang belum sempat disentuh isinya itu ia letakkan langsung diambil petugas untuk digantikan dengan menu makanan lainnya. Begitu seterusnya sehingga Suyono tidak pernah sempat menyuap nasi sebutirpun.

Begitu pula ketika tiba giliran makan es krim. Ia sungguh merasa kagok sekali dan tidak tahu bagaimana harus memulai menyantapnya. Presiden Soeharto dilihatnya sangat trampil mencutik-cutik es krim yang ada di gelas sampai ludes. Sedang Suyono merasa sangat was-was untuk menirunya. Soalnya es krim yang disuguhkan di tempatkan di sebuah gelas kecil sehingga es krimnya jadi nampak menjulang tinggi bagaikan sebuah gunung. Karena itu Suyono sangat takut kalau kalau gelasn ya yang kecil itu jadi terguling karena lebih tinggi gundukkan es krimnya dari pada gelasnya. Karena itu iapun lalu tidak menyantapnya. Begitu selesai acara barulah terasa perutnya keroncongan.

Menangis

Lain lagi pengalaman istrinya yang juga ikut mendampinginya ketika menerima hadiah Iomba TRI. Ketika istrinya dicari ternyata ada di pojokan sambil menangis tersedu-sedu.

“Wah kenapa bu,” sapanya. Sang istri ternyata menangis karena teringat anak­ anaknya di rumah. “Di sini banyak sekali makanan, tapi anak-anak di rumah makan apa ya….,”keluh sang istri.

Penduduk Desa Japanan Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto memang tidak pernah bepergian ke mana-mana. “Ke Mojokerto saja jarangjarang pak,” kata Suyono. Karena itu kepergiannya ke Jakarta untuk dijamu Presiden merupakan sesuatu hal yang luar biasa baginya. Lain lagi dengan pemenang Iomba TRI tahun lalu dari Pemalang. Ketua Kelompok taninya Sanadi. Usianya sudah uzur. Tapi berkat ketekunannya menanam tebu berhasil menjadi salah satu pemenang.

Sanadi yang sepanjang hidupnya tidak pernah pakai sepatu atau sandal jadi sangat tersiksa ketika harus pakai selop ketika menghadap Pak Harto. Jari-jari kakinya yang sudah mekar karena tidak pernah kenai sepatu dan sendal jadi siksaan bagi dirinya.

Pada saat diterima dan dijamu Pak Harto tiba-tiba kakinya terasa pegal bukan main. Ketika selesai acara ternyata selopnya terbalik. Apa boleh buat ketika pulang ke asrama haji Pondok Gede selopnya terpaksa ditenteng. Jari-jari kakinya lecet dan mulai membengkak. Itulah pengalaman para petani pemenang Iomba intensifikasi yang setiap tahun diadakan dan diterima serta dijamu Pak Harto di Istana Negara. (3.2).*

Sumber: Angkatan Bersenjata (22/02/1993)

____________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 831-832.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.