FORNAS RI : PERALIHAN KEKUASAAN BELUM TUNTAS

FORNAS RI : PERALIHAN KEKUASAAN BELUM TUNTAS[1]

 

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Forum Nasional untuk Reformasi Indonesia (FORNAS RI) yang terdiri atas lembaga-lembaga umat Kristen seperti PGI, DPI dan PII menyatakan, bahwa peralihan kekuasaan dari Soeharto kepada Habibie belum tuntas, karena mandat Presiden dan Wakil Presiden belum dicabut oleh MPR.

Oleh karena itu, semua anggota DPR/MPR diimbau untuk mempelajari dengan saksama hubungan dari dasar konstitusi yang dipegang Soeharto untuk bertindak, seakan-akan tuntas dan konstitusional, yaitu pasal 8 UUD 45, tanpa menghubungkannya dengan Tap MPR tentang pasal8 UUD 45 tersebut.

Demikian rangkuman diskusi FORNAS RI 22-23 Mei, yang disampaikan moderator FORNAS RI Dr. Karel Phil Erari kepada Pembaruan di Jakarta, hari Minggu (24/5). Hadir pada diskusi itu antara lain Letjen TNI purn Leo Lopulissa, Laksamana Purn Bonar Simangunsong, Mayjen TNI purn Sembiring Meliala, Prof. Dr. Sahelapy, Dr. Stephen Tong, Dr. Paul Tahalele, Dr. Peter Sumbung dan sejumlah tokoh pemuda dari Orde Reformasi dan Forum Oikoumene.

Citra Akan Jatuh

Menurut FORNAS RI, jalan konstitusi yang patut ditempuh dalam proses peralihan kekuasaan tersebut, Presiden Soeharto mengajukan permintaan berhenti kepada pimpinan MPR, agar MPR mengadakan Sidang Istimewa untuk memutuskan memberhentikan Presiden secara terhormat. Dalam SI-MPR itulah Presiden diberhentikan secara resmi konstitusional, dan MPR dapat memilih Presiden baru. Bilamana Wapres dinilai bebas dari syarat-syarat reformasi, yakni bebas korupsi, nepotisme dan kolusi, maka terbuka kemungkinan dia dipilih jadi Presiden.

Memelihara kondisi yang sedang berjalan, apalagi dengan melakukan suatu rekayasa yang meminta DPR menerima baik transfer kekuasaan model Soeharto, maka citra pemerintah RI semakin jatuh dan tidak ada harganya di mata rakyat.

Pada bagian lain Erari mengatakan, FORNAS RI berkeyakinan bahwa mahasiswa Indonesia berhasil mengantarkan Indonesia mengakhiri abad XX, dan memasuki abad XXI dalam semangat reformasi.

Penghargaan

Oleh karena itu rakyat perlu memberi penghargaan kepada mahasiswa. Sebagai ujung tombak Reformasi Indonesia, hendaknya perjuangan murni mahasiswa tidak dinodai oleh berbagai kepentingan politik yang semata-mata melanjutkan budaya Orde Baru yang serba korup, nepotis dan kolusif. FORNAS akan menyatukan visi dan aksi bersama semua komponen reformasi di tengah masyarakat untuk membentuk suatu Aliansi Nasional untuk Reformasi Indonesia (ANRI).

Aliansi ini bertujuan untuk bersama mahasiswa dan rakyat serta ABRI mempertahankan tujuan reformasi yang secara komprehensif dan berkesinambungan, sambil menawarkan prinsip-prinsip pembaruan di segala bidang yang pro demokrasi, menjunjung tinggi kesatuan bangsa, tegaknya hukum, penghormatan atas HAM, serta pembangunan nasional yang adil dan bertanggungjawab.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (26/05/1998)

___________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 598-599.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.