FPAP AKAN KAMPANYEKAN GERAKAN CINTA PRODUKSI DALAM NEGERI

FPAP AKAN KAMPANYEKAN GERAKAN CINTA PRODUKSI DALAM NEGERI[1]

 

Jakarta, Antara

Forum Pertemuan antar-Asosiasi Perusahaan Tingkat Nasional (FPAP) akan mengkampanyekan gerakan nasional cinta dan bangga menggunakan produksi dalam negeri dan gerakan gemar menabung.

“Program ini sudah mendapat restu dari Presiden Soeharto, karena itu FPAP saat ini sedang merumuskan cara yang tepat dalam mengkampanyekan produk dalam negeri.” kata Sekretaris Jenderal FPAP Wisnu H. Krestowo kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

FPAP saat ini menerjunkan dua peneliti senior, yakni Dr. Djisman Simanjuntak dan Dr. Didiek J. Rachbini untuk membantu dan merumuskan sistem mengkampanyekan produk dalam negeri termasuk mendorong masyarakat gemar menabung.

Setelah Pemilu nanti, diharapkan tim peneliti sudah mengeluarkan rumusan lengkap tentang bentuk atau sistem mengkampanyekan produk dalam negeri tersebut, katanya.

Menurut dia, tingginya nilai defisit transaksi berjalan yang mencapai rata-rata sekitar 6,9 miliar dolar AS per tahun selama tiga tahun terakhir (1994-1996), disebabkan karena impor barang Indonesia terus naik sedang ekspornya terjadi kemandekan.

“Lihat saja di pusat-pusat perbelanjaan, mata dagangan yang disajikan lebih dominan barang impor ketimbang produk lokal. Padahal produk lokal itu mutu, design dan harganya tidak kalah.” katanya.

Ia mencontohkan, batik dari Indonesia terkenal di pasaran luar, sampai Presiden Afrika Selatan pun ke mana-mana sering menggunakan batik buatan Indonesia.

“Tetapi kenapa orang Indonesia justru tidak membudayakan?” tanyanya.

Selain batik, produk sepatu dari Cibaduyut, alat-alat pertanian dari Cisaat, Jawa Barat mutunya tidak kalah dengan produk dari RRC dan Taiwan. Namun kebanyakan masyarakat lebih suka menggunakan barang impor. Akibatnya alat-alat pertanian di pasaran dibanjiri produk RRC dan Taiwan, katanya.

FPAP menilai perilaku masyarakat yang cenderung ‘mendewakan’ barang­ barang impor ini harus diluruskan. Karena itu, FPAP dalam mengkampanyekan masalah “cinta dan bangga” dengan produksi dalam negeri akan melibatkan banyak pihak, baik dari kalangan departemen, tokoh masyarakat dan para pengusaha.

Ia juga mengatakan, para pengusaha yang bergerak di sektor perdagangan, perbankan, asuransi, industri dan pertanian sudah banyak yang menyatakan kesediannya untuk mendukung program tersebut.

“Kampanye nasional cinta dan bangga produk dalam negeri itu jika berhasil, yang untung kan pengusaha. Mereka harus membantu karena selain menumbuhkan industri dalam negeri juga menciptakan semangat nasionalisme.” kata Wisnu.

Selain itu, cinta produk dalam negeri juga menjadi bagian dari proteksi barang impor yang tidak menyalahi ketentuan sistem perdagangan bebas WTO.

“Pasar dalam negeri dalam era pasar bebas menjadi bagian dari pasar Internasional. Karena itu, jika tidak ingin industri nasional gulung tikar, masyarakat harus cinta dan bangga kepada hasil produknya.” katanya.

Sumber : ANTARA (16/05/1997)

_______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 365-366.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.