GAJI PUN PRESIDEN SERAHKAN

GAJI PUN PRESIDEN SERAHKAN[1]

 

Jakarta, Kompas

JEMIH dan sejuk sekali rasanya, saat mendengar pernyataan Presiden Soeharto dalam Sidang Paripurna Kabinet Pembangunan VH, di Bina Graha, Jakarta, Selasa (17/3) lalu, seperti dikutip Mensesneg Saadilah Mursjid.

“Pensiun sebagai Jenderal Besar TNI Angkatan Darat, pensiun saya ini sudah cukup untuk hidup saya, karena saya tidak punya tanggungan lagi. Karena itu, gaji Presiden seluruhnya saya sumbangkan.”

Kutipan ucapan Pak Harto ini, serius sekali. Karena banyak orang masih terketuk hatinya, saat mendengar pernyataan Pak Harto terhadap anggota Fraksi ABRI, saat jumpa konsultasi pencalonan Presiden/Mandataris MPR periode 1998-2003, di Jalan Cendana hari Minggu (8/3) lalu. Jangankan harta, jiwa pun akan dipasrahkan untuk pengabdian kepada bangsa dan negara. Presiden Soeharto memang tak main-main. Dalam rapat pleno pertama menteri, Pak Harto menegaskan lagi sikapnya. Bahkan Pak Harto mengajak menteri, Gubernur dan pejabat eselon I, agar rela menyumbangkan gaji pokoknya selama satu tahun, untuk membantu mereka yang kelaparan.

Jangan menilai jumlahnya. Namun nilailah itikad dan kehendak luhur pimpinan ini.

Kalau menilai gaji pokok Presiden RI sesuai ‘kurs’ PP No.6 Tahun 1997, sebulan Rp.15 juta (sebelumnya, gaji pokok Pak Harto Cuma Rp.4.950.000 saja). Sedangkan gaji pokok Wapres BJ Babibie, sebulan Rp.10.000.000. Gaji menteri rata-rata Rp.2,5 juta. Artinya sama besarnya dengan gaji bagi jaksa agung, pangab dan Gubernur.

Pengorbanan ini mungkin cukup berat, bagi pejabat tertentu. Namun jangan lupa, dalam PP No.7 Tahun 1977, tercantum pasal kalau gaji pegawai negeri sipil itu bukan cuma gaji pokok, tetapi ada juga tunjangan keluarga, tunjangan jabatan dan tunjangan lainnya lagi.

“Tolong sampaikan terima kasih kami terhadap Pak Harto.”

“Buat pejabat lainnya, harap relakan gaji pokoknya disumbangkan. Kami cuma dapat berdoa. Semoga menteri dan pejabat lainnya yang ikut menyumbang, akan selalu selamat dan murah rezekinya.” kata seorang penelpon ke Redaksi KOMPAS.

BERAPA besar pengorbanan dari sumbangan gaji pokok Presiden dan anggota Kabinet Pembangunan VII, amatlah mudah dihitung dan dikalkulasikan manfaatnya. Gaji pokok Presiden dan pejabat RI lainnya yang berstandar rupiah, jumlahnya memang tidak gila-gilaan macam gaji pejabat tinggi negara lainnya. Meskipun tentunya tidak boleh dilupakan bahwa biaya hidup di tiap negara itu berbeda-beda.

Contoh ekstremnya, gaji PM Singapura setahun 785.000 dolar AS. Gaji PM Singapura yang negara kecil itu, jumlahnya memang hampir empat kali gaji Presiden Amerika Serikat yang adidaya. Gaji Bill Clinton setahun menerima 214.000 dolar. Tetapi gaji PM lnggris masih kalah jauh dengan gaji Gubernur Hongkong (sebelum hand over ke Cina) yang 329.000 dolar AS.

Singapura yang sama-sama Asteng, memang pemegang rekor gaji tertinggi. Sebab Malaysia sebagai negeri Jiran yang pernah sepupuan, PM Mahathir Mohamad hanya menerima gaji 30.000 dolar pertahun, setelah dipotong pajak 10 persen. Angka gaji ini, mengingat Malaysia mulai Desember 1997 akan memotong 10 persen gaji pejabatnya. Alhasil, gaji bulanan menteri pun cuma 10.800 ringgit.

Thailand yang termehek-mehek tertiban krisis moneter pun, terpaksa memangkas gaji pejabat tingginya dengan guntingan 20 persen, PM Thailand kini cuma bergaji sekitar 2.400 dolar AS. Pejabat tinggi Thailand lainnya, tinggal mendapat bayaran bulanan sekitar 1.486 dolar.

Contoh di atas, hanya untuk membandingkan betapa gaji pokok menteri RI, terus terang masih di bawah standar Malaysia dan Thailand, apalagi kelasnya Singapura yang bergaji dahsyat itu. Namun jangan sekali-kali membandingkan gaji pejabat ASEAN dengan Sultan Brunei Darussalam. Sebab penghasilan Sultan dari salah satu negara terkaya di dunia, gaji bulanannya 1,6 milyar dolar perbulan. Atau rupiahnya menjadi sekitar Rp.16 trilyun.

Dari contoh kutipan tersebut, mungkin akan sedikit menghibur kalau membaca dokumentasi lama, perihal gaji pejabat tinggi negara lain yang jumlahnya tidak tinggi. Misalnya gaji Presiden Uganda, data tahun 1990 menyebutkan angka bulanan nya cuma sekitar Rp.95.000,- saja.

Apa betul? Entahlah.

Namun dari semua kutipan itu, agak sensasional kalau menyimak catatan soal gaji PM Rusia Viktor Onemomyrin. Gaji 870 bulanan PM Rusia ini sekitar 700 dolar AS perbulan, atau sekitar Rp.7 juta. Namun pers Barat mengungkit, betapa PM Rusia ini memiliki harta kekayaan sekitar 5 milyar dolar AS, gara-gara empat tahun menjadi perdana menteri.

Sedangkan PM Mikheal Gorbachev di zaman Uni Soviet, mendapat gaji bulanan sekitar 1.200 dolar perbulan. Jumlah itu masih ditambah fasilitas seperti apartemen, rumah istirahat, mobil dinasanti peluru, biaya gratis naik pesawat, serta uang tambahan untuk keperluan urusan rumah tangga petinggi ini.

Dari keseluruhan data itu, tak dijelaskan apakah negara asing itu selain gaji pokok, dapat juga santunan berupa tunjangan ini itu seperti di sini.

Sejak peristiwa Pak Harto mau menyerahkan gajinya selama setahun, beberapa penelpon berharap banyak. Diantaranya, mereka berharap agar ke-500 wakil rakyat di DPR yang bergaji bulanan Rp.4,1 juta ikut merelakan ‘gaji tambahannya’ diserahkan juga. Ide ini tentunya agak edan. Tetapi siapa tahu, ada beberapa atau malah semua anggota DPR rela berkorban. Mereka ramai-ramai bikin statement, semua gajinya rela disumbangkan. Mereka sebagai wakil rakyat, rela berkorban demi rakyat yang diwakilinya.

Begitu juga pertanyaan soal ‘sumbangan’ peserta Sidang Umum MPR 1998 lalu.

“Jadi apa tidak, gagasan agar ke 1000 anggota sidang yang menerima uang absen sebesar Rp. 561.000/orang, menyerahkan kembali uang itu ke negara untuk rakyat. Kalau hal itu terlaksana, dari sidang itu saja ada uang sumbangan Rp.561 juta. Lumayan kan” kata penelepon itu.

Hari-hari masih panjang. Sementara mengharapkan secepatnya ekonomi Indonesia sehat kembali, banyak orang pun berharap seruan Pak Harto akan mempengaruhi pejabat tinggi lainnya. Hari-hari esok ini, diharapkan akan banyak ‘acara jumpa pers’ soal ‘sumbangan gaji’. Kalau hal ini terjadi, masyarakat akan makin mantap, kian percaya, dan tambah yakin kalau pejabat lainnya juga mengikuti seruan Pak Harto. Selain rela menyumbangkan gaji, juga jangankan harta, jiwa pun akan dipasrahkan untuk pengabdian kepada bangsa dan negara.

Sumber : KOMPAS (19/03/1998)

_________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 869-871.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.