Fitnah Besar Mengatakan Kawilarang Pernah Menampar Soeharto

Fitnah Besar Mengatakan Kawilarang Pernah Menampar Soeharto[1]

 

Oleh, Noor Johan Nuh

“Fitnah—Fitnah berkali-kali—Fitnah lebih jahat dari pembunuhan. Kita semua telah difitnah dan saudara-saudara telah dibunuh. Kita diperlakukan demikian. Tapi jangan kita, tapi jangan kita dendam hati. Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, iman kepada-Nya, meneguhkan kita. Karena Dia perintahkan. Kita semua berkewajiban untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.”

CUPLIKAN pidato Jenderal AH Nasution di Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) pada saat melepas jenazah enam jenderal dan satu perwira pertama, tanggal 5 Oktober 1965. Fitnah yang dilontarkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan menyebut Dewan Jenderal akan melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno, berlanjut dengan pembunuhan para jenderal yang difitnah itu oleh Gerakan 30 September (G30S) yang didalangi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sebagai tokoh tentara yang menumpas pemberontakan G30S/PKI, kemudian Pak Harto menjadi sasaran fitnah, dan fitnah itu semakin deras setelah Pak Harto menyatakan berhenti sebagai Presiden pada 21 Mei 1998.

Pak Harto difitnah memiliki simpanan jutaan dollar di Bank di Swiss. Untuk meluruskannya, ia memberi kuasa kepada Jaksa Agung Andi Galib dan Menteri Kehakiman Muladi, yang isinya memberikan kuasa kepada keduanya untuk memeriksa sekaligus mencairkan di Bank di Swiss tentang simpanan yang didesas-desuskan (fitnah) itu. Keduanya berangkat ke Swiss dan ternyata tidak menemukan. Sayangnya dua pejabat tinggi di era Presiden BJ Habibie ini tidak pernah memublikasikan ke masyarakat hasil pelacakannya itu sehingga fitnah itu masih saja bergentayangan.

Juga disebut masa kepemimpinan Pak Harto era Orde Baru sebagai pelanggar HAM. Faktanya, selama Orde Baru, tidak terjadi perang antar agama seperti di Ambon dan Poso (1999). Tidak ada pengeboman di gereja yang dikenal sebagai bom natal (2000). Tidak terjadi pembantaian dukun santet di Banyuwangi (2001).Tidak terjadi perang antar suku seperti terjadi di Sampit (2001). Tidak terjadi bom Bali (2002 dan 2005). Bom Kedutaan Australia (2004).

Ditampar Tanpa Sebab?

Dalam tulisan berjudul “Sosok Ini Berani Tampar Soeharto Saat Masih Prajurit, Begini Nasibnya Saat Pak Harto Jadi Presiden” yang ditayang di TribunBatam.id tanggal 20 April 2020, artikel yang telah tayang di sripoku.com berjudul “Sosok Alex Kawilarang Satu-satunya Prajurit TNI Pernah Tampar Presiden Soeharto”, adalah tulisan yang tidak akurat dan tidak kredibel.

Dituliskan ;

“Penempelengan tersebut terjadi Ketika Kawilarang menjabat sebagai Panglima selaku atasan dari Letkol Soeharto. Pada 1951-1956, Kawilarang diangkat sebagai Panglima Komando Tentara dan Teritorium VII/Indonesia Timur (TTIT) di Makasar.”

Dalam buku AE Kawilarang—Untuk Sang Merah Putih, ditulis Ramadha KH, di halaman 219 ;

“Pada bulan September seluruh pasukan ekspedisi Brigade Garuda Mataram dipimpin Letnan Kolonel Soeharto Kembali ke Jawa Tengah, karena memang tugasnya rampung sudah”.

Waktu isu penamparan  itu tidak tepat,  menyebut ketika Kawilarang menjabat Panglima tahun 1951-1956, sedangkan di buku Kawilarang disebut Letnan Kolonel Soeharto dan pasukan Brigade X meninggalkan Makassar September 1950.

Dituliskan ketika pemberontakan PRRI/Permesta meletus, Kawilarang yang pada waktu Atase Militer di Amerika mengundurkan diri, dan kemudian bergabung dengan PRRI/Permesta. Setelah pemberontakan itu dapat ditumpas, melalui Keppres 322/1961, nama baik Kawilarang dipulihkan akan tetapi pangkatnya diturunkan dalam dinas TNI menjadi Kolonel Purnawirawan.

Kawilarang yang sebelum menjadi Atase Militer di Amerika adalah Panglima TT III Siliwangi, pangkatnya adalah Kolonel. Pada waktu itu yang menyandang pangkat Jenderal hanya KSAD AH Nasution. Jadi, tidak betul pangkat Kawilarang sebagai Kolonel Purnawirawan itu karena diturunkan pangkatnya.

Ditampar Kata Sri Bintang Pamungkas       

Dalam tulisan di tirto.id berjudul Alex Kawilarang : Perintis Kopassus yang Menampar Soeharto, oleh Agung DH,  editor Ign. L Adhi Bhaskara, tanggal 6 Juni 2019, ditulis ; Ketika Alex menemui presiden, pada 5 Agustus, ternyata markas Soeharto di Makassar diserang pasukan Andi Azis. Pasukan Soeharto kocar-kacir. Hal inilah yang membuat Kawilarang naik pitam. Menurut Sri Bintang Pamungkas dalam Ganti Rezim Ganti Sistem—Pergulatan Menguasai Nusantara (2014), Alex Kawilarang sempat menampar Soeharto.

Ternyata tulisan diberi judul bombastis itu, tentang penamparan  mencomot dari tulisan Sri Bintang Pamungkas. Apa kapasitas Sri Bintang dalam sejarah hingga tulisannya layak dikutip? Lalu, Apa Sri Bintang Pamungkas sejarawan? Dari mana Sri Bintang mengetahui peristiwa itu? Layakkah berita yang masih sumir dikutip?

Kok “Anonim” Jadi Sumber David Jenkins?

Mengenai isu penamparan ini ditulis oleh wartawan senior yang menjunjung tinggi kaidah jurnalistik, chek and rechek, cover both sides,  sekaligus sebagai penulis sejarah, yakni Hendi Johari—di HistoriA menulis ;

“Misteri Penamparan Soeharto.”

Peristiwa itu masih misteri, bukan sebagai fakta. Dalam tulisannya, Hendi sempat menanyakan langsung pada Kawilarang pada saat peluncuran buku “Indonesia Memasuki Milenium III : Gagasan dan Pemikiran Edi Sudrajat”, di Gedung Maggala Wanabakti, dia bertemu dengan Kawilarang dan menanyakan tentang misteri penamparan itu.

“Kamu dapat berita itu dari mana?”, tanya Kawilarang. Tanpa menunggu jawaban, Kawilarang langsung ngeloyor.

Hendi juga sempat menanyakan pada Aloysius Sugianto, mantan ajudan Letnan Kolonel Slamet Riyadi, yang pada Agustus 1950 bertemu dengan Kawilarang dan Soeharto, saat singgah lebih dahulu di Makassar dalam tugas menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS).

Aloysius menyaksikan prajurit Brigade Garuda Mataram hendak Kembali ke Jawa, membawa banyak barang yang diduga hasil rampasan perang, di Pelabuhan Makssar.

“Yang saya tahu, soal barang-barang itu, Kolonel Kawilarang sempat merasa tidak suka dan menegur keras Pak Harto”, ujar Aloysius.

Kepada David Jenkins, penulis buku Soeharto and His Generals: Indonesian Military Politics, 1975-1983, dialihbahasakan menjadi Soeharto & Barisan Jenderal Orba, Rezim Militer Indonesia, 1975-1983—Kawilarang pernah menegur Soeharto namun tidak sampai melakukan penamparan.

Namun saksi “anonim” yang dikutip di buku Jenkins, menyebut bahwa penamparan itu memang terjadi dan malah disaksikan oleh M Jusuf, seorang perwira dari Bugis yang kemudian menjadi Panglima ABRI.

“Kolonel Alex Kawilarang menampar Letnan Kolonel Soeharto karena kesalahan besar yang dibuat oleh pasukan yang dipimpin Soeharto,” tulis Jenkins.

Kawilarang Membantah Menampar Soeharto     

Pengakuan Kawilarang kepada jurnalis Kelik M Nugroho dimuat di majalah TEMPO, edisi 10 Mei 1999, berkelindan dengan pernyataan Aloysius Sugianto dan tulisan David Jenkins. Kawilarang menyangkal cerita soal penamparan itu yang katanya baru muncul 1970-an.

“Wah, itu tidak benar. Saya tidak tahu mereka memutarbalikan cerita itu,” ujar Kawilarang.

Yang benar, ujar Kawilarang, penamparan itu justru dilakukan oleh Soeharto. Korbannya adalah Letnan Parman, salah seorang anak buah Kawilarang.

Isu penamparan Soeharto itu juga sempat didengar oleh Letnan Jenderal (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo, Wakil Kepala Staf Angkatan Darat periode 1973-1974. Kepada Martin Sitompul dari Historia, Sayidiman menyatakan kejadian itu merupakan sebuah kemustahilan dan orang-orang yang menuliskannya hanya bermaksud mencari sensasi.

Sayidiman : Tidak Mungkin Komandan Brigade Ditampar

Sayidiman yang adalah prajurit Siliwangi,  mengenal baik Soeharto dan Kawilarang.  Di lingkungan Siliwangi,  sejak dipimpin AH Nasution hingga Ibrahim Adjie, tidak ada ceritanya panglima menampar anak buah. Terlebih orang yang ditampar itu memiliki jabatan yang tidak rendah : Komandan Brigade.

Malah Kawilarang bercerita kepada Sayidiman bahwa ia memuji kepemimpinan Soeharto selama bertugas di Sulawesi Selatan. Jadi jika dia menampar Soeharto, itu bukan gaya seorang Kawilarang.

Hubungan Kawilarang dengan Soeharto di masa tua relatif baik. Mereka kerap berkomunikasi dan saling berkabar.

Pak Harto Beri Bintang Gerilya ke Kawilarang    

Pada awal 1990, Gubernur Jawa Barat waktu itu Yogie S Memet yang adalah mantan ajudan Kawilarang, memberi kabar kepada Pak Harto bahwa Kawilarang jatuh sakit dan dirawat di salah satu rumah sakit di Bandung.

Yogie juga memberitahu bahwa Kawilarang sebagai pejuang Perang Kemerdekaan, belum dianugerahi Bintang Gerilya.  Maka jadilah penganugerahan Bintang Gerilya kepada Kawilarang di rumah sakit.

“Kalau tidak sakit, mungkin saya tidak akan mendapatkan Bintang Gerilya,” ujar Kawilarang sambil tertawa.

Juga fitnah yang masih bersileweran tentang pernyataan ex Kolonel Latief, bahwa ia bertemu dan melapor kepada Mayor Jenderal Soeharto sebelum pemberontakan G30S/PKI.

Fitnah ex Kolonel Latief          

Mengenai pertemuan itu Pak Harto tidak membantah. Latief  berasal dari Kodam Diponegoro dimana Pak Harto pernah menjadi Panglima di Kodam itu. Kedatangan Latief menanyakan tentang isu Dewan Jenderal, dan Pak Harto menjelaskan bahwa ia salah seorang anggota Dewan Jenderal,  tugasnya meneliti dan memberi penilaian pada kolonel yang akan dipromosi menjadi jenderal.

Secara hirarki militer, Mayor Jenderal Soeharto bukan atasan langsung dari ex Kolonel Latief. Latief sebagai Komandan Brigade di bawah komando Kodam V, maka atasannya adalah Panglima Kodam V Mayor Jenderal Umar Wirahadikusuma. Maka secara hirarki militer pula, Latief seharusnya melapor ke Umar.

Kolonel Sarwo Edhi Wibowo yang adalah sahabat dari Jenderal Yani, pasti akan bertindak jika Mayor Jenderal Soeharto mengetahui rencana G30S/PKI atau ikut berkonspirasi. Juga Jenderal Nasution, satu-satunya yang lolos dalam pembunuhan itu, pasti akan membalas pada Soeharto jika yang dikatakan Latief itu benar, karena pemberontakan G30S/PKI telah membunuh anak dan ajudannya.

Berhenti menyebar fitnah, tulis sejarah dengan argumen, bukan dengan kumpulan dendam dan sentimen. ***

Sumber : Cendana News (25 April 2020 – 21:12)

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.