FPP TERIMA DENGAN CATATAN

FPP TERIMA DENGAN CATATAN[1]

 

 

Jakarta, Bisnis Indonesia

FKP MPR mengisyaratkan menerima pidato pertanggungjawaban Presiden/Mandataris MPR Soeharto, sementara FPP mungkin menerima tapi, dengan catatan.

Sedangkan FPDI akan menanyakan kepada Presiden tentang pembentukan Kantor Menteri Negara Urusan Khusus yang umurnya hanya beberapa bulan.

Wakil Sekretaris FKP MPR Din Syamsudin mengatakan fraksinya tidak berpikir akan memberikan catatan terhadap pidato pertanggungjawaban Presiden/Mandatris MPR Soeharto.

“Ini akan dibicarakan di komisi nanti, FKP tidak ada alasan untuk menolak. Membuat catatan pun tidak, apalagi menolak,” kata Syamsudin di Gedung MPR/DPR kemarin.

Menurut dia, fraksinya akan membahas semua aspek pembangunan termasuk segala kekurangan dan kelemahannya.

“Segala kekurangan dam kelemahan harus disarankan, dan itu akan mewarnai GBHN.”

Wakil Ketua FPP MPR Muhammad Buang mengatakan meski partainya sudah mencalonkan H.M. Soeharto sebagai presiden periode mendatang, bukan berarti menerima sepenuhnya pidato pertanggungjawabannya selaku Presiden/Mandataris MPR.

“Itu sih masalah lain.”

Menurut dia, bisa saja fraksinya menerima dengan catatan.

“Bisa saja menerima dengan catatan, semacam minder heit nola. Tapi kami belum rapat,” katanya.

Catatan yang dimaksud, Ianjut Buang, misalnya berkaitan dengan ketahanan ekonomi Indonesia belum cukup kuat karena keseimbangan struktur ekonomi pertanian tidak tercapai. Karena itu, nantinya struktur ekonomi harus dikoreksi dengan menyeimbangkan industri dan pertanian.

Sementara itu Ketua Umum DPP PDI Soetjadi mengatakan soal diterima atau tidaknya isi pidato pertanggungjawaban tersebut, dia menegaskan masih harus dibahas terlebih dahulu.

Namun yang jelas, kata Soetjadi, fraksinya akan menanyakan kepada presiden soal pembentukan Kantor Menteri Negara Urusan Khusus yang hanya berumur beberapa bulan.

“Soal itu akan kita bawa dalam tanggapan PDI. Mosok ada kementerian hanya beberapa bulan.”

Berikut tanggapan anggota MPR lainnya mengenai pidato pertanggungjawaban Presiden/Mandataris MPR.

 

Mubyarto, anggota FKP MPR: Presiden telah mengakui bahwa bangsa Indonesia saat ini tengah menghadapi masalah krisis moneter.

Saat ini pemerintah tengah mengupayakan untuk mengatasi persoalan besar itu. Jika tidak mampu mengatasinya, bisa saja kemudian timbul krisis kepercayaan kepada pemerintah.

Bangsa Indonesia harus bersikap hemat dengan diikuti kerja keras. Jangan bersikap boros dan lupa diri serta hidup bermewah-mewah.

 

Yusril Ihza Mahendra, anggota FKP MPR: Pidato tersebut tidak dapat diusahakan dengan lampiran yang memuat secara detail pertanggungjawaban presiden.

Pidato itu hanyalah mempertanggungjawabkan GBHN secara global. Sebab setiap tahun presiden telah memberikan laporan kepada DPR.

Dengan demikian, pidato akhir jabatan Presiden itu tidak dapat mencakup seluruh aspek dan hanya memberikan tanggapan global terutama aspek yang memang sedang menjadi perhatian masyarakat, khususnya di bidang ekonomi.

 

Fadel Muhamamd, anggota FKP MPR: Pidato itu sebagian besar menjelaskan masalah ekonomi terutama krisis moneter yang sedang dihadapi.

Tugas terberat pemerintah saat ini adalah mengatasi krisis moneter agar tidak berdampak lebih luas, selain itu perlu adanya upaya untuk mengembalikan kepercayaan luar negeri. Apapun caranya yang dibutuhkan sekarang adalah sebuah angka yang pasti.

Dalam menghadapi krisis ekonomi saat ini, langkah nyata yang mungkin dilakukan adalah mengatur kembali tentang utang luar negeri swasta.

 

Thomas Suyitno, anggota FKP MPR: Beliau cukup lugas dan sportif dalam memaparkan krisis ekonomi. CBS, pada hakekatnya mencari solusi nilai tukar uang yang wajar, karena berbagai prasyarat untuk mendapatkan kurs tetap perlu dilakukan.

Tentang program IMF plus, ini harus mempertimbangkan nilai tukar uang yang tetap. CBS tidak akan begitu cepat dilaksanakan karena perlu kehati-hatian. Yang akan diberlakukan bisa kombinasi, IMF plus CBS tetapi tetap mempertahankan fungsi Bank Sentral.

(cp/en/ds)

Sumber: BISNIS INDONESIA (02/03/1998)

____________________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 145-147.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.